SUPIR TEWAS DIAMUK MASSA DI HADAPAN POLISI BERSENJATA DI PAPUA, KOK MELEMPEM?

Manuel Mawengkang-“Polisi kok makin melempem ya?…”

Pak Idham Azis, di Papua ada kejadian yang bagi saya sangat aneh. Seorang supir yang menjadi korban hoax, menjadi sasaran amuk massa papua di daerah Dogiyai, Papua. Kejadian ini tidak terjadi di luar pantauan polisi. Malah sangat aneh ketika kejadian ini terjadi di hadapan para aparat kepolisian bersenjata.

Dalam peristiwa nahas tersebut, seorang supir truk bernama Yus Yunus warga Polewali Mandar pun harus meregang nyawa atas hal yang tidak pernah ia lakukan. Ia menjadi korban hoax atas kejadian tabrak lari yang menewaskan orang Papua.

Pembiaran yang dilakukan polisi ini, pun membuat Kapolda Papua Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw pun angkat bicara. Pembiaran ini tidak seharusnya dikerjakan. Kapolda Papua mengatakan bahwa jika polisi bertindak tegas, akan ada korban lain yang bertambah.

“Kalau saya bayangkan anggota melakukan tindakan tegas terhadap masyarakat itu, maka akan ada korban juga karena sebenarnya itu situasional. Saya secara pribadi prihatin terhadap kasus penganiayaan yang menewaskan supir itu. Yang jelas saya dapat informasi korban dicurigai merupakan pelaku tabrak lari terhadap korban yang meninggal, namun ternyata bukan dia sebenarnya. Artinya salah sasaran. Dan kami akan tindak para pelaku.”

Ucap Papua Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw seperti yang dilansir di sini

Jujur saja saya sangat merasa aneh kalau memang pada akhirnya, Polisi kalah dengan massa. Saya mulai khawatir dan curiga bahwa ada ketakutan dari polisi untuk menindak para pelaku brutal itu, karena ada tekanan dari asing.

Saya melihat ada efek Veronica Koman dalam pembiaraan polisi ini. Kita tahu bahwa polisi seringkali dijadikan korban hoax dan provokasi dari orang-orang yang tidak suka dengan Indonesia dan ingin Indonesia berdarah-darah seperti kasus kerusuhan Mei 2019 dan kerusuhan di Papua beberapa waktu silam.

Salah satunya adalah Veronica Koman. Orang ini memang sering menyulut provokasi melalui cuitannya. Saat ini ia tinggal di Australia dan ternyata masih berutang kepada Indonesia atas beasiswa yang ia dapatkan untuk berkuliah di luar negeri.

Lantas apa yang dilakukan Veronica Koman di Australia? Menyulut perpecahan di Indonesia. Veronica Koman ini mendukung penuh pembebasan Papua dari Indonesia.

Provokasi pun dimulai bersama cewek Gerindra bernama Mak Susi saat kasus ketegangan di asrama Papua yang terletak di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melalui Twitter, Veronica Koman mendiskreditkan polisi dan mengatakan bahwa polisi main hakim sendiri dan menindas para penghuni asrama Papua.

Sungguh, tindakan biadab ini pada akhirnya menjerat Veronica Koman ke polisi dan ia dijadikan tersangka. Sayangnya, ia tidak ditangkap-tangkap sampai sekarang. Setelah Kapolda Papua, apakah Idham Azis mau pakai alasan “takut makan korban” lagi? Saya sungguh prihatin dan kecewa terhadap polisi saat ini yang mulai lembek.

Memang sih, membandingkan antara Idham Azis dan Tito Karnavian, sepertinya sangat jauh. Polisi saat sekarang sepertinya sedang jaga-jaga image mereka agar dilihat santun. Tapi demi dilihat santun seperti Anies, malah jadi timbul satu korban amuk masa. Dan itu terjadi di depan mereka, pemegang senjata, penjamin keamanan negara.

Polisi memiliki kewajiban mutlak untuk menjaga keamanan di tempat tersebut. Tapi kalau sampai membiarkan seorang yang tidak bersalah menjadi sasaran a muk masa, di sanalah harga diri penjaga keamanan ini dikoyak-koyak. Apakah Polisi takut ketika menindak tegas para pelaku pembunuhan supir asal Sulawesi Barat itu, kemudian tindakan itu diviralkan di Twitter oleh Veronica Koman? Lantas mengapa bisa ada kejadian pembantaian supir di hadapan polisi yang memegang senjata?

Di mana harga diri Polisi Republik Indonesia di hadapan warganya? Warga jadi tidak dapat jaminan keamanan dari polisi. Apalagi dengar-dengar sejak era Kapolri Idham Azis, polisi mulai melunak. Dan saya rasa ini mulai terbukti dengan kejadian yang terjadi di papua, distrik Dogiyai.

Saya jadi rindu Pak Tito sebagai Kapolri, yang pernah melumpuhkan aksi demo berjilid-jilid dengan kalimatnya yang iseng dan celetukannya di hadapan Rizieq mengenai chat dirinya dengan Firza.

Saya menunggu gebrakan Idham Azis dan jawaban Kapolri terhadap aksi ini. Semoga saja bukan karena takut diviralkan Veronica Koman. Kalau benar ya harus berani jalankan kebenaran dong. Apalagi di pemberitaan, supir itu sudah mencari perlindungan ke Polisi… Miris!

Idham Azis harus pecat kapolda Papua dan gantikan dengan yang lebih tegas. Karena apapun alasannya, aksi pembiaraan pembantaian ini tidak bisa dibenarkan atas nama “takut ada korban tambahan”. Jika begitu, ke mana lagi warga harus mencari perlindungan?

Begitulah tegas-tegas.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *