MARI KITA “TAMPAR” MULUT ORATOR DEMO KEDUBES INDIA DENGAN INI!

Eko Wibowo-Hari Jumat, hari demo di Indonesia. Layak untuk disebut menjadi Hari Demo Nasional. Selain tanggal cantik, Jumat pasca Jumatan menjadi waktu afdhol bagi mereka yang mempunyai kerja sampingan sebagai pendemo.

Untuk masalah apa saja. Hari Jumat menjadi pilihan favorit mereka. Semua dimulai semenjak apa yang menimpa Ahok/BTP yang fenomenal itu. Saat itu mereka beruntung mendapat perhatian yang begitu banyak hingga pada puncaknya membuat Ahok/BTP gagal memperpanjang durasinya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Seiring waktu, antusiasme demo yang sering mereka lakukan semakin tidak menarik. Para alumni kembali ke dunianya masing-masing.

Tapi tidak dengan para dedengkotnya. Kenapa? Karena dunia nyata yang mereka miliki ya memang menjual masalah yang dipermasalahkan kemudian dikemas untuk dijadikan tema demo. Dunia mereka memang dunia demo. Seakan-akan keberpihakan mereka hanya bisa diperlihatkan dengan melalui adanya demo. Seakan-akan masalah akan selesai bila sudah melakukan demo. Ujung-ujungnya pasti: menyalahkan Presiden Jokowi!

Tapi ya ndak apa-apa. Selain fenomena Tik-Tok, kegiatan mereka adalah salah satu yang membuat Indonesia menjadi lebih hidup. Lanjutkan!

Terbaru, mereka mencoba peruntungan kembali saat ada masalah di India. Persekusi terhadap warga negara India Muslim oleh mereka yang Hindu. Rusuh.

Setidaknya sudah 42 orang tewas akibat kerusuhan yang terjadi di Delhi, India. Kerusuhan itu terjadi ketika kelompok ultranasionalis Hindu menyerang peserta aksi damai penuntut amandemen undang-undang kewarganegaraan.

Selain 42 tewas, 200 orang lainnya terluka selama tiga hari kericuhan. Para perusuh mengamuk, membunuh, merusak properti, menjarah, dan membakar sebuah masjid.

Semua berawal ketika kelompok muslim India menganggap UU amandemen kewarganegaraan (CAA) yang disahkan Desember 2019 lalu, diskriminatif dan bertentangan dengan etos sekuler negara India.

Nah, dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar India, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2020) siang, salah satu orator dari massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan rekan-rekannya, menyindir sikap pemerintah Indonesia yang dinilai tidak membela umat muslim tertindas di dunia.

Orator itu berteriak, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat bersikap cepat tanggap ketika virus corona atau COVID-19 mewabah China, sementara ketika muslim di India ditindas, Jokowi terkesan lamban bersikap.

“Saudara sekalian, coba bayangkan ketika China diobrak-abrik oleh Corona, dia (Jokowi) telfon presiden China (mengatakan) kami akan membantu. Tapi ketiak Muslim Uighur dibantai mingkem, cicing wae, ngedokem, ketika Muslim India dibantai diam, ketika Muslim Rohingya dibantai diam, giliran China diserang corona kami siap membantu, itulah presidennya bapak-bapak sekalian,” katanya.

Tuh kan! Nyalah-nyalahin Pak Jokowi lagi.

Sudah kuduga!

Tapi sekali lagi ya ndak apa-apa. Namanya juga demokrasi. Namanya juga kebebasan berpendapat. Yang pintar-waras-dan asyik punya kebebasan yang sama dalam bersuara dengan mereka yang goblok-ngamukan-ngawuran-dan menyebalkan. Bebas!

Ning, tidak ada salahnya kalau orang-orang ngawur itu sesekali perlu dikasih “tamparan”. Agar kalau bisa ya menjadi sadar. Namun kalau memang tidak bisa menjadi sadar, ya setidaknya virus “Gob-212: Penyebab kengawuran ala 212”, tidak dibiarkan bebas berkeliaran.

Mana “tamparan” itu?

Ini!

Terkait Rohingya, peran serta Indonesia dalam upaya penanganan konflik dan krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, mendapatkan apresiasi dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Sekjen PBB mengapresiasi kontribusi dan kerja sama Indonesia dengan PBB selama ini dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (28/9/2017).

Indonesia, menurut Menlu Retno Marsudi terlibat dalam diplomasi untuk bantuan kemanusiaan dalam kunjungannya ke Myanmar dan Bangladesh awal September 2017 lalu.

Sementara terkait Uighur, Indonesia menempatkan diri sebagai penengah. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyatakan, pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno L Marsudi telah lama menempuh langkah diplomasi terhadap pemerintah China menyangkut kisruh etnis muslim Uighur di Xinjiang. Pak Mahfud juga menegaskan, dalam persoalan Uighur ini, peran Indonesia adalah sebagai penengah.

“Kita menjadi penengah dan mencari jalan yang baik, bukan konfrontatif gitu ya,” ujar Mahfud di Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Nah sudah jelas bahwa Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Jokowi tidak “mingkem, cicing wae, atau ngedokem”, seperti teriakan orator pengidap Gob-212 itu. Indonesia berperan nyata dan terukur dalam setiap permasalahan dunia.

Lalu, apa peran FPI, 212, dan konco-konconya dalam setiap masalah itu? Apa bukti nyata karya mereka?

Paling-paling demo dan teriak paling kencang menyalahkan Indonesia! Dan sepertinya, sebenarnya mereka ini sedang memperjuangkan kepentingan diri dan kelompoknya saja!

Oiya, kira-kira Jumat depan demo apalagi ya???

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *