SAUDI MAKIN KE TENGAH, INDONESIA MAKIN KE PINGGIR

Jika membandingkan antara Arab Saudi dan Indonesia, khususnya dalam hal perkembangan keagamaan dan sosial kebudayaan, ada perbedaan yang sangat kontras dan mencolok. Yakni, Arab Saudi semakin ke tengah (menjadi moderat), sementara Indonesia semakin ke pinggir (menjadi konservatif, dan bahkan cenderung ekstrim).

Proses perubahan ini sudah terjadi sejak mendiang Raja Abdullah yang dikenal moderat, visioner, dan pro-perubahan, dan semakin menguat sejak beberapa tahun terakhir ini.

Dulu, Saudi dianggap sebagai sarang konservatisme, intoleransi, dan bahkan radikalisme. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, negara terluas dan terbesar populasinya di kawasan Arab Teluk ini mengalami perubahan sangat signifikan dan fundamental di hampir semua sektor: keagamaan, kebudayaan, perekonomian, dlsb.

Sejak beberapa tahun mengajar di Saudi, saya menjadi saksi proses perubahan fenomenal dan bahkan “revolusioner” ini yang sangat menakjubkan.

Dulu, sekolah-sekolah mengajarkan fanatisme berlebihan terhadap Salafisme serta intoleransi berlebihan terhadap non-Muslim, Syiah, dan sekte-sekte agama. Kini tidak lagi. Kurikulum sekolah dibersihkan dari virus-virus kebencian dan intoleransi.

Dulu, mimbar-mimbar masjid menjadi ajang menyebarkan intoleransi agama melalui khotbah-khotbah Jumat. Kini tidak terdengar lagi. Para khatib (pengkhutbah) intoleran disisir bersih dari masjid-masjid.

Dulu, warisan tradisi dan kebudayaan lokal diabaikan dan bahkan dicampakkan karena dianggap tidak relijiyes serta mengganggu spirit ketauhidan. Kini lain ceritanya. Pemerintah membangkitkan pentingnya melestarikan warisan sejarah, tradisi, dan kebudayaan lokal. Banyak arkeolog dari Barat didatangkan untuk menyelamatkan aset-aset kultural itu. Aneka ragam pakaian tradisional suku-suku Arab dari berbagai daerah yang warna-warni yang dulu cuma dipajang dan disimpan dalam lemari, kini mulai digalakkan dan difestivalkan.

Dulu, kekayaan dan keindahan alam (pantai, pegunungan, bangunan historis, dlsb) banyak yang ditelantarkan. Kini digarap serius besar-besaran melalui mega-proyek untuk tujuan turisme.

Dulu, aneka ragam ekspresi seni-budaya (theater, musik, dlsb) dilarang. Kini bebas-merdeka. Pentas-pentas musik di tempat-tempat publik sering bergema. Bioskop dibuka dimana-mana. Berbagai musisi dan grup musik dunia banyak didatangkan untuk manggung.

Untuk tujuan penyelamatan dan pelestarian warisan sejarah, tradisi, dan kebudayaan dari leluhur mereka, pemerintah membentuk badan khusus (misalnya Saudi Commission for Tourism & National Heritage) dan bahkan, sejak 2018, Kementerian Kebudayaan (wizarat al-tsaqafah).

Dulu, ruang gerak perempuan sangat terbatas. Kini sudah berubah drastis: perempuan boleh bekerja di sektor manapun, boleh nyetir sendiri, boleh ini-itu sendiri tanpa harus ditemani saudara / orang tua. Busana juga sudah fleksibel. Yang penting pantas dan sopan (kalau di ruang publik). Tidak harus berabaya brukut.

Dulu, polisi syariat penjaga moral berkeliaran dimana-mana (jalan, pasar, mall, restoran, kantor, dlsb) untuk mengawasi orang-orang yang dinilai melanggar syariat. Kini sudah dibekukan.

Lalu, bagaimana dengan “Endonesah”? Kalian tau sendirilah bagaimana. Malas sayyah nulis kelakuan para jamaah munyukiyah spesies kadrunimin dan kadrunimat.?

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
Sumantho Al Qurtuby
fb Sumantho Al Qurtuby

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to SAUDI MAKIN KE TENGAH, INDONESIA MAKIN KE PINGGIR

  1. Pingback: 新越谷 ジム

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *