SURYA & ANGKIE DI KABINET JOKOWI

Sebenarnya saya kurang suka memberi label “difabel atau disabilitas” kepada orang dengan kemampuan berbeda.

Itu seperti memberi tanda pada seseorang hanya karena kekurangan fisiknya, padahal secara kemampuan dia mungkin jauh lebih berguna dari orang yang fisiknya biasa. Mungkin yang secara fisik biasa, bisa jadi disabilitas dalam masalah mental..

Tapi untuk kali ini saya secara khusus menampilkan kata “difabel”, sebagai bagian dari kekuatan tulisan. Karena sungguh saya harus menghargai Presiden Joko Widodo, yang tidak membedakan seseorang berdasarkan fisiknya, tetapi melihat dari kemampuannya bekerja.

Ada dua orang difabel dalam tim Jokowi kali ini. Yang pertama adalah Surya Chandra, kader PSI.

Surya adalah penyandang disabilitas polio sejak usia 6 bulan. Hanya itu saja kekurangannya, sedangkan kelebihannya berjibun banyaknya. Ia dikenal sebagai pejuang para buruh dengan mengadvokasi hak-hak mereka.

Surya Chandra akhirnya menjabat sebagai Wamen Agraria dan Tata Ruang. Ia tidak diberi keistimewaan oleh Jokowi karena fisiknya, malah diserahi tugas berat karena harus selesaikan masalah sengketa lahan hanya dalam waktu setahun saja.

Yang kedua dan baru saja ditunjuk menjadi Staf khusus adalah Angkie Yudistia, kader PKPI.

Angkie menderita tuna rungu saat berusia 10 tahun waktu dia kena Malaria. Kekurangan fisiknya bukan melemahkannya, tetapi justru dia membuat Thisable Enterprise, sebuah wadah untuk penderita disabilitas supaya mereka bisa bekerja. Dia CEOnya.

Dan sama seperti Surya Chandra, Jokowi melihat Angkie karena kemampuannya bekerja.

Angkie adalah peraih S2 Master Komunikasi, suatu pencapaian luar biasa dibidang yang justru seharusnya menjadi kelemahannya jika disandingkan dengan fisiknya. Dia seperti melawan kekurangan dirinya untuk membantu orang yang jauh lebih kurang darinya.

Dahsyat, memang..

Angkie juga pernah menjadi finalis Abang None tahun 2008 dan pernah bekerja di perusahaan multinasional IBM.

Jokowi punya harapan besar kepada mereka berdua. Dan dia juga menyadari, bahwa menempatkan para difabel dalam tim kerjanya, akan menaikkan rasa bangga pada penderita disabilitas di seluruh Indonesia untuk tidak mengeluhkan kekurangan mereka.

Tetapi justru harus menjadi cambuk untuk menampilkan kelebihan mereka yaitu mental berjuang yang luar biasa. Dan Jokowi memberikan kesempatan yang sama dengan lainnya. Ukurannya bukan fisik, tapi bisa kerja apa tidak ? Itu saja.

Sebenarnya tidak cocok juga memberi label difabel kepada Surya dan Angkie dan banyak lainnya. Konsep difabel seharusnya lebih cocok disematkan kepada Somad.

Ya, Somad punya kemampuan yang sangat berbeda karena bisa melihat bahwa bermain catur itu haram. Padahal dalam kitab suci yang haram itu cuman babi.

Mungkin dulu karena kalah mulu waktu maen catur, Somad selalu memaki, “Babik !!” Nah, karena keseringan bilang babi, akhirnya waktu jadi ustad keluarlah fatwa haram dari mulutnya.

Sini susun lagi papannya. Kopi mana kopiii….

Denny Siregar

fb Denny Siregar

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *