KPK: PATRIALIS DAN KAMALUDIN BERTRANSAKSI DI LAPANGAN GOLF

Jakarta – KPK mengatakan tersangka suap uji materi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan, Patrialis Akbar serta Kamaludin, bertemu di lapangan golf Rawamangun. Hal itu terjadi sebelum KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kamaludin.

“Indikasi suap adalah di pagi hari ketika PAK (Patrialis Akbar) berkomunikasi dengan KM (Kamaludin) di lapangan golf Rawamangun. Tim punya pertimbangan tersendiri untuk memastikan transaksi itu benar-benar sudah terjadi,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (30/1/2017).

Febri kemudian menyebut saat itu ada bukti yang meyakinkan tim KPK untuk langsung mengamankan Kamaludin. Bukti itu adalah draf putusan perkara nomor 129/PUU-XIII/2015 tentang uji materi UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan di Mahkamah Konstitusi.

“Salah satu bukti yang meyakinkan tim adalah ketika penangkapan KM adalah kita temukan draf putusan MK 129 yang jadi objek persoalan utama. Baru kemudian kami mengejar ke Sunter dan ke Grand Indonesia untuk mengamankan PAK,” jelas Febri.

Setelah bermain golf, Febri mengungkapkan, Patrialis sempat kembali ke kantornya di MK. Tidak dilakukannya penangkapan saat di MK menimbulkan spekulasi bahwa ada kemungkinan transaksi di Grand Indonesia pada malam harinya. Namun Febri tidak mengamini anggapan tersebut.

“Ada pertimbangan lain penyidik. Tapi transaksional adalah pada Rabu (25/1) pagi di lapangan golf,” ujarnya.

Dia menyebut transaksi yang dimaksud adalah pemberian janji yang menghasilkan kesepakatan tertentu antara Patrialis dan pihak pemberi melalui perantara. Dirinya juga menegaskan Patrialis sudah menerima uang senilai USD 20 ribu jauh sebelum penangkapan terjadi.

“USD 20 ribu sudah diterima sebelumnya, dan janji SGD 200 ribu dan bukti di KUHAP ada 5 jenis. Kami juga pernah melakukan OTT dan tidak ditemukan uang, karena ada transfer melalui rekening. Dan ketika sudah ada janji dan bisa membuktikan komitmen, indikasi janji sudah ada,” ungkap Febri.

KPK menduga Patrialis Akbar menerima hadiah atau janji senilai USD 200 ribu dan SGD 200 ribu dari Basuki Hariman. Saat ini Patrialis telah dibebastugaskan sebagai hakim konstitusi.

Dalam kasus itu, Patrialis dan tersangka yang menjadi perantara, Kamaludin, dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Kemudian terhadap pihak yang diduga pemberi suap, Basuki Hariman dan Ng Feni, KPK mengenakan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.(HSF/dhn)
sumber: detik

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *