AHOK “KAFIR” TAPI BERGUNA. YANG SONO “PEMEGANG KUNCI SURGA” TAPI MALAH NYUSAHIN

Jemima Mulyandari-Bangga! Satu kata itu sudah cukup untuk mewakili perasaan saya saat menuliskan artikel ini. Begini penjelasannya.

Saat ini Indonesia sedang berada di tahap transisi menuju energi baru untuk meninggalkan bahan bakar fosil. Ini sesuai dengan kesepakatan global di mana tahun 2030 nanti, bahan bakar berbasis fosil semestinya sudah tidak digunakan lagi. Tetapi kenyataannya porsi energi baru masih di kisaran 9-12%. Inilah kondisi energi di Indonesia sekarang ini.

Untuk itulah PT Pertamina selaku BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia terus berbenah dan melakukan gebrakan positif demi kemajuan bangsa yang hasilnya akan dirasakan secara langsung oleh seluruh rakyat Indonesia.

Hasilnya juga membanggakan. Dalam rapat dengar pendapat (RDP) di hadapan anggota DPR Komisi VI yang diadakan pada Selasa, 25 Februari 2020, PT Pertamina (Persero) yang diwakili oleh Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati memaparkan beberapa pencapaian membanggakan.

Mulai dari proyek gasifikasi dengan memanfaatkan kekayaan batu bara Indonesia, tidak lagi impor solar sejak Maret 2019, berhenti impor avtur mulai April 2019 karena sudah bisa memproduksi sendiri dengan pemanfaatan crude domestik, serta rencana produksi biodiesel B100 di Kilang Cilacap pada pertengahan tahun depan sebagai jawaban atas penolakan sawit yang dilakukan Eropa beberapa waktu yang lalu.

Sebab melalui uji coba produksi biodiesel B100 ini, akan membutuhkan input minyak sawit sebesar 6.000 barel per hari. Ini sekaligus membuktikan bahwa minyak sawit mentah (CPO alias Crude Palm Oil) Indonesia berkualitas bagus dan bisa digunakan untuk B100. Keren sekali khan.

Tak cukup hanya itu, penempatan Erick Thohir, B.A., M.B.A. sebagai Menteri BUMN ke-9 Kabinet Indonesia Maju Presiden Jokowi, serta pengangkatan Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) sudah membuat kita tersenyum bahagia membayangkan para mafia migas dan cecunguknya kelonjotan meregang nyawa.

Hasilnya memang cetar membahana. Tak menunggu lama, Erick Thohir langsung menggebrak dengan membenahi internal Kementerian BUMN, merombak direksi dan komisaris di sejumlah BUMN dengan sasaran pertamanya adalah PT Pertamina (Persero), membongkar penyelundupan Harley, mengupayakan penyelamatan Jiwasraya, melarang bagi-bagi souvenir, efisiensi perjalanan dinas, hingga memperketat perizinan pembentukan anak, cucu, hingga cicit BUMN.

Pembahasan di artikel ini akan saya titik beratkan untuk Ahok yang tak dapat dipungkiri sudah dipaksa menerima stempel “si cina kafir penista agama” di negaranya sendiri. Negara yang dicintai Ahok dengan segenap jiwa raganya.

Tapi tak masalah. Toh Ahok juga sudah ikhlas dengan itu semua. Yang jelas Ahok takkan pernah bisa berhenti mencintai NKRI sebagaimana perkataan yang diucapkan sendiri oleh Ahok.

“Bagi saya, kalau ada kesempatan bantu negara, pasti siap dan bersedia,” kata Ahok menanggapi ajakan Erick Thohir agar mau bergabung di BUMN.

Bagi saya sikap Ahok ini sangat luar biasa. Setelah disia-siakan sedemikan rupa, Ahok tak mau pindah ke luar negeri demi ketenangan dan kesenangan hidupnya. Ahok tetap berdiri tegak menjaga tanah airnya.

Dengan jabatan barunya sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Ahok langsung membuat banyak gebrakan baru dengan mengawal internal Pertamina, membuat saluran pengaduan, sampai membuat transparansi semua pengadaan yang dilakukan oleh BUMN migas terbesar RI ini agar bisa diakses oleh publik secara terbuka.

Ahok sendiri yang mengumumkan hal tersebut di akun twitternya, Rabu, 12 Februari 2020.

“Mulai hari ini, akses Informasi operasional PT Pertamina (Persero) terkait pengadaan Crude, LPG dan BBM termasuk status kapal charter sudah dapat diakses melalui website resmi perseroan.”

Article

Keren pake banget kan jadinya.

Dan barusan, keberadaan Ahok menjadi Komisaris Utama di PT Pertamina (Persero) kembali menuai pujian. Kali ini pujian datang dari Prof. Dr. Subroto, guru besar ilmu ekonomi Universitas Indonesia (UI), sesepuh migas yang sangat disegani di sektor migas nasional.

Pria berusia 97 tahun ini sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di zaman Presiden Soeharto dan Sekjen OPEC tahun 1988-1994.

Nama beliau kini menjadi nama penghargaan yang diusung oleh Kementerian ESDM untuk mengapresiasi jasa-jasanya di sektor energi.

Subroto yang hadir di acara Bimasena Members Get Together Kamis malam 27 Februari 2020, mengaku kagum dengan jejak rekam Ahok sebagai pemimpin. Subroto sendiri yang mengaku mengagumi Ahok dan mengikuti pemberitaan seputar Ahok, apalagi sejak Ahok masuk ke Pertamina dan menjadi komisaris utama di situ.

“Pengalamannya jadi gubernur waktu itu, dia punya kriteria pemimpin yang bagus. Saya rasa bagus dia masuk Pertamina,” kata Subroto yang mengaku ingin sekali bertemu dengan Ahok.

Jika Subroto yang sangat berkompeten di dunia migas saja bisa kagum dan angkat topi seperti ini pada Ahok, lalu siapa mereka berani-beraninya mengkritik Ahok dengan cara yang tidak pada tempatnya? Silakan ditarik sendiri benang merahnya.

Jawabannya gampang di tebak kok. Tong kosong nyaring bunyinya. Itulah kaum egois pengacau yang suka berbuat seenaknya sendiri di negeri ini. Sampai ke-PD-an ngapling Tuhan dan surga seenak udelnya sendiri. Kaum pemegang kunci surga istilah singkatnya. Ngaku-ngaku memegang kunci surga tepatnya. Ujung-ujungnya, mereka inilah kaum yang suka menempatkan kepentingan pribadi dan golongan di atas kepentingan bangsa dan negara.

Saya tak akan membahas tentang kaum ngeselin ini satu persatu. Rugi banget saya buang waktu menulis tentang mereka. Toh kita juga sudah tahu sama tahu jalan ceritanya. Ada massa 212 yang kesulitan menjalankan perintah Tuhan untuk tidak membenci dan mendendam pada sesama manusia, pada Ahok tepatnya.

Ada juga anggota Komisi VI Fraksi Gerindra Andre Rosiade yang tak bisa menyembunyikan isi hatinya yang penuh iri dengki pada Ahok. Dengan tolol Andre melontarkan pertanyaan pada Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati terkait masalah transparansi. Andre bertanya, siapa yang seharusnya bekerja melaksanakan transparansi perusahaan, direksi atau komisaris.

“Saya baca berita yang ada di berbagai media bahwa seakan-akan jajaran direksi, ada berapa, 11 orang jajaran direksi Pertamina. Tapi seakan-akan yang bekerja melakukan transparansi hanya komisaris. Saya ingin bertanya jajaran direksi Pertamina, apa betul yang bisa transparansi komisaris, bukan direksi?,” kata Andre dalam rapat Komisi VI Jakarta, Selasa 25 Februari 2020.

Menanggapi pertanyaan tolol penuh iri dengki semacam ini, tiba-tiba saya jadi teringat pada kalimat jawaban yang dilontarkan Edy Rahmayadi yang saat itu menjabat sebagai ketua PSSI dan Gubernur Sumatera Utara kepada Aiman Witjaksono, wartawan Kompas TV.

“Apa urusan anda menanyakan itu???”

Jawaban ini sangat pas untuk Andre si sirik tanda tak mampu. Harap maklum juga. Andre ini lagi stress barusan kena kasus jebak menjebak wik wik.

Di sudut lain tepatnya di DKI Jakarta, gubernurnya justru dianggap sebagai penghancur Jakarta itu sendiri. Monas dirusak, Taman Ismail Marzuki dirusak, Tanah Abang makin macet dan semrawut, trotoar dikuasai PKL, preman merajalela, tak ada lagi aduan masyarakat, APBD jadi bancakan, rakyat jadi sapi perah. Dan yang terbaru, hampir tiap minggu banjir.

Sementara nun jauh di sana juga ada orang yang sudah lama ingin pulang tapi tak bisa pulang. Tak berani pulang tepatnya.

Para pembaca bisa menilai sendiri manfaat apa yang didapat negeri ini dengan keberadaan orang-orang yang sudah saya sebutkan barusan . Bergunakah mereka bagi negara atau malah menyusahkan??? Silakan dijawab dengan hati jujur sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Sebagai penutup akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan. Hari ini saya bisa mengerti dengan jelas sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Amin. Terpujilah Tuhan.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *