DIANIAYA OKNUM POLISI, KORBAN KRITIS DI RS PIRNGADI

Medan, (Analisa).Bangun Marbun (31) warga Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan kritis dan dirawat di RSUD dr Pirngadi Medan, Jumat (19/4). Dia kritis akibat dipukuli puluhan oknum poli si di daerah tempatnya tinggal.

Menurut keterangan ayah korban, Agian Marbun (75), kejadian berawal pada Minggu (14/4) dinihari. Ketika itu, korban duduk bersama rekannya minum di kafe di daerah tersebut. Di lain meja, seorang oknum polisi berinisial Aiptu JM juga duduk bersama rekannya.

Tidak tahu bagaimana, lanjut Agian, oknum polisi itu tersinggung. Dia mendatangi meja korban hingga terjadi pertengkaran. Akhirnya mereka berduel di luar kafe. Dalam perkelahian itu, oknum polisi kalah.

“Tidak tahu alasannya. Mungkin karena pengaruh minuman keras, keduanya sampai berkelahi. Polisi itu kalah,” jelas Agian.

Kemudian, lanjutnya, polisi tersebut pulang dan datang lagi dengan membawa rekannya. “Mereka datang puluhan orang dengan tiga truk. Mereka memukuli anak saya. Tidak puas, mereka juga membawanya ke kantor polisi Dolok Sanggul. Di sana, dia juga dipukuli,” sebut Agian lagi.

Pihak keluarga, katanya, mencoba menjenguk korban di sel. “Tapi, kami tidak diberi kesempatan menjenguk ketika itu. Sampai ibunya menangis-nangis karena khawatir anaknya mati di sel,” jelas Agian.

Akhirnya, lanjut Agian, karena kondisi anaknya kian parah, mereka diperbolehkan membawa korban ke Rumah Sakit Dolok Sanggul. “Kami minta ditangguhkan penahanan untuk membawa anak saya ke rumah sakit,” sebut Agian.

Di Rumah Sakit Dolok Sanggul ternyata tidak sanggup menangani kondisi korban. Mereka merujuknya ke rumah sakit di Balige.

“Tapi, di rumah sakit Balige juga tidak sanggup karena tidak ada pemeriksaan kepala. Mereka merujuk ke Rumah Sakit Pirngadi Medan. Kami bawa dia ke rumah sakit ini kemarin (Kamis, 18/4). Sudah dironsen, hasilnya ada delapan titik tulang dada yang patah. Kepalanya juga sudah diperiksa, tapi belum tahu hasilnya,” sebut Agian lagi.

Pantauan wartawan, korban sendiri masih belum bisa banyak komunikasi. Dia hanya mengerang sambil memegang kepala. Sesekali tubuhnya bergetar seperti terkejut.

Agian sendiri sebenarnya ingin membawa anaknya pulang. Soalnya, mereka tidak memiliki biaya. Namun, atas saran keluarga besar mereka, korban tetap dirawat.

“Saya sendiri tidak membela anak saya. Kalau salah, silakan proses secara hukum, tapi jangan dianiaya sampai seperti ini,” tutur Agian seraya menambahkan kasus ini sudah dilaporkan ke Propam Polres Humbang Hasundutan.

Istri korban, Yusrida Tinambunan, (30) mengungkapkan suaminya merupakan tulang punggung keluarga. Mereka juga memiliki tiga anak yang masih kecil dan membutuhkan ayahnya.

“Saya berharap suami saya bisa sembuh dan kembali beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selama ini, suami saya bekerja sebagai nelayan, mengambil ikan di Danau Toba,” tuturnya lirih.

Bendahara Forum Generasi Muda Naipospos Gandi Situmeang yang mendampingi korban mengatakan, tindakan polisi yang memukul korban tentu tidak dibenarkan.

Karena itu, mereka akan membantu korban dalam proses hukumnya. “Kita akan membantu proses hukum dan agar masalah ini cepat diselesaikan sehingga jangan ada lagi pihak aparat yang bersikap seperti premanisme begini lagi, kalau misalnya ada yang bersalah, ya harus diselesaikan secara hukum, jangan seperti ini,” katanya.(nai)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *