ISTIMEWANYA SEORANG AHOK, HARUS DISIAPKAN BEBERAPA KELOMPOK UNTUK MENJEGALINYA

Jaya Surbakti-Dalam pertandingan sepak bola, sudah ketentuannya bahwa jumlah pemain antara kedua klub yang bertanding adalah sama, sama-sama sebelas orang. Makanya disebut kesebelasan. Tidak boleh lebih, kalau lebih disebut kebablasan, hahaha. Berarti ada pemain yang tanpa ijin nongol di lapangan.

Sebelas berbanding sebelas ini pada umumnya memiliki kekuatan yang lebih kurang sama, sehingga normalnya, satu orang pemain akan berhadapan dengan satu orang pemain lawannya. Namun berbeda bila yang dihadapi itu adalah pemain-pemain istimewa, seperti Ronaldo, Messi dan lain-lain.

Kadang dianggap bukan satu aib bila pelatih klub menyiapkan beberapa orang untuk menjegal pergerakan mereka. Bisa satu, kadang dua, bahkan tidak jarang dia harus berulang kali dijegal oleh lebih dari tiga orang dalam akselerasinya menciptakan gol.

Istimewa ya, Ronaldo dan Messi?

Tapi tidak lebih istimewa jika dibandingkan dengan Ahok. Ahok ini sudah sedari dulu selalu disiapkan kelompok-kelompok untuk menjegal apapun langkah yang dilakukannya demi memberi sumbangsih buat negeri. Tidak cukup satu, kadang datang berbondong-bondong sekaligus 5 kelompok besar. Itu belum termasuk pribadi-pribadi yang mengaku terlepas dari kelompok-kelompok itu.

Lihat saja saat dia maju sebagai wakil gubernur DKI, saat menjadi gubernur, saat menjadi Komisaris Utama Pertamina, bahkan sekarang saat diwacanakan menjadi pemimpin IKN (Ibu Kota Negara), kelompok ini selalu berusaha menjegal mereka. Dan, lucunya, kelompok yang bersuara adalah kelompok yang itu-itu saja. Makanya saya berkesimpulan, Ahok memang sengaja disiapkan oleh pihak lawan, “pemain-pemain” yang sengaja mengganggu konsentrasinya dalam melangkah.

Itu harus dilakukan. Kalau tidak, seperti Ronaldo dan Messi, dia akan membuat banyak gol indah yang tercipta dalam pembangunan Indonesia ini. Segala macam cara harus dilakukan, baik itu sleding murni, atau kalau perlu mematahkan kaki yang berujung kartu merah.

Wajib hukumnya membendung pergerakan seorang Ahok. Tapi tidak bisa dilakukan secara terang-terangan oleh tokoh per tokoh. Apalagi yang sudah cukup dikenal masyarakat. Harus dikondisikan sedemikian rupa, sehingga yang bergerak itu adalah sebuah kelompok atau Ormas. Namun suara yang dilantunkan sebenarnya pesanan dari penggerak kelompok-kelompok ini.

Suaranya pun tidak perlu masuk dalam nalar. Yang penting bersuara. Mau dikata argumennya masuk angin, mau dikata mereka tidak tahu hukum bernegara, tidak penting, yang penting suara “pelatih” harus dikumandangkan.

Persis seperti di pertandingan sepak bola. Pemain lawan yang ditugaskan menjegal Ronaldo dan Messi, seolah-olah dialah yang berniat menghentikan laju Ronaldo dan Messi, tapi sebenarnya itu adalah pesanan dari pelatih, bahkan mungkin pemilik klubnya sendiri.

Kenapa?

Pelatih akan mengalamai kerugian yang cukup berarti, bahkan ancaman pemecatan, bila Ronaldo atau Messi leluasa memporakporandakan kandang mereka. Bila sudah porak-poranda, bisa ketahuan bahwa mereka sebenarnya tidak mampu melatih atau membina klub. Bisa juga terbuka kasus koruspi mereka di dalam klub, yang selama ini tertutupi karena mereka masih punya setitik prestasi.

Namun bila prestasi sekecil apa pun sudah dihancurkan dengan hujaman gol-gol dari Ronaldo dan Messi, maka Pemegang Saham Klub bisa kurang kerjaan dan mulai menyelidiki, apa sebenarnya penyebab dasar dari ketidakmampuan mereka ini. Apakah mereka ada proyek lain dari sekedar membina klub? Atau mungkin mereka ada niat jahat kepada klub? Ini semua akan menjadi terkuak.

Maka menjadi maklum bagi kita bila Ahok juga, sama seperti Ronaldo dan Messi, akan selalu dijegal dan dijegal lagi, apapun bentuk langkahnya untuk berbuat bagi negeri. Kecuali bila memang mereka beraktivitas tidak di dalam lini yang ditakutkan oleh “pelatih” ini, maka keberadaan mereka pun tidak akan diminati.

Contoh, kalau Ronaldo atau Messi dimutasi sebagai bagian pertahanan saja, atau bahkan sebagai penjaga gawang, maka pelatih lawan tidak akan ambil pusing harus menyiapkan 2 sampai 5 orang untuk menjegalnya. Bahkan yang ada, mereka yang akan berusaha lepas dari jegalan Ronaldo atau Messi.

Begitu pun bila Ahok, misalnya masuk ke ranah swasta saja, mungkin jadi direktur sebuah pabrik benang, atau supervisi sol sepatu ekspor, mereka tidak akan peduli dengan Ahok, karena “kepentingan” mereka atas negeri, tidak menjadi bersinggungan dengan keberadaan seorang Ahok.

Nah, sialnya, Ahok ini memang selalu mencari (tepatnya dicarikan) tempat di posisi-posisi yang selalu bersinggungan dengan pelaku-pelaku “berkepentingan” ini. Makanya, pantas akhirnya jegal-menjegal sudah menjadi tradisi buat mereka, selama memang Ahok orangnya.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *