AHOK 3 BULAN DI PERTAMINA BANYAK GEBRAKAN, ANIES 3 TAHUN DI DKI BANYAK…?

Rinto Simorangkir-Emas akan tetap menjadi emas sekalipun dia ditempatkan dimanapun. Dengan kondisi bagaimanapun, tekanan yang sekeras apapun tidak akan pernah mengubah emas menjadi suatu benda yang lain atau berubah menjadi yang lain. Dimasukkan ke lumpur, emas akan tetap emas, bahkan sekalipun dimasukkan ke septic tank, orang yang tahu emas dimasukkan ke situ akan berupaya mencari emas tersebut di dalamnya.

Karena apa? Karena nilainya yang berharga tidak takut kepada inflasi atau penurunan nilai. Mengalahkan nilai uang karena nilai emas sekarang akan tetap sama nilainya atau bahkan lebih tinggi lagi di sepuluh tahun mendatang. Sedangkan nilai uang sekarang akan sangat jauh kurang nilainya di sepuluh tahun mendatang.

Mungkin ibarat inilah nilai antara Ahok dan Anies di dalam masa-masa mereka. Ahok kian lama nilainya kian naik, Anies kian lama nilainya kian merosot. Hal tersebut bisa kita buktikan dari rekam jejak mereka di tiga tahun belakangan ini.

Di tiga tahun yang lalu persis Ahok sudah menyelesaikan masa-masa kepemimpinannya di DKI Jakarta. Tapi bagaimana torehan yang dilakukan Ahok di DKI Jakarta, ada banyak legasi yang begitu dinikmati orang DKI saat ini. Mulai dari jalan layang Semanggi, hingga banyaknya objek wisata yang baru, seperti waduk Ria Rio, dan lainnya.

Permasalahan banjir meskipun ada, akan cepat surutnya. Tapi sekarang, banjir DKI bukan hanya peristiwa tahunan tapi sudah mingguan di DKI Jakarta. Hingga menyuruh warganya untuk tetap bersyukur dan menikmatinya.

Itu masa lalu, yang lalu biarlah berlalu. Tidak lupa fokus kepada masa kini dan masa depan. DKI Jakarta kini sudah hampir tiga tahun dipimpin oleh Anies Baswedan. Bisa dipastikan ada yang baik, menurut beliau yang sudah dia kerjakan. Mulai dari pembangunan jalan khusus bersepeda, maupun khusus pejalan kaki, tapi sebentar-sebentar rute jalan tersebut dirombak ulang, dipasang ulang lagi. Sehingga niatanya mungkin habis-habisin anggaran DKI Jakarta saja.

Bagaimana anggaran lem aibon yang terbongkar, anggaran pulpen yang selangit, hingga anggaran pembangunan untuk bambu mesum, batu brojong, dan lain-lain tak akan pernah lupa di mata kita.

Mencoba merusak cagar budaya yang juga merupakan ikon kebanggaan Indonesia dan bukan hanya DKI Jakarta saja, yaitu tugu monas. Dengan menumbangkan ratusan pohon yang sudah hampir ratusan tahun, bangun jalan dan merusak cobblestones peninggalan Soekarno dengan aspal buatan Anies untuk perhelatan yang tak penting-penting amat dibuat disana. Dan memang jika tetap ngotot kenapa tidak dipinggiran kota DKI Jakarta saja, seperti di Ancol?

Terupdate tentang Anies soal masalah virus corona. Bagaimana niatannya yang justru ingin cari untung di tengah-tengah kondisi merebaknya virus tersebut. Yakni dengan jualan masker seharga10 kali lipat dari harga normal sebesar Rp.30 ribuan. Meskipun kini akhirnya tetap dijual seharga kurang lebih setengah dari Rp.300-an ribuan tersebut. Tentu pemasukan pemprov dengan jualan barang yang kini tiba-tiba berharga tersebut akan menambah kas pendapatan mereka.

Tapi bagaimana dengan Ahok? Bukan bermaksud untuk membesar-besarkan Ahok, tapi memang kinerja dan capaian kerjanya betul-betul maksimal dan betul-betul terasa bagi banyak orang. Mulai dari dirinya yang kini tetap dipakai sebagai sosok Komut Pertamina dilantik sekitar 3 bulan yang lalu. Kini namanya pun masuk dalam daftar orang yang akan membangun pusat Ibu Kota Baru di Kalimatan Timur dan Penajam Paser Utara. Artinya sekalipun dirinya sudah mantan narapidana, sosok dirinya masih dipakai dan bahkan masih dicari-cari oleh bangsa ini. Anies nanti usai tidak menjabat, jadi apa???

Masalah capaian kinerjanya yang kini jadi Komut Pertamina. Minimal ada tiga hal yang sudah beliau kerjakan di tiga bulan masa dirinya menjabat disana. Pertama, masalah transparansi untuk proses tender di PT Pertamina sudah bisa lewat online. Atau website dari PT Pertamina sendiri. Dimana bisa dilihat bagaimana tahapannya, dan siapa pemenang proyek tersebut, bisa kita ketahui bersama. Bisa kita awasi juga jika seandainya ada penyelewengan. Mirip-mirip dengan e-budgeting sewaktu di DKI lalu.

Kedua, aplikasi my pertamina kian diminati banyak orang. Sebab syarat baru jika orang ingin berfoto dengan Ahok maka harus menunjukkan aplikasi tersebut baru akhirnya berfoto. Juga di tiap-tiap kesempatan, Pak Ahok selalu tawarkan applikasi tersebut dimanapun. Sebab memang ada banyak juga promo-promo yang tersaji disana. Disamping memang tujuannya membuat sistem pembayaran di PT Pertamina tidak lagi dengan uang tunai, dengan my pertamina, pembayaran bisa lewat non tunai.

Ketiga, mengembangkan wirausaha-wirausaha baru tersistem dan terpercaya kepada masyarakat yang ingin berkolaborasi dengan PT Pertamina. Yakni melalui Pertashop. Masyarakat bisa mengajukan diri untuk membuka layanan distribusi minyak di lingkungan desa atau kecamatannya. Pengajuannya bisa secara online ataupun datang ke SPBU terdekatnya minimal sejauh 10 km.

Ada tiga kategori bisnis di Pertashop tersebut, mulai dari jenis gold bisa menjual hingga 400 liter per hari, jenis Platinum menjual hingga 1.000 liter per hari. Dan jenis Diamon dengan maksimum penjualan perharinya mencapai 3.000 liter perhari. Dan untuk membukanya juga dipermudah, masyarakat bisa berinvestasi sendiri, atau pertamina duluan juga siap. Asal sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan oleh PT Pertamina.

Artinya dengan program ini, visi pertamina akan tercapai, yakni One Village One Outlet. Hal ini juga dipercaya akan mampu mendongkrak perekonomian di desa, baik koperasi maupun bumdes-nya. Membangkitkan UKM-UKM baru dan tersebar di seluruh kecematan di Indonesia.

Jadi jika membandingkan dua sosok ini, Ahok dan Anies, tentu akan jelas dimata kita mana punya niat membangun dan mana punya niat menghancurkan? Kemudian saat Ahok bisa membangun banyak hal meskipun dalam waktu tiga bulan, Anies dalam waktunya 3 tahun dan masih akan ada dua tahun lagi, kira-kira DKI akan jadi seperti apa?

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *