850 TON IKAN DI HARANGGAOL MATI MENDADAK

* Bupati Simalungun Mulai Tertibkan Manila (SIB) Keramba Jaring Apung

Simalungun (SIB)- Sekitar 850 ton ikan di perairan Danau Toba wilayah Haranggaol Horisan Kabupaten Simalungun mati mendadak dalam dua minggu terakhir. Menurut warga setempat, ikan mati mendadak diduga akibat kekurangan oksigen.

“Kami kira begitu, karena lubang keramba sudah sangat rapat dengan keramba lainnya, sehingga pergerakan arus maupun gelombang air minim, membuat air kekurangan oksigen. Itu sebab terjadi mati mendadak. Saat ini sudah mencapai 850 ton,” kata Ketua Koptan Pembudidaya Ikan Jaring Apung Lestari Alam Haranggaol Kaspar Purba, Jumat (6/5).

Jenis ikan yang mati mendadak itu, ikan nila dan ikan mas. Budidayanya sistem keramba jaring apung. Akibat kejadian itu, petani Keramba Jaring Apung (KJA) mengalami kerugian yang sangat besar, lantaran ikan yang mati sudah mencapai sekitar 850 ton dalam tempo dua minggu terakhir.

“Awalnya hanya sedikit yang mati yaitu hanya berkisar ratusan kilo gram. Kami anggap biasa. Lama kelamaan, ikan mati terus bertambah hingga menjadi sekitar 10-20 ton per hari. Tidak sampai di situ, kematian ikan terus terjadi dan jika ditotalkan pada saat ini (Jumat 6/5) sudah mencapai 850 ton selama dua pekan ini,” ujarnya.

“Harga ikan di tingkat petani pada saat ini berkisar Rp25 ribu per Kg. Jika dikalikan dengan 850 ton, itulah kerugian petani. Ditambah biaya tenaga kerja sekitar Rp 80 ribu per hari,” tambahnya.

Ironisnya, ikan yang mati mendadak hanya di zona Bandar Saribu, sedangkan di zona lain tidak. Proses kematian ikan terjadi pada malam hari. Sementara ikan patin dan lele jumbo yang dipelihara dengan sistem yang sama tidak mati. Dari sekitar 6000 lubang KJA di wilayah Haranggaol, berkisar 70 persen ikannya mati mendadak.

Pantauan wartawan, bangkai ikan mengambang di keramba membuat wilayah Haranggaol diselimuti aroma busuk. Namun kata warga, belum mengganggu kehidupan. Warga tampak bergotong-royong mengumpulkan ikan mati itu untuk dievakuasi ke daerah pembuangan. Hingga berita ini dikirim, kematian ikan masih terus terjadi di daerah itu.

KEKURANGAN OKSIGEN

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Simalungun Jarinsen Saragih mengatakan, penyebab kematian ratusan ton ikan di Zona Bandar Saribu Haranggaol adalah akibat kekurangan oksigen.

“Sudah sampai sama kita hasil penelitian dari Jakarta, penyebab kematian (ikan) akibat kekurangan oksigen,” kata Jarinsen Saragih.

Beberapa hari yang lalu, masyarakat Zona Bandar Saribu menyampaikan keluhan mereka di hadapan Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM.

“Ikan kami mati pak dan sudah 120 ton kami angkat dari lokasi (keramba). Sekitar 200 ton lagi belum kami angkat,” ungkap Sudung Siallagan, seorang petani ikan di Zona Bandar Saribu.

Menyikapi keluhan masyarakat tersebut, JR Saragih memberikan bantuan Rp 100 juta untuk biaya operasional pembersihan ikan yang mati. Selain itu, disalurkan juga bantuan bibit bawang sebanyak 2 ton kepada masyarakat Haranggaol.

PENERTIBAN KJA

Dalam menindaklanjuti program pengembangan Kawasan Strategis Nasional Danau Toba, Bupati JR Saragih didampingi Dandim 0207 Letkol Inf Oni Kristiyono, Sekda Drs Gidion Purba dan sejumlah pimpinan SKPD dalam kesempatan itu melakukan sosialisasi penertiban KJA.

“Kita harus tertibkan KJA di Haranggaol ini, termasuk yang di Parapat. Kalau tidak, wisatawan tidak akan mau ke Haranggaol. Jalan akan kita buka bekerjasama dengan TNI. Dengan dibukanya jalan diharapkan wisatawan yang datang dari Medan dapat singgah ke Haranggaol,” ujar JR.

Dalam penertiban KJA, bupati mengatakan, Pemkab Simalungun akan memprogramkan pemberian ganti-rugi KJA sebesar Rp 1,5 juta persatu KJA. Oleh karena itu diminta kepada instansi terkait bersama camat dan Muspika setempat untuk mendata semua KJA.

Sebagaimana diketahui, saat ini ada 6.000 unit lebih KJA di perairan Danau Toba khususnya di kawasan Haranggaol.

Pasca matinya ratusan ton ikan keramba di sekitar kawasan Danau Toba, masyarakat Kelurahan Haranggaol Kecamatan Haranggaol Horison Simalungun resah sehingga menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat di dua zona yakni Bandar Saribu dan Rappa.

Selaku DPRD Simalungun Fraksi Partai Gerindra turut prihatin melihat petani keramba di Haranggaol dan dalam waktu dekat kita akan perintahkan pengurus PAC Gerindera Kecamatan Haranggaol Horison akan melakukan kunjungan kepada warga petani di sekitar kawasan Danau Toba. Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi I DPRD Simalungun Jhon MT Saragih kepada SIB lewat via seluler, Jumat (6/5).

Jhon MT Saragih menjelaskan warga yang berpenghasilan kehidupannya dari pengolahan keramba ikan jaring apung (KJA) didua zona Bandar Saribu dan Saparia Haranggaol Kecamatan Haranggaol Horison Simalungun menjadi terkendala dalam menempuh mata pencaharian warga disana sehingga mengakibatkan kerugian hingga miliaran rupiah.

Dijelaskannya, dari hasil yang kita peroleh warga yang bermukim di dua zona tersebut dipadati warga petani lebih kurang 116 KK yang menggantungkan hidupnya dari hasil keramba ikan di kawasan Danau Toba.

Menurut dia, akibat bencana matinya ratusan ton ikan keramba apung di tepi kawasan Danau Toba warga sekitar mengalami kerugian Rp41 miliar.

Segenap warga Kelurahan Haranggaol Horison yang telah mengalami musibah bencana tersebut kita harapkan tetap tabah, bersabar dan jangan putus asa dan tetap berdoa kepada yang maha kuasa agar selalu diberikan jalan keluar. “Kita selaku DPRD Simalungun mewakili Fraksi Partai Gerindra dalam waktu dekat akan mengunjungi kepada warga di Kecamatan Haranggaol Horison Simalungun,” ucapnya. (C09/y).
sumber: hariansib

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *