MAJIKAN: DIA ITU ISTRI KEDUA SAYA

Pembantu Disekap dan Diperkosa Cabut Pengaduan

MEDAN-PM : Pengaduan Neniman Waruwu (25) ke Mapolsek Sunggal, yang mengaku disekap dan diperkosa majikannya masih belum diproses polisi. Buktinya, majikannya, Oki Arogea (46) hingga Selasa (16/4), belum dipanggil polisi untuk diperiksa.

Bahkan menurut informasi kasus itu sudah damai. Korban, Neniman sudah mencabut pengaduannya dari Polsek Sunggal. Hal itu diungkapkan oleh seorang keluarganya, Zaluhu.

Menurut Zaluhu, dia dan Harahap yang menemani Neniman mengadu. Tapi, katanya, belakangan Neniman bersama adik pelaku mencabut laporan itu.

“Saya sangat kecewa sekali bang dia bilang dia mau mencabut laporannya. Soalnya, saya yang menjemputnya dari jalanan dan menampungnya di rumahku, tapi mengapa dia mencabut laporan ke polisi,”ujar Zaluhu.

“Temanku yang datang bersamaku ke Polsek Sunggal Harahap juga kesal melihat kelakuan Neniman yang berbalik mencabut laporan. Temanku bilang sudah ditolong malah  begitu,” tandasnya menirukan omongan Harahap.

Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal, Iptu Bambang G Hutabarat belum menerima laporan soal pencabutan laporan korban. Sementara, Kapolsek Sunggal, Kompol Marthin Luther Dachi mengatakan, sedang melakukan razia. “Nantilah saya sedang razia,” ucapnya.

Tapi majikannya, Oki Arogea yang tinggal Jalan Binjai Km 13, Dusun VI, Desa Mulio Rejo, Sunggal, Deliserdang itu membantah semua pernyataan Neniman Waruwu kepada polisi.

Keterangan Oki Arogea melalui surat yang dikirim ke redaksi POSMETRO MEDAN, tertanggal 14 April 2013 disebutkan, bahwa perkosaan yang dinyatakan Neniman Waruwu adalah pernyataan yang tidak benar.

“Yang jelasnya hubungan antara kami adalah atas dasar suka sama suka dan tidak ada paksaan apalagi ancaman pakai pisau,” tulis Oki Arogea.

Menurutnya, pemberitaan yang menyebutkan pisau kecil yang diselipkan di kalung adalah tidak benar.

“Logikanya apa bisa pisau diselipkan di kalung? Mungkinkah itu bisa? Inilah buktinya bahwa cerita itu dikarang-karang atau bohong,” tulisnya.

Menurutnya, bahwa penyekapan juga merupakan cerita bohong. Pasalnya, yang namanya penyekapan berarti dikurung atau dirantai dan tidak bisa kemana-mana “Nyatanya jangankan saya kurung atau rantai sedikit saja Neniman itu pusing langsung saya urut dan beri obat karena Neniman sudah jadi istri kedua saya. Walaupun tidak direstui oleh agama yang saya anut. Jadi penyekapan itu tidak ada.Justru saya menyayanginya sebagai suami dan sering mengajaknya berbelanja, makanya saya heran justru saya dinyatakan melakukan penyekapan. Hal itu tidak benar,” tulisnya dalam suratnya.

Menurutnya, mengenai kebutuhan lahir batin juga selalu dipenuhinya, sampai lahir anak laki-laki mereka.

“Ini menambah kebahagian kami berdua karena terkabulnya keinginan saya punya anak laki-laki dan segala biaya persalinan bidan semua saya penuhi dan ada bukti kwitansi pembayaran,” katanya.

Dia menambahkan, uang yang mau diberikan sebesar Rp200.000 adalah uang untuk mencari rumah kontrakan.

“Kami bertiga dengan anak kami tidak mungkin menumpang di rumah keluarga selamanya,” katanya.

Selain itu, katanya, surat yang disuruhnya untuk ditandatangani merupakan surat perjanjian, agar anak yang dilahirkan Neniman boleh diurus oleh istri pertamanya. Tujuannya agar Neniman tidak terganggu aktifitasnya dalam membangun usaha baru.

Jadi, katanya, dia mensinyalir Neniman Waruwu mengadukannya bukan keinginan hatinya tetapi ada kemungkinan suruhan orang-orang yang mengaku keluarganya dengan tujuan merusak hubungan meraka.

“Gejolak ini timbul setelah orang ketiga mencampuri urusan kami berdua. Sedangkan istri saya yang pertama pun sudah mengizinkan dan menerima kehadiran Neniman Waruwu sebagai istri kedua dengan jiwa besar,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Neniman Waruwu (25) melaporkan majikannya, Oki Arogea (46) ke Polsek Sunggal, Jumat (12/4) siang. Neniman mengaku, diperkosa majikan hingga melahirkan. Takut dilapor polisi, korban disekap di dalam rumah.

Dikisahkan Neniman, perkenalanku dengan Oki terjadi di bulan Mei 2011 lalu. pada saat itu Oki datang ke Nias untuk mencari pembantu di rumahnya. “Dia memintaku untuk ikut dengannya sebagai pembantu di rumahnya. Pertamanya saya menolak. Namun, karena orangtua saya tidak mampu di kampung, saya pun mengamini permintaan Oki. Setelah disetujui oleh keluarga, saya pun dibawa Oki ke Medan,” kenang wanita berkaos kuning itu, sambil menggendong seorang bayi.

Sampai di Medan, Neniman dibawa ke rumah Oki di Jalan Binjai km 13,5. “Di sana, saya bekerja sebagai pembantu dan menjaga anak perempuannya. Beberapa bulan di rumahnya, hubunganku dengan keluarga Oki sangat baik,” katanya.

Setahun bekerja di rumah, tepat Mei 2012 bencana itu terjadi. Saat itu, Neniman tengah beristirahat di lantai 2. Tiba-tiba saja Oki datang dan menindih tubuhnya. “Aku pun berteriak. Namun mulutku ditutupnya dengan tangannya. Bukan itu saja, dia juga mengancamku dengan pisau kecil yang terselip di kalungnya. “Jangan ribut, nanti kubunuh kau. Diam saja,” ucap korban menirukan perkataan Oki.

Neniman sempat melakukan perlawanan. Akan tetapi wanita itu tak berdaya melawan tenaga Oki yang seolah kerasukan setan. “Aku tetap melawan, tapi Oki tetap memperkosa ku. Aku mencoba merapatkan kakiku karena Oki terus mengangkangnya,” bebernya di ruang tunggu Polsek Sunggal.

Sambil menghapus air matanya, wanita malang itu melanjutkan kisah miris hidupnya. “Sejak kejadian itu Oki tampak kalem. Aku sempat berfikir kalau dia tak akan melakukannya lagi. Tapi aku salah. Saat aku mandi, Oki rupanya menunggu ku di depan pintu. Makanya pas aku keluar tiba-tiba dia langsung memelukku dan menodorong ku masuk ke dalam kamar mandi. Dia menciumi ku dan memperkosaku lagi,” beber Neniman.

Neniman bahkan tak tau sudah berapa kali majikannya itu mencicipi tubuhnya. Akhirnya pembantu rumah tangga itu hamil 4 bulan. “Kemudian aku memberitaukannya kepada Oki dan dia berjanji kalau sudah melahirkan akan menikahi ku. Aku pun sempat mengatakan akan melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi. Tapi Oki mengancam akan membunuhku. Aku terus dikurung dalam rumahnya bang, tidak dikasih keluar, mau lari pun nggak bisa, kantor polisi saja aku tidak tau,” ujarnya.

“Setelah melahirkan, tiga hari kemudian bayi ku diambilnya dan aku dititipkannya ke pasar 8 Medan Sunggal, di rumah keluarganya. Disana, aku tertekan batin, selain memikirkan anakku, aku juga disekap. Akhirnya, aku beranikan diri lari menuju jalan besar Binjai. Aku pun teringat dengan salah seorang kerabatku dan kebetulan nomor ponselnya ada samaku. Akupun menghubunginya, dan kami pun berjumpa,” tandasnya, sangat senang saat bertemu Zafan Zahulu, saudaranya.

Selain menanggung aib, merasakan kerinduan pada anaknya. “Aku rindu sama anakku dan aku berniat untuk menjemputnya. Lalu, aku pergi ke rumah Oki di km 13,5. Bukannya diterima dengan baik, aku malah disodorkan uang dua juta dan menandatangani sebuah surat. Aku nggak mau. Sambil menangis akupun balik lagi ke rumah yang menolongku. Setelah itu, kami sama-sama pergi ke rumah Oki, lagi-lagi aku diperlakukan kasar. Tanganku diputar-putar oleh istrinya Oki yang bernama Atimina Warumu. Tapi aku tahankan bang, aku pun mengambil anakku dan pergi dari rumahnya. Karena merasa disakiti, aku pun melapor ke Polsek Sunggal dan berharap Oki dan istrinya diproses secara hukum,” tuturnya sambil memperlihatkan bukti laporan bernomor STTLP/1333/K/IV/2013/Sek.Sunggal.(gib/bud)
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *