RUNTUHNYA NURANI! BERKUASANYA KESERAKAHAN!

Pujianto-Informasi tentang bahaya dan penyebaran virus corona ternyata mampu meruntuhkan nurani orang-orang tertentu. Nurani mereka hilang manakala mereka melihat adanya peluang. Peluang yang dapat mereka rengkuh untuk memuaskan hasrat mereka. Peluang itu bisa berupa uang, jabatan, atau pemenuhan rasa penghargaan atas diri pribadi. Sayangnya banyak orang tidak mencapai peluang tersebut cara yang benar. Mereka mencapai peluang tersebut dengan cara yang memalukan. Mereka tidak peduli jika peluang itu capai di atas penderitaan orang lain.

Contohnya stasiun TV yang terkenal oon. Kita semua tentu tahu stasiun ini sangat provokatif dalam mencari berita. Reporterv Stasiun ini dengan gegap gempita menyiarkan secara langsung dari Depok dengan menggunakan masker cat body painting. Laporang langsung ini dilakukan dari lingkungan rumah dua pasien positif corona, di perumahan Studio Alam Indah, Depok.

Apa yang dilakukan TVoon ini benar-benar tidak memperdulikan perasaan mereka yang melihat. Reporter atau pastinya pemilik TV oon hanya peduli akan rating yang bisa ia capai tetapi tidak peduli akan dampak dari siaran langsung yang ia tayangkan. Dampaknya adalah ketakutan. Masyarakat luas jadi semakin takut setelah mendengar berita yang ia siarkan. Jadi tidak heran bila terjadi panic buying. Masyarakat berlomba-lomba melakukan pembelian masker, sanitizer dan juga bahan makanan dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Lebay amat ya TVoon ini dalam usahanya menaikkan rating.

Lain TVoon, lain TEMPE. Kita semuanya tentu tahu bahwa TEMPE itu pada masa lalu merupakan majalah yang terkenal akan kualitas peliputan beritanya. Sayangnya akhir-akhir ini kualitas pemberitaan TEMPE sudah sangat jauh merosot. TEMPE terilhat sangat berpihak. Ia sangat berani mengkritik JKW. Ia bahkan tidak segan-segan mengambarkan JKW sebagai pinokio, yang dalam hal ini sebagai JKW dianggap sebagai pembohong. Untuk lebih jelasnya klik link berikut ini TEMPO Yang TEMPE

Nah sekali ini TEMPE melakukan kesalahan yang sangat serius. Ia memberitakan hoax Paus Fransiskus terkena Corona. Dasar pemberitaannya diambil dari situs MCM News (mcmntdotcom). Situs ini memberitakan kondisi Paus Fransiskus dengan judul “Vatican confirms Pope Francis and two aides test positive for Coronavirus” atau yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia: “Vatikan mengkonfirmasi Paus Francis dan dua pembantunya positif mengidap Coronavirus”. Sayangnya situs ini bukanlah situs berita yang kredibel melainkan situs berita abal-abal.

Ini yang menyedihkan. Majalah sekelas TEMPE kok ya bisa ambil berita dari situs abal-abal. Udah itu tidak melakukan re check lagi. Padahal re check itu kan mudah banget dilakukan. TEMPE tinggal telpon aja ke kedubes Vatikan yang di Indonesia lagi. Atau hubungi petinggi Konferensi Wali Gereja. Selesai.

Ampun dah, sesat saya jadinya. Kok ya bisa ya majalah sekelas TEMPE menaikkan berita tanpa cover both side. Memang sih kalau benar Paus Fransiskus terkena Corona, maka akan terjadi lonjakan oplah atau pun pengunjung situs majalah TEMPE dan ini artinya ada pemasukkan. Tetapi kalau mau naikkan oplah atau pun jumlah pembaca mbok ya jangan seperti itu lha ya. Sesat jadinya saya.

Yang lebih parah, Pemrednya itu anggota Dewan Pers. Mestinya kualitas liputannya lebih baik, kok malah terbalik ya. Lalu dimana fungsi Pemred. Apakah mentang-mentang Pemrednya itu anggota Dewan Pers terus TEMPE bisa membuat hoax??? Nah ini pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh Dewan Pers itu sendiri. Kok bisa Dewan Pers tutup mata atas pelangaran yang dilakukan oleh majalah TEMPE mau pun TVoon. Jika Dewan Pers berdiam diri, lalu apa gunanya dia ada. Sama seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Sama-sama ompong.

Nah, yang terakhir adalah Wan Abud. Guberner yang legendaris. Legendaris karena kebodohannya. Alih-alih mau jadi pahlawan bagi warganya, ia malah menuai kecaman. Ceritanya ia mau menolong warganya yang kesulitan masker. Untuk itu ia memerintahkan bawahannya PD Pasar Jaya untuk menjual masker senilai Rp. 300.000,- per box. Padahal harga per box jika kondisinya normal adalah Rp. 30.000,-.

Alasan PD Pasar jaya menjual dengan harga segitu karena belinya sudah mahal. Ia beli saat sudah terjadi krisis. Entah ini benar atau tidak, sebab pernyataan ini dikeluarkan setelah ada protes keras dari anggota DPRD DKI. Apa yang ia lakukan sebenarnya mengingkari apa yang ia katakan sebelumnya bahwa ia lebih mementingkan keselamatan warganya dalam penanganan infeksi Virus. Demi untuk meningkatkan citranya, Wan Abud tidak segan-segan menari di atas penderitaan warganya. Ia memanfaatkan kesusahan wargabnya untuk bisa mendapatkan citra yang baik. Oh ya mestinya Wan Abud atau pimpinan PD Pasar Jaya tu ditangkap ama polisi karena menimbun masker dan menjualnya dengan harga mahal???

Anggota Fraksi PSI DPRD DKI Eneng Maliansari menilai tindakan tersebut bukannya menolong masyarakat tetapi malah menyengsarakan. Mestinya Wan Abud menggratiskan atau mensubsidi penjualan masker seperti yang dilakukan oleh Risma, Walikota Surabaya rasa Gubernur. Risma mampu memprediksi konksekuensi dari penyebaran Virus. Itu sebabnya ia tidak segan menimbun masker dalam jumlah banyak. Untuk ia jual? Jawabnya tidak. Untuk ia bagikan gratis bagi masyarakat Surabaya. Beda kan ama Wan Abud.

Jelas bukan. Mana yang punya nurani dan mana yang tidak punya nurani. Penderitaan dan kesusahan membuka mata kita tentang apa itu nurani. Selain itu membuka mata kita tentang siapa yang patut jadi panutan dan mana yang tidak. Mana yang pencitraan dan mana yang tulus. Mana yang bekerja untuk kepentingan masyarakat dan umat dan mana yang berkerja untuk kepentingan diri sendiri.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to RUNTUHNYA NURANI! BERKUASANYA KESERAKAHAN!

  1. Pingback: buy fullz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *