HELMY YAHYA, MENDING CARI KERJA LAIN AJA..

Saya pernah dua tahun menjadi Konsultan radio di sebuah daerah. Radio itu punya sebuah dinas pemerintahan besar.

Ketika diminta untuk membantu mengembangkan radio itu, saya punya mimpi besar. Bayangkan, sebuah badan pemerintahan besar, dengan jaringan dan sumber daya besar, pasti akan lebih mudah untuk berkembang besar.

Tapi apa yang saya temukan di dalam ?
Seperti mendorong gajah bengkak !

Mulai dari sumber manusianya para ASN yang sulit banget bergerak, baru jalan kalau ada amplopnya, sampai pimpinan yang sibuk dengan proyek memanfaatkan keberadaan radio itu daripada membantu mengembangkannya.

Ampun, sungguh. Saya yang sebenarnya punya jiwa pantang menyerah, harus melambaikan tangan ke arah kamera juga. “Mending mikirin lainnya..” gerutu saya waktu itu, menyesali dua tahun yang terbuang sia-sia memikirkan bagaimana memindahkan gajah bengkak yang pantatnya aja susah bergerak ?

Jadi saya sangat paham apa yang sudah dialami Helmy Yahya..

Sebagai seorang profesional, Helmy Yahya pasti punya harapan besar ketika awal memimpin TVRI. Secara infrastruktur, badan publik itu raksasa. Bayangkan, jaringannya menjangkau seluruh Indonesia.

Sebenarnya bagi Helmy tidak sulit untuk menjadikan TVRI sebagai media yang beberapa tahun lagi akan menjadi media besar.

Tapi yang dia temukan di dalam, Naudzubillah, jeleknya. Mulai dari peralatan yang sudah tua dan banyak yang hilang, sampe tenaga kerja yang sudah berusia, ketinggalan jaman dan sudah tidak produktif lagi. Saya membayangkan betapa ruwetnya PR membenahi TVRI itu. Belum banyak kadrunnya..

Tapi Helmy bisa. Tangan dinginnya berhasil mengembalikan kepercayaan publik yang sebagian besar berada di desa. Acara deni acara dia benahi, termasuk bagaimana mendapatkan hak siar Liga Inggris yang mahal itu dengan biaya yang lebih murah.

Hanya Helmy lupa. Ini bukan TV swasta. Ini media publik milik pemerintah yang sarat dengan kepentingan didalamnya, mulai politik sampai proyekan.

TVRI harus tetap ada, tapi jangan lebih besar dari TV swasta yang sudah keluarkan modal besar dan masih susah payah kembalikan semua. Sudah bingung dengan munculnya media digital seperti Youtube yang menggerus pendapatan, eh si TVRI malah pengen jadi saingan..

Ya, Helmy yang profesional harus berhadapan dengan tebalnya tembok tebal birokrasi yang “sebenarnya ga pernah kerja” tapi punya kuasa.

Helmy juga salah berhitung. Dia tidak pernah mengajak “main-main” proyek orang diatasnya. Dia cuman mikir kerja dan kerja, tanpa berfikir “bagi rejeki sama rata”. Helmy juga bukan orang partai, jadi tidak punya perlindungan yang tebal.

Akhirnya, jatuh berdebamlah dia. Dipecat dengan alasan, “Menayangkan acara Liga Inggris yang tidak sesuai jati diri bangsa”.

What ??? Yang bener ??

Iya, bener. Harusnya Helmy tahu. Yang dimaksud jati diri bangsa itu adalah “saling mengerti, memahami situasi, dan berbagi rejeki”.

Jati diri bangsa kita adalah suap kanan kiri, menjadikan aset negara seperti TVRI hanya menjadi perusahaan pribadi yang bisa membawa manfaat kantung tebal dan bisa dijadikan sapi perahan.

Itu jati diri bangsa, Helmy. Bukan membawa TVRI kembali menjadi media yang kompetitif dan menghasilkan keuntungan buat negara yang signifikan. Kalau itu jati diri bangsa lain, bukan bangsa kita yang dibentuk dari hasil sinetron azab yang mendayu-dayu.

Mending mikir kerjaan lain, Helmy. TVRI memang gak boleh besar dan tidak akan besar. Yang membonsainya anak negeri sendiri. Biarlah mereka tetap begitu, diperkosa sampai hancur dan ditinggalkan dalam kondisi mati segan hidup tak mau.

Itu baru jati diri bangsa kita yang paling haqiqi, Helmy.

Kelak datanglah lagi, kalau peraturannya sudah direvisi ulang, dan Dewan Pengawasnya sudah pada diganti..

TVRI itu bukan lagi gajah bengkak. Tapi T-Rex yang kena penyakit beri-beri..

Seruputtt..

Denny Siregar & fb

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *