TERUNGKAP! LOKASI MISTERI HILANGNYA PEPOHONAN DI MONAS

Niha Alif-Hilangnya ratusan pohon Monas kini bukan lagi misteri. Sekda DKI, Saefullah sebelumnya mengatakan pohon tersebut dipindah di sisi timur dan barat. Nyatanya tak ada bekas penanaman di sana. Selanjutnya bola misteri pepohonan Monas ada di tangan Kepala Dinas Kehutanan. Dia menyatakan ratusan pohon berada di kebun bibit dalam rangka penyehatan (mungkin pemulihan trauma akibat ditebang). Kini akhirnya pepohonan tersebut ditemukan, jasadnya masih utuh (bukan dalam bentuk furnitur).

Terima kasih bagi para awak media mainstream yang telah berjibaku mencari-cari gerombolan pepohonan Monas yang jadi korban. Mulai dari wartawan Kompas yang berlarian mencari-cari ke seluruh sisi utara, barat, timur dan selatan dan tak menemukan. Hingga wartawan Merdeka ikut menelusuri jenis pohon Mahoni yang jadi korban penebangan yang kini diganti Pemprov DKI dengan jenis lain, yakni pohon pule.

Ratusan pohon ini sempat dicari kemana-mana, tapi tidak ketemu. Ditambah, lokasi revitalisasi Monas pun steril, media tak boleh masuk, apalagi ambil gambar.

Dinas terkait seperti Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata), dan Dinas Kehutanan saling lempar jawaban mengenai keberadaan pohon-pohon itu.

Tapi akhirnya, keberadaan pohon itu kini terungkap. Hal ini usai merdeka.com ikut meninjau langsung proses investigasi dugaan pelanggaran hukum atas revitalisasi Monas yang dilakukan Tim Asistensi Komisi Pengarah (Komrah) kawasan Medan Merdeka.

Tim Komrah kawasan Medan Merdeka meninjau sekaligus mengambil sampel dari penebangan pohon-pohon di area revitalisasi, Rabu (26/2). Awalnya, tidak diperkenankan masuk. Melalui bantuan tim Komrah akhirnya diizinkan mengikuti proses di kawasan revitalisasi.

Tim terdiri dari dua ahli lingkungan hidup Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero dan Basuki Wasis, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Sekretaris Negara.

Awalnya, Tim Komrah mengambil sampel dari Pohon Palem, tim mengukur diameter batang pohon, mengambil tanah, vegetasi, dan batu dekat pohon tersebut. Tim kemudian bergerak ke Pohon Trembesi dan Pohon Jati yang sudah ditebang.

Nah, tim kemudian dibawa oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas ke tempat beberapa batang pohon yang ditebang.

Satu utusan dari Kementerian LHK mengatakan, “ini karena saya bilang mau diperiksa saja makanya ada di sini,” kata dia kepada merdeka.com saat meninjau langsung pengambilan sampel pohon, Rabu (26/2).

Sampel yang diambil dari pohon tersebut yakni kulit luar batang pohon, bagian dalam batang pohon.

Pernyataan utusan Kementerian LHK itu selaras dengan Kepala Seksi Pelayanan Informasi UPK Monas, Irfal Guci. Dia menuturkan, batang pohon tebangan ditaruh di Monas tanpa ada pemberitahuan.

Irfal pun mengaku tidak tahu keberadaan batang pepohonan tersebut sebelum ditaruh di Monas sisi timur. “Ini juga belum ada serah terimanya,” kata Irfal.

Sebelumnya, pohon tebangan itu dikabarkan dipindahkan ke gudang miliki dinas Pertamanan dan Hutan Kota di kawasan Pulogadung. Namun dinas pertamanan membantah.

Utusan Kementerian LHK menerangkan, kegiatan di Monas dilakukan untuk memastikan ada tidaknya pelanggaran undang-undang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap revitalisasi Monas.

Setidaknya, kata utusan tersebut, ada dua aturan yang menjadi landasan tim asistensi komrah melakukan kegiatan pengambilan sampel. Pertama, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kedua, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dengan penemuan oleh tim komrah ini, membuktikan adanya kesengajaan perusakan di kawasan Monas yang seharusnya dijaga kelestariannya. Kawasan cagar budaya Monas dan Pepohonan sekelilingnya tak bisa dipisahkan. Sama seperti Taj Mahal yang dikelilingi taman indah di sekilingnya. Tanpa adanya pepohonan yang tertata sekeliling Monas, kawasan cagar budaya berubah jadi tak sedap dipandang mata.

Sayangnya Gubernur DKI saat ini tak bisa menjaga keselestarian pepohonan sekitar Monas. Demi ambisi Formula E, ratusan pohon ia babat. Persetan dengan kawasan cagar budaya. Monas bukan saja ikon DKI Jakarta, tapi juga ikon Indonesia. Monas adalah warisan leluhur pendiri bangsa yakni Soekarno. Seharusnya Monas sebagai simbol kejayaan negeri ini bisa dijaga seperti layaknya menjaga pancasila dan UUD 45.

Tapi anehnya trek balapan malah dibuat di sana, seperti tak ada jalan lain di Ibukota yang bisa dibuat. Belum lagi bekingan dari mantan wapres dan keluarganya. Sungguh membuat Anies menjadi besar kepala dan tak takut melabrak aturan. Bahkan pemerintah pusat dibuat tertunduk dan hanya bisa menyaksikan tingkah Anies yang kian menjadi.

Kita tunggu kasus-kasus lama mantan penguasa dan pengusaha kelas kakap yang kini diselidiki penegak hukum. Pelan tapi pasti ada saatnya mantan penguasa menjalani roda kehidupan di bawah. Setelah itu Anies beserta kroninya tinggal gilas saja dan lempar ke KPK. Kalaupun harus mencari sosok pengganti Jokowi, orang seperti Ahok, Risma, Ganjar dan Erick lebih mumpuni. Semoga Fahira Idris beserta Jakarta 58 bisa berbesar hati menerima nasib Anies yang sebentar lagi tergelincir bersamaan dengan ambisinya.

Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *