SELAMAT TAHUN BARU INDONESIAKU

Mpok Desy-Selamat tahun baru Indonesia, Keluarga Besar Seword dan seluruh pembaca terkasih yang setia menemani Seword di sepanjang tahun 2019. Nggak terasa setahun sudah kita menyusuri tahun 2019 dengan tawa dan airmata di dalamnya. Teringat mengawali hari pertama di tahun 2019, dan tahu-tahu kini sudah di awal tahun 2020. Wow…cepat banget yah, 365 hari sudah kita lewati dengan dahsyat!

Menulis artikel ini sambil memandangi Jembatan Ampera yang merah menyala dengan lampu-lampu yang menambah cantik, bak putri yang bersolek menyambut tahun 2020. Ahhh…Indonesiaku memang cantik, sangat cantik bahkan.

Yup, perjalanan panjang penulis sejak Ibadah Natal meninggalkan Jakarta menyeberang Pulau Sumatra dan singgah di kota-kota tempat penulis pernah dibesarkan. Melewati kota Palembang, Jambi, Pekanbaru, dan lanjut menuju Lampung. Memutuskan menutup tahun 2019 di Kota Pempek. Kota yang dulu sering penulis singgahi ketika kecil hanya untuk transit penerbangan Jambi – Jakarta.

Sudah 2 malam penulis menghabiskan waktu disini, dan menikmati isi kota. Termasuk melihat LRT yang sengaja dibangun dalam rangka Asian Games 2018. Pun, beberapa fasilitas yang masih tersisa, namun sayang nampak kurang terawat.

Mengenai perjalanan panjang penulis menikmati Tol Sumatra akan ditulis dalam artikel terpisah saja yah. Tetapi percayalah, betapa bersyukurnya kita memiliki Indonesia yang beragam dengan keunikannya masing-masing di setiap sudut daerah. Bahkan di daerah perkebunan kelapa sawit yang penulis lewati dari Jambi menuju Pekanbaru, berbeda sangat nuansanya dengan Palembang ke Jambi.

Nggak habis mengagumi negeri ini yang luarbiasa kaya raya melimpah. Intinya apapun yang ada dipermukaan bumi Indonesia ini semuanya bisa jadi duit! Bayangkan saja di sepanjang jalan perkebunan sawit dari Palembang hingga Pekanbaru nggak kehitung berlimpah ruahnya sawit dipanen, dan belum lagi diselingi di beberapa tempat dengan pohon karet yang berbaris rapi.

Memasuki kawasan Palembang, Jambi dan Pekanbaru penulis kembali berdecak kagum dengan kilang minyak dan gas yang merupakan kekayaan tersendiri lagi negeri ini. Gila dan gokilnya negeriku ini diberkati Tuhan dengan begitu banyak kenikmatan. Nggak hanya itu, penulis juga kerap menemui rumah-rumah tinggi yang rupanya sarang burung wallet milik warga setempat. Wow….kehilangan kata-kata deh penulis karena seperti melihat hamparan permata bertaburan jauh dari keramaian ibu kota.

Hal menariknya lagi, ternyata disepanjang hijaunya perkebunan kelapa sawit ataupun karet cukup sering penulis melihat rumah ibadah, entah itu Gereja ataupun Masjid. Misalnya, dari daerah Palembang ke Jambi maka Masjidlah yang banyak penulis temui, dan sesekali Gereja. Kemudian dari Jambi ke Pekanbaru maka Gereja sangat mudah, dan diselanya barulah Masjid.

Kagum karena meski jauh dipelosok, terpencil dari hinggar binggar ibu kota tetapi tetap nama Tuhan dimuliakan. Mereka orang-orang sederhana yang berjuang dengan kerasnya hidup justru tidak melupakan Tuhan. Hidup berdampingan dengan keyakinan berbeda tanpa mempersoalkan siapa pemilik surga. Berbanding terbalik dengan manusia-manusia pintar yang tinggal di kota besar. Hidup dalam kenyamanan tetapi justru tidak nyaman dengan keyakinanannya. Hingga merasa perlu menghakimi iman orang lain.

Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus kerja keras untuk semua kenikmatan dan kenyamanan. Melihat para pekerja perkebunan dan kerasnya hidup para supir lintas Sumatra mungkin baru akan menyadarkan kita bahwa selama ini terlalu sibuk mengurusi diri sendiri dan lupa bersyukur.

Faktanya, tidak semua jalan perkebunan itu mulus. Bahkan jalan Palembang menuju Jambi bisa dikatakan seperti (maaf) orang yang bopengan, bolong disana-sini. Bisa kebayang betapa tidak adilnya ini bagi rakyat setempat. Sementara pajak yang harusnya dinikmati oleh rakyat justru nggak jelas lari kemana.

Pekerjaan berat untuk Indonesia di tahun 2020 tidak boleh lagi meributkan hal yang nggak penting, dan hentikan segala bentuk korupsi yang mengambil hak rakyat. Sedih rasanya penulis beberapa kali menemukan truk kecelakaan ataupun terbalik akibat kondisi jalan yang sangat buruk. Membayangkan keluarga sang supir yang menunggu di rumah.

Bukankah seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah daerah. Kondisi jalan yang buruk tidak hanya menghambat logistik, tetapi juga memakan korban nyawa mereka orang-orang sederhana yang berjuang untuk hidup.

Ironis kalau Indonesia terus berkutat mengurusi orang-orang rakus yang nggak bisa kenyang padahal perutnya sudah buncit. Mau sampai kapan kita lupa bersyukur dan terus bertahan menjadi manusia egois. Sekaya apapun negeri ini, tetapi jika tidak berada ditangan para pemimpin yang amanah dan berakhlak maka yang terjadi kesia-siaan.

Nggak bisa kita se Indonesia hanya berharap kepada presiden seperti pesakitan yang dipersalahkan jika ada daerah yang fasilitasnya rusak. Harusnya, para pejabat daerah memiliki kepekaan, turun ke lapangan. Bukannya cuma duduk manis di kursi empuknya!

Sudah sebegitu parahkah budaya nggak tahu malu di negeri ini hingga hari gini masih saja ada pejabat daerah bisa tidur nyenyak diatas keringat rakyatnya yang bertaruh nyawa. Apakah hanya mereka orang biasa yang sederhana semisalnya para pekerja perkebunan dan supir truk yang harus bekerja untuk Indonesia supaya negeri ini hidup nyaman?

Tahun 2020 Indonesia tidak boleh lagi menangis. Sudahi semua keributan yang nggak perlu, membuang waktu serta tenaga. Saatnya bersih-bersih, dan buang manusia sampah yang hanya menuh-menuhi saja. Bercerminlah dari orang-orang sederhana yang tulus mengurusi sawit, karet dan mengantarkan logistik tanpa lelah. Fokus dan satukan hati mengisi 2020 dengan hal positip yang membangun.

Yup, dari ujung Barat hingga Timur, Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi ketulusan untuk membangun. Terlalu amat banyak kekayaan negeri ini yang bisa diolah untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pertanyaannya kemudian, mau nggak kita ini memulai tahun 2020 dengan menjadi bagian dari pembangunan di negeri ini. Hadir untuk Indonesia, dan bukan untuk diri sendiri.

Terimakasih tahun 2019 untuk lembaran ceritanya. Menutup artikel ini dengan doa dan pengharapan. Bersama mengawali langkah di tahun 2020 kita songsong Indonesia menjadi bangsa yang besar. Terus berjuang dengan caramu, dan buat Indonesia bangga memilikimu!

Selamat tahun baru Indonesia! Tuhan memberkati!
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *