SEMESTA MENJAWAB AIR MATA MEILIANA

Oleh: Birgaldo Sinaga

Sebuah cerita selalu punya kisah. Kisah itu bisa berawal dari cerita sederhana. Tokohnya bahkan bukan tentang Cinderella atau Pangeran dalam dongeng Hans Cristian Andersen.

Kemarin seorang perempuan yang sedang kemo di salah satu rumah sakit kanker Malaysia mengirim pesan pada saya.

Ia bilang setiap hari membaca tulisan saya. Selama ini ia merasa orang paling malang sedunia. Ternyata ia keliru. Dari postingan saya ternyata masih ada orang yang lebih perih lagi keadaannya.

Dari tulisan itu akhirnya ia bisa bersyukur. Ketika bisa mengucap syukur muncul getaran cinta. Getaran cinta pada kasih Ilahi. Cinta itu mekar mewangi merasuki jiwa. Dan itu menenangkan perasaannya.

Dari cerita sederhana itu semesta selalu punya cara mempertemukan kebaikan. Ia punya cara sendiri mempertemukan orang yang berlimpah cinta.

Tengah malam kemarin, sebuah pesan dari Pak Tjandra Luke masuk. Mata saya sudah lima watt. Ngantuk sekali.

“Apa yang bisa kita bantu untuk Bu Meiliana Bang Bir?”, tulisnya. Rupanya Pak Tjandra baru saja membaca tulisan saya tentang Bu Meiliana.

Mata saya langsung terang. Naik jadi 100 watt. Maklum sehari sebelumnya saya hanya bisa mendengarkan rencana2 Ibu Meiliana. Tapi tidak bisa membantu apa2 selain berjanji akan mempromosikan usaha kulinernya.

Sore tadi, saya bersama teman Jun Franco bertemu kembali dengan Bu Meiliana dan suaminya.

“Bu Meiliana…saya datang menyampaikan pesan teman saya yang baik hati. Pesannya meminta saya melihat lokasi tempat usaha dan menanyakan berapa biaya yang diperlukan untuk usaha kuliner Bu Meiliana”, ujar saya.

Bu Meiliana dan Pak Atui terkejut. Keduanya tergagap. Wajahnya tetiba merona merah. Mata Bu Mei berbinar2. Senyum membuncah lebar terlihat dari bibir mereka. Mereka senang sekali.

“Saya sebenarnya tidak begitu sehat Bang Bir. Dua bulan saya drop. Ada masalah di rahim saya. Kata dokter harus diangkat. Jadi sekarang saya banyak minum vitamin. Usai operasi ya baru dimulai usahanya. Selepas Imlek”, ujar Bu Meiliana.

Saya mengangguk. Saya memberikan Bu Mei keleluwasaan mengatur kapan mulai membuka usaha kulinernya. Saya sarankan agar dihitung rinci kebutuhan semua perangkat yang dibutuhkan. Steleng, meja kursi, kompor, freezer, kulkas, piring sendok dlsb.

“Bagaimana sistem pembayarannya Bang Bir”, tanya Bu Meiliana.

Saya senyum. Apa yang mau saya jawab? Saya hanya melaksanakan perintah saja.

“Bayarnya nanti kalo Pak Tjandra datang ke Medan cukup dikasih makan gratis”, jawab saya.

Spontan Bu Meiliana melongo. Ia terkejut. Ia seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin jaman sekarang ini ada orang mau menolong tanpa pamrih tanpa imbalan?

“Gak usah terkejut bu. Doakan saja beliau”, ujar saya mencoba menenangkan perasaannya yang terkejut.

Bu Meiliana berjanji dalam beberapa hari ini akan memberikan laporan kebutuhannya. Ia dan suaminya senang sekali. Sepanjang pertemuan itu wajahnya memancarkan senyum dan semangat. Doanya sepanjang malam terjawab akhirnya.

“Terimakasih banyak ya Bang Bir…sampaikan rasa terimakasih kami yang sangat besar pada Pak Tjandra. Tuhanlah yang membalas kebaikannya”, ucap Bu Meiliana haru.

Suara azan terdengar lamat2 dari jauh. Kami berjabat tangan. Saat tangan saya menjabat tangan Bu Mei dan Pak Atui ada getaran rasa yang tidak bisa saya ungkapkan.

Semesta memang punya cara mempertemukan cinta dan meneguhkan cinta. Cinta tentang orang2 baik yang memiliki rasa welas asih pada sesama yang tertindas dan tercampakkan.

Terimakasih Guardian Angel Pak Tjandra Luke.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga & fb

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *