TERKAIT POSTER CARREFOUR, ALFONSO GINTING: KAMI BUKAN MENGANCAM TETAPI JANGAN COBA MENGUSIK

Laporan: Hevi S. Tarigan dan Bastanta P. Sembiring

“Kami bukan mengancam, tetapi jangan coba mengusik kami,” demikianlah inti dari protes yang disampaikan oleh Alfonso Maranatha Ginting dan pemuda Karo lainnya yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) dan Pemuda Merga Silima (PMS) saat melakukan protes langsung kepada pihak Carrefour, Medan [Minggu 22/1].

Protes mereka terkait dengan poster dan spanduk animasi berpakaian adat Karo seakan menyapa pengunjung dengan bertuliskan “horas”. Keberatan dari para pemuda Karo adalah adanya kesan seolah-olah orang-orang Karo juga menggunakan Horas sebagai sapaan mereka.

Ginting menuturkan, kejadian ini berawal saat beliau berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Jl. Letjen. Jamin Ginting, Padangbulan (Medan). Awalnya mengaku tertarik dengan tampilan poster dan spanduk yang banyak terpampang di dalam gedung tersebut. Namun, setelah melihatnya lebih dekat dan lebih ditail, merasa kemudian apa yang dilakukan oleh pihak pengelola Carrefour ini sebagi sebuah penghinaan dan pelecehan terhadap Suku Karo.

“Pertama aku lewat aku merasa bangga melihat animasinya. Karena ada dibuat gambar animasi berpakaian Karo, aku langsung mendekati animasi pada dagangan yang ditawarkan di salah satu stan yang ada di Carrefour di kawasan Padangbulan tersebut”.

Lagi katanya: “Tapi setelah dekat aku melihat tulisan gambar animasi itu tertulis horas. Wah, dalam hatiku langsung panas membara bagai seolah-olah menamparku. Padahal hari sudah larut, tapi kayaknya aku gak sabar menunggu pagi. Aku mulai sibuk mencari nomor hp teman-teman lainnya untuk melaporkan hal ini. Carrefuor sudah melakukan pelecehan terhadap Suku Karo”

Harus diprotes karena sangat berpotensi mengkaburkan identitas Karo

Mungkin sebagian orang akan menganggap hal ini sepele dan tidak perlu dibahas. Namun, jika dibiarkan ini akan berlarut dan menjadi kebiasan sertas berpotensi mengkaburkan identitas Karo. Pasalnya, jelas dalam tampilan itu (animasi pria dan wanita) berpakaian adat Karo, akan tetapi bertuliskan horas, seakan menyapa pengunjung.

Iklan KPPT yang menampilkan wanita berpakaian adat Batak yang dikoyak-koyak oleh para pemuda Karo di Kabanjahe baru-baru ini.

Sapaan Suku Karo yang juga suku asli dan pendiri Kota Medan bukan “horas” melainkan “mejua-juah”. Sehingga, apa yang dilakukan oleh pihak Carrefour ini sangat menyakiti hati masyarakat Karo dan merupakan satu bentuk pelecehan terhadap Suku Karo.

Juga, tak bisa kita pungkiri, hal demikian melatih masyarakat yang pada akhirnya akan terbiasa melihat Karo itu sebagai Batak dengan salam “horas”-nya, maka tidaklah kemudian mengherankan bila orang luar akan menyapa Karo dengan “horas”, karena mereka akan berkata, “buktinya demikian”. Maksud penulis, jika tidak benar salam Karo itu “horas” kenapa tidak diprotes? Apalagi terjadi di kampung sendiri.

Jadi hal demikian harus dibicarakan dengan diterangkan seterang mungkin. Maka apa yang dilakukan Ginting dan teman-teman (IMKA dan PMS) sudah benar dan memang harusnyalah demikian dilakukan sebagai seorang pemuda Karo dan putra bangsa untuk terus menjaga dan mengawal kebhinekaan di negeri ini.

“Aku menghubungi beberapa rekan PMS dan adik mahasiswa IMKA. Akhirnya besok paginya kami bergegas ke sana untuk menyatakan sikap dan tindakan yang sudah menyakitkan hati Suku Karo. Sehingga turunlah spanduk yang tidak sesuai tersebut”.

Kesengajaan atau benar ketidaktahuan Karo bukan Batak?

Saat melakukan dialog dengan pihak Carrefour, Ginting juga mengaku sempat menanyakan kepada Humas Carrefour ikhwal mengapa hal ini bisa terjadi.

“Kenapa kok kalian tulis horas tetapi pakaian adat Karo?” tanya Ginting kepada pihak humas Carrefour.

Pegawai Carefour menurunkan poster iklan mereka setelah mendapat protes dari para pemuda Karo.

“Kami bukan mengancam tapi jangan coba untuk mengusik kami,” lanjut Ginting.

Jawab mereka: “Maaf, bang, kami memang gak paham kalau Karo itu bukan Batak”.

Setelah melakukan protes secara langsung ke lokasi dan pihak pengelola Carrefour, akhirnya Kepala Humas Carrefour meminta maaf dan staf security memohon agar masalah ini tidak diperpanjang.

“Mereka langsung menyadari kesalahan itu dengan langsung membuka spanduk itu dan menyatakan permohonan maafnya. Sehari setelah kejadian itu terjadi saya disms oleh pihak Carrefour melalui messanger facebook untuk membuat spanduk yang sesuai,” terang Ginting.

Apa yang terjadi di Carrefour ini adalah sebuah bentuk bagaimana kita selama ini mengabaikan dan menyepelekan hal yang berkaitan dengan kearifan lokal, yang sesunguhnya menyinggung dan menyakiti hati masyarakat lokal. Kesalahan-kesalahan tersebut terulang menjadi kebiasaan yang kita sendiri pun kemudian enggan untuk memperbakinya karena telah menjadi kebiasaan. Bahkan, kesalahan itu kemudian dianggap sebuah kebenaran.
sumber: sorasirulo

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *