DEMO AHOK, DEMO BAYARAN RP 50 RIBU PER ORANG BERSORBAN DAN BERBAJU KOKO DARI KARAWANG

Mawalu-Melihat tanaman yang sedang mekar bersemi dengan indahnya di Balai kota yang hancur luluh lantak diinjak-injak oleh massa bersorban dan berbaju koko putih menimbulkan kemarahan dalam hati warga Jakarta. Tanaman senilai ratusan juta itu dibuat rusak oleh orang yang bukan warga DKI. Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat yang tak pernah marah itu tak kuasa menahan kegeraman dan amarahnya yang memuncak melihat kondisi tanaman yang indah sebagai simbol Balai Kota itu rusak parah hancur berantakan sama halnya dengan rusaknya otak para demonstran bayaran itu.

Mungkin juga Allah pun miris melihat kelakuan bejat umat-Nya yang punya jiwa perusak yang membenci sesamanya namun berteriak nama-Nya yang suci itu dengan lantang karena selembar Rp 50 ribu. Sebagian besar para demonstran yang bersorban dan berbaju koko berwarna putih itu adalah warga Jawa Barat, tepatnya dari Karawang. Dengan lugunya mereka mengaku ketika ditanyai wartawan bahwa mereka dibayar Rp 50 ribu dan disuruh teriak-teriak Allahu Akbar di Balai Kota.

“Saya dari Karawang mas. Ini pagi tadi datang, malam pulang,” ujar peserta demo ketika ditanyai Wartawan. “Saya dikasih ongkos Rp 50 ribu” kata demonstran lainnya yang bernama Fahri. Demonstran lainnya yang bernama Achmet mengaku, ia disuruh datang dari Karawang untuk teriak-teriak Allahu Akbar di Balai kota. Sumbernya disini.

Kalau per orang dibayar Rp 50 ribu, mari kita ambil kalkulator dan menghitungnya bersama, Rp 50 ribu itu dikalikan puluhan ribu demonstran, Anda bisa bayangkan betapa besarnya dana yang digelontorkan oleh oknum donatur dibelakang aksi demo yang menuntut agar Ahok dibunuh dan mayatnya digantung di Monas itu.

Adalah hal yang mustahil bagi seorang Habib Riziek punya dana sebesar itu kalau bukan disuntik oleh pihak lain yang tak ingin Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta untuk yang kedua kalinya. Lantas pertanyaannya, siapakah oknum laknat berhati busuk dibalik demo bayaran itu? Ah sudahlah enggak usah dibahas. Tahu sama tahu saja. Lain kali usul buat Polisi, periksa KTP para demonstran itu satu per satu, kalau bukan warga DKI, usir pulang ke daerah asal mereka. Jangan bikin rusak Jakarta ini, kami bayar pajak untuk keindahan Jakarta bukan untuk dirusak oleh warga dari daerah lain.

Tolong dicatat baik-baik, aku tak mengharamkan warga negara untuk unjuk rasa, apalagi terkait dengan keyakinan seseorang. Ini negara demokrasi, tiap orang berhak menyuarakan isi hati dan aspirasinya, tapi jika unjuk rasa ditunggangi oleh oknum politikus busuk dibalik layar dengan membayar Rp 50 ribu per orang, pertanyaannya murnikah aksi demonstrasi yang menuntut agar Ahok dibunuh mati dan jasadnya digantung di Monas itu?

Komersialisasi politik dengan jualan nama Allah tentu saja menyakiti hati-Nya. Nama yang suci itu dicemarkan dengan hanya selembar Rp 50 ribu yang notabene adalah buatan manusia. Meneriakkan Asma Allah dijalanan demi selembar Rp 50 ribu adalah tindakan yang menistakan dan melecehkan umat Islam. Betapa menjijikkan.

Semoga laknat Allah dan azab-Nya yang setimpal menimpa mereka yang berhati busuk Itu. Aku mengamininya, Amien.
sumber: kompasiana

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *