TOLERANSI ALA ALMARHUM AYAHKU

FB: Ligad Tarigan
13-10-2016

Ayahku.. Alm A.Tarigan, semasa hidupnya pernah menjadi pelayan gereja ( di Gereja GBKP di sebut pertua.) di desa tanah pinem, kab Dairi, Sumut..

Beliau mempunyai sekitar 20 org anak angkat, umumnya etnis jawa dan mereka beragama Islam. Karena ayahku adalah orang tua angkat mereka, otomatis mereka jadi saudara ku.. Mereka di tabalkan marga Tarigan. Ketika abang2ku dan aku menikah, mereka turut sebagai pihak yang mengundang dan nama mereka tertulis di undangan.. Seperti Umar Tarigan, Rusmin tarigan, Paiman tarigan dst.

Kami semua hidup damai.. Saling menghormati saling toleransi.
Aku ingat.. Ketika kami ingin masak ayam, ayahku memanggil salah seorang anak angkatnya utk menyembelih ayamnya. Kata ayahku ” supaya halal bagi mereka”. Krn pintu rumah tak pernah terkunci semua anak2nya bebas masuk hingga ke dapur.. Bahkan saat kami tak di rumah dan mereka mau makan.. Makan aja..

Jarak dari rumah kami ke mesjid hanya skitar 30 meter.. Sehabis sholat magrib beberapa dari mereka mampir di teras rumah kami.. Ngobrol.. Dan utk mereka bahkan ayahku membelikan kaset dakwah Zainuddin MZ dan di stel di rmh kami..teras rumah hangat penuh tawa mendengar ceramah dan humor dai kondang tsb.. Waktu itu tape recorder msh langka di kampung..

Ketika saudara2ku itu mengadakan kenduri ayahku pasti di undang dan biasanya ayahku slalu hadir lengkap dengan sarung dan peci hitam nya..

Sehari sebelum lebaran rumah kami selalu riuh.. Anak2 angkat ayahku datang.. Membawa makan, kue dll.. Alhasil kue di rmh kami lebih banyak di banding mrk.. Aku suka jenang dan urap nya.

Ketika lebaran..Ayahku hrs membuat jadwal utk memastikan ayah bisa hadir di rumah mereka.. Untuk menyenangan mereka.

Berpuluh thn sampai skr.. Kami saling menghargai, saling mengasihi..
Berpuluh tahun sampai skr.. Tak pernah mereka menyebut kami kafir… Tak pernah ada kata kafir..

Aku tau kata ” kafir ” dari TV..
Dan kata ” Kafir” sangat populer menjelang pilkada..

Aku rindu kampungku.. Rindu saudaraku itu.. Rindu suasana teras rumahku dan melihat mereka memakai baju koko dan peci hitam itu…

Bagi kami.. toleransi itu ada di hati kami.. Di teras rumah, di ruang tamu.. Hingga di dapur kami..
bukan di televisi…

Jabat tangan saudaraku..

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *