EDAN, ANIES BARU MINTA IJIN REVITALISASI MONAS SETELAH GUNDUL DULUAN?

Rahmatika-Ada sebuah pemberitaan di CNN yang sayangnya baru saya baca hari ini. Intinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengirimkan surat persetujuan revitalisasi Monas ke Kementerian Sekretariat Negara. Yang menyatakan hal ini adalah Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan DKI Jakarta Heru Hermawanto.

“Sudah disiapkan. Sore ini kemungkinan dikirim. Ya kalau di dalam ketentuannya kan kita bahasanya itu bukan izin ya, tapi persetujuan,”

“Ya namanya proyek itu kan enggak semudah harus kemudian dihentikan kan, ini kan ada mekanisme kontrak. Itu saja aturan yang kita pegang. Kalau perjanjian kan enggak mungkin langsung putus,”

Sebelumnya Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) Setya Utama mengatakan revitalisasi kawasan Monas belum mengantongi izin dari Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Merujuk Keppres Nomor 25 Tahun 1995, kawasan Medan Merdeka meliputi Taman Medan Merdeka, Zona Penyangga Taman Medan Merdeka, dan Zona Pelindung Taman Medan Merdeka. Nah dalam hal ini ternyata ada beberapa struktur yang mesti kita ketahui yakni Komisi Pengarah dan Badan Pelaksana Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Komisi Pengarah diketuai oleh Menteri Sekretaris Negara. Sementara Badan Pelaksana dipimpin gubernur DKI Jakarta yang merangkap Sekretaris Komisi Pengarah. Badan Pelaksana sendiri bertanggung jawab kepada presiden melalui Komisi Pengarah.

Saya jadi makin geleng-geleng kepala. Begini, semua tahu bahwa Monas ini termasuk obyek vital nasional. Artinya, tim di Pemprov termasuk Gubernur Anies Baswedan mestinya juga tahu bahwa ada aturan yang harus dipenuhi dan ada pintu-pintu yang harus diketuk kalau mau mengubah tatanan di sana. Nggak mungkin dong level Gubernur nggak tahu. Atau kalau Gubernurnya nggak ngerti mestinya Sekdanya mengingatkan. Apa juga fungsinya TGUPP yang anggotanya banyak itu kalau tidak bisa memberi masukan atau memberi tahu Gubernur aturan yang berlaku? Seingat saya dulu salah satu tujuan Anies membentuk banyak tim-tim itu antara lain supaya tidak terjadi tumpang tindih aturan. Nah kalau aturan mau tidak tumpang tindih berarti mereka harusnya sudah khatam tentang aturan yang ada bukan?

Seratus sembilan puluh pohon sudah ditebang. Nggak jelas juga pohon-pohon itu dikemanakan. Area di Monas sudah gundul. Padahal untuk membuat suasana jadi teduh seperti itu butuh waktu puluhan tahun. Ya kalau semuanya sudah prosedural, okelah walau mengecewakan tapi mungkin kita lebih legowo. Namun kenyataannya sepertinya penebangan pohon ini ilegal karena kenyataannya baru setelah gundul mereka minta ijin revitalisasi Monas. Harusnya kan ijin keluar dulu baru step by step proyek dijalankan. Ini sih kelakuannya jadi mirip laki-laki takut istri tapi nekat yang memegang paham “Lebih baik minta maaf daripada minta ijin”, maksudnya kalau sudah kejadian kan mau nggak mau akan dimaklumi daripada harus minta ijin yang mungkin akan memunculkan perdebatan, ijin tidak turun, sehingga rencana pun malah gagal.

Ya sekarang bola liarnya mau nggak mau ada di tangan Sekretariat Negara mau dibawa ke mana arah revitalisasi Monas ini. Kalau menurut saya pribadi ya suruh ditanami lagi saja dengan pohon meskipun butuh puluhan tahun lagi untuk membuat suasana di sana kembali rindang. Jelas saya nggak setuju dengan konsep pembangunan Pemprov DKI Jakarta dan PT Bahana Prima Nusantara yang akan menjadikannya plaza dan kolam.

Ya buat apa kolam yang hanya untuk memantulkan bayangan tugu Monas. Kalau memang niatnya untuk kolam, apa iya butuh sampai menebang 190 pohon seperti itu? Apalagi kalau alasannya untuk dijadikan plaza. Jakarta itu sudah punya terlalu banyak pusat perbelanjaan. Dan tak sedikit yang jaraknya dengan Monas pun tak terlalu jauh. Rakyat Jakarta jauh lebih butuh tambahan ruang terbuka hijau. Jangan malah membuat makin lama makin banyak area yang justru diperuntukkan kelas ekonomi menengah ke atas. Beberapa waktu lalu saja misalnya, di GBK ada yang dialihfungsikan jadi hutan kota yang dikelola salah satu chain hotel dan restoran kelas menengah ke atas. Apa iya yang seperti itu bisa dinikmati dengan mudah dan dijangkau masyarakat kebanyakan? Eh sekarang malah ketambahan Monas ini. Ckckckckckckck….
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *