SOAL ‘WAJIB ULOS”, KANTOR IMIGRASI DIDEMO RATUSAN ORANG

SIMALUNGUN, KOMPAS.com – Ratusan warga etnis Simalungun mendatangi Kantor Imigrasi Kelas II Pematangsiantar, di Jalan Medan, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Rabu (24/4/2013).

Warga etnis Simalungun ini melontarkan protes atas kebijakan Kepala Kantor Imigrasi Pematangsiantar, Fritz Todung Aritonang yang menjadikan bahan ulos dari daerah lain sebagai busana kerja pegawai setiap hari Jumat di Kantor Imigrasi Pematangsiantar.

Di bawah kawalan puluhan aparat Kepolisian Resor Simalungun, pendemo memasuki Kantor Imigrasi seraya mempertunjukkan ritual dan adat istiadat etnis Simalungun. Diawali dengan orasi secara bergantian, mulai dari pemuda Simalungun hingga tokoh adat yang diwakili Sekretaris Jenderal DPP Partuha Maujana Simalungun, Pardi Purba.

Mereka menyesalkan dan menolak kebijakan Fritz Todung Aritonang yang menjadikan bahan ulos yang bukan dari daerah Simalungun sebagai busana kerja di Kantor Imigrasi Pematangsiantar. Kantor tersebut memang berlokasi di wilayah Kabupaten Simalungun.

“Kami tidak terima diinjak-injak di wilayah kami sendiri. Jika busana daerah manapun dipakai dalam acara keluarga, kami tidak akan protes. Tetapi jika busana daerah lain kemudian diwajibkan dipakai di perkantoran di wilayah Simalungun, ya itu namanya menginjak-injak kearifan lokal,” kata Pardi Purba.

Untuk itu, kata Pardi, warga meminta kebijakan Kepala Kantor Imigrasi Pematangsiantar segera dibatalkan. Sebab jika dibiarkan berlangsung akan menimbulkan kemarahan bagi etnis Simalungun. “Itu harus dibatalkan. Dia juga harus meminta maaf kepada etnis Simalungun atas tindakannya yang keliru, disampaikan melalui media massa yang ada di Simalungun,” katanya lagi.

Dalam aksi ini, warga juga menggelar ritual memotong ayam dan manguras (memercikkan air ke seluruh bagian kantor). “Ritual memotong ayam merupakan bentuk tuntutan agar pembuat keputusan yang salah menyadari kekeliruannya. Kita harapkan kejujurannya. Sedangkan manguras artinya membersihkan kotoran-kotoran atau sikap yang salah di lingkungan kantor ini,” jelas Sultan Saragih, budayawan Simalungun, di sela aksi demo berlangsung.

Pada bagian lain, warga melalui koordinator aksi Radi Saragih menyampaikan sikap diantaranya, meminta kebijakan bahan ulos dari daerah lain sebagai busana kerja di Kantor Imigrasi Pematangsiantar dicabut. Mereka juga meminta Dirjen Imigrasi di Jakarta untuk mencopot Fritz Todung Aritonang dari jabatannya. “Kita juga menyerukan yang bersangkutan hengkang dari Kabupaten Simalungun karena tidak memahami budaya lokal,” seru Rida.
sumber: kompas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *