MUJAHID 212 DAN GEROMBOLAN TAKUT AHOK

Mora Sifudan-Mujahid 212 Dan Gerombolan Takut Ahok

Ahok sudah menjalani masa hukuman atas tuduhan penistaan agama. Dia juga sudah terbukti tidak punya rekam jejak korupsi di DKI ketika jadi gubernur. Bahkan dia dianggap sebagai salah satu gubernur dan pemimpin Jakarta. Tetapi sepertinya, sudah menjadi takdir Ahok ditakuti oleh kalangan tertentu.

Adalah Mujahid 212 yang kembali mempermasalahkan Ahok. Mereka menolak Ahok dijadikan sebagai pemimpin ibu kota baru. Tentu saja keberatan mereka didasarkan pada tuduhan-tuduhan tak berdasar yang dianggap sebagai sesuatu yang otentik, yaitu korupsi Ahok ketika menjabat sebagai gubernur DKI.

“Kami butuh sampaikan statement bahwa apabila DPR RI sebagai wakil rakyat menyetujui kepindahan ibu kota negara ini, dan sebagai calon kepala daerahnya adalah Ahok, maka kami katakan dan nyatakan secara tegas, kami menolak keras Ahok lantaran fakta-fakta pribadi Ahok merupakan seorang jati diri yang memiliki banyak masalah, Ahok perlu kejelasan hukum atas masa lalunya selaku wagub dan gubernur DKI periode sebelum Anies (referensi laporan Ahok oleh Marwan Batubara ke KPK maupun statement lewat media termasuk orasi-orasi ke publik)”. (Ketua Korlabi Damai Hari Lubis, Detik)

Kalau Ahok memang terjerat kasus korupsi, ya silakan laporkan. Itu saja kog sulit bangat? Tidak perlu juga teriak-teriak demo menolak Ahok segala. Seolah-olah mereka ini adalah pemegang tampuk kekuasaan. Masih tukang demo saja sudah merasa sebagai penguasa, apalagi mereka dijadikan pemimpin, bisa jadi semaunya sendiri.

Selain itu, sudah pasti kasus penistaan agama akan selamanya melekat kepada Ahok dan dijadikan senjata untuk menjatuhkannya. Meski sebenarnya sudah tidak relevan dan tidak pantas. Toh Ahok sudah menjalani hukumannya dengan sebaik-baiknya.

“Sementara Ahok jelas pribadi yang rawan, karena faktor trust yang banyak melilit dirinya. Bahkan issue untrusting dimaksud adalah terkait dengan lembaga anti rasuah alias KPK bersumber dari bukti autentik, bukti yang dikeluarkan oleh lembaga negara (BPK). Bahkan data tak terbantahkan salah satunya biografi Ahok, dirinya berstatus eks napi, karena fakta hukum Ahok dulu menistakan Al-Qur’an, kitab suci umat muslim, umat mayoritas negeri ini, dengan modus ‘menghina’ surah Al-Maidah ayat 51.” (Ketua Korlabi Damai Hari Lubis, Detik)

Kebencian mereka ini terhadap sepertinya tidak ada habis-habisnya. Padahal Ahok sendiri sudah tidak mengungkit-ungkit masalah yang dulu pernah dialaminya. Sekarang Ahok sudah fokus bekerja di Pertamina. Bahwa kemudian dia dianggap pantas memimpin ibu kota yang baru, itu bukan urusan dia dan bukan kemauan dia. Orang lainlah yang menganggap dia pantas sebagai pemimpin.

Mengenai sikap Ahok yang memang terkesan keras dan arogan terhadap penjahat, ya itu sah sah saja. Dia memang kasar kepada penjahat, tetapi lembut kepada mereka yang benar. Kalau tidak ada alasan untuk marah, Ahok juga tidak akan marah. Malah dia lebih tampak sebagai pelawak.

Dengan alasan tidak jelas dan tidak berdasar Mujahid 212 menolak Ahok sebagai pimpinan ibu kota baru menandakan bahwa penolakan ini bukanlah motif utama. Motif mereka ini adalah untuk merawat kegaduhan di negeri ini dengan Ahok sebagai biang keroknya.

Hal ini tampak ketika sebelum Ahok jadi komisaris Pertamina. Sudah ada demo penolakan. Dengan alasan inilah, itulah. Tidak jelas dan tidak berdasar. Selalu saja alasan penistaan agamalah, penistaan Al Quranlah. Semua itu tidak masuk akal seolah keberadaan Ahok membuat Pertamina makin bobrok. Dan terbukti sekarang keberadaan Ahok di Pertamina memberi harapan baru pada perusahaan pelat merah itu untuk berbuat lebih banyak pada negeri ini.

Mereka ini benar-benar takut Ahok. Ahok diam saja, mereka sudah ketakutan, apalagi jadi pimpinan ibu kota negara yang baru, bisa-bisa bunuh diri berjemaah.

Dari pada menolak Ahok sebagai pemimpin ibu kota baru, sebaiknya Mujahid 212 menyiapkan kadernya menjadi calon-calon pemimpin masa depan. Dan tentu saja, mempersiapkan pemimpin masa depan itu tidak bisa dilakukan di jalanan melalui demo besilit-silit. Pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini bukan pemimpin yang jago teriak di jalanan, tetapi melempem di lembaga negara. Yang jago teriak di jalanan itu hanya provokator saja, apalagi sedari muda kerjanya sudah demo demi nasi bungkus.

Mereka iri pada Ahok, tetapi mereka sendiri tidak tahu diri. Dikiranya hanya bela-bela agama sudah cukup jadi pemimpin. Hey ndrun….. Suruh anakmu belajar tinggi-tinggi, jangan dibawa demo, biar nanti punya kemampuan jadi pemimpin di negeri ini, bukan jadi pemimpin yang melarikan diri ke luar negeri.

Salam dari rakyat jelata

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *