BAPAK JAHAT MEMOTONG LEHER AWAK…

Pengakuan Anak Digorok Ayah

MEDAN-PM : Isnu Anwar Siregar (13), korban yang digorok ayah kandungnya, Dzulham masih dirawat di RS Sundari Ruang VIP II Lantai I. Isnu harus mendapatkan 70 jahitan di bagian leher dan 15 jahitan di bagian jari tangan kanan. Korban yang sempat trauma berat perlahan kandisinya mulai membaik.

Siswa kelas I SMP Muhammadiyah Medan Krio itu sudah mulai bisa berinteraksi dengan keluarganya. “Sudah mulai membaik, tidak seperti saat waktu pertama kali dibawa kemari. Pasien sudah berangsur pulih dan kondisinya stabil,” kata Bambang Utomo, petugas medis.

Menurutnya, jika kondisi Isnu Anwar sudah stabil, dia sudah di izinkan pulang. Namun korban belum bisa terlalu banyak bergerak mengingat luka di lehernya yang masih membutuhkan perawatan. “Kalau sudah membaik dan fisik pasiennya normal, sudah bisa pulang. Tapi untuk saat ini pasien belum bisa terlalu banyak bergerak,” kata Bambang Utomo.

Abdul Muis, paman korban sekaligus abang kandung Dzulham mengatakan, kemanakannya sering menyebut nama ayahnya. “Sudah membaik, tidak seperti kemarin yang bisanya nangis aja. Sekarang dia sudah berani bercerita sama orang, cuma kadang masih mau ngigau dia kalau tidur, sebut-sebut nam bapaknya,” katanya.

Ibu Isnu, Sustriyani (35) mengatakan jika anaknya selalu mengatakan jika ayahnya jahat. “Bapak jahat motong awak,” kata guru Taman Kanak-Kanak itu menirukan ucapan putra pertamanya itu. Isnu belum dikabari jika ayahnya telah meninggal dunia mengingat kondisinya yang masih dirawat dan terbaring di rumah sakit.

Dikisahkan Sustriyani, jika usahanya untuk membuat suaminya sembuh sia-sia. Doa yang setiap saat dia panjatkan demi kesembuhan suaminya pun berujung ujian berat dalam hidupnya. Ia pun harus berusaha keras sendiri untuk memenuhi kebutuhan ke-2 anaknya.

“Semua sudah kehendak yang di atas bang, ini sudah jalannya,” kata wanita yang kerap berbusana muslim itu.

Isnu Anwar sendiri belum mau mengisahkan awal kejadian yang menimpanya, namun dia sempat mengatakan jika ia melihat ayahnya membawa parang dan melekatkan parang ke lehernya. “Bawa parang terus dibikin di leher ku, dipotong awak,” katanya sambil menangis.

Psikolog, Dra Irna Minauli mengatakan, fenomena ini disebut dengan infanticide yakni pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Kebanyakan kasus seperti ini karena meningkatnya jumlah kemiskinan dan kesulitan hidup.

“Fenomena yang terjadi belakangan ini kebanyakan dipicu karena faktor ekonomi, dan kemiskinan yang sangat berpengaruh terjadinya hal seperti ini,” ujar Direktur Persona Psikolog Medan itu.

Menurutnya, biasanya hal ini dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya, karena sang ibu mengalami Post Partum Depression atau depresi paska melahirkan sehingga para ibu merasa sedih dan tidak berdaya dan merasa kalau anak-anaknya nanti tidak mempunyai masa depan yang layak.

“Banyak diantara mereka yang kehilangan harapan hidup, sehingga ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Namun para pelaku juga tetap tidak tega melihat dan membiarkan anak-anaknya nanti bakalan hidup sendirian, sehingga nekat menyertakan anak-anaknya dalam pembunuhan itu,” tambahnya.

Cara atau praktek yang dilakukan oleh pelaku, terdapat perbedaan antar ibu dengan ayah, dan biasanya kalau dilakukan oleh ayah dengan cara kekerasan.

“Untuk para pria umumnya menggunakan cara-cara kekerasan seperti menggorok leher, menikam atau menggantung diri bersamaan dengan anak-anaknya. Namun para ibu biasanya akan menggunakan cara yg lebih lunak dan halus, misalnya dengan cara meminumkan racun atau menenggelamkan anak-anaknya. Dan umumnya membunuh anaknya terlebih dahulu sebelum membunuh dirinya,” jelasnya.

Biasanya para pelaku menunjukkan gejala depresi dan mulai mengeluhkan tentang kesulitan hidupnya. Untuk mengatasinya keluarga harus lebih perhatian dan waspada kemudian memberi dukungan dan bantuan. Dan diperlukan pemahaman-pemahaman yang lebih mendalam kepada sisi keagamaannya, agar lebih mendekatkan diri dan lebih sabar.

“Perlu diberi penguatan dan penanaman kembali nilai-nilai agama sehingga bisa lebih mampu mengatasi stres yg dialaminya. Dan dukungan sosial dan ikatan yang kuat dengan keluarga yang sebenarnya juga dibutuhkan pada saat mengalami kesulitan sehingga tak menderita depresi,” ujarnya.

Sementara Psikolog, Irna Minauli memperkirakan korban mengalami post traumatik stres disaster (PTSD) atau gangguan stres. PTSD atau gangguan stres ini memang biasa dialami oleh orang yang selamat dari bencana atau pembunuhan.

“Dia akan mengalami seperti mimpi buruk, ada flash back. Seperti nonton film, korban akan merasa seperti diteror akan kejadian-kejadian yang membuat dia ketakutan,” kata Irna Minauli.

Dari segi kognitif sendiri, sambungnya, korban mengalami penurunan konsentrasi. Kalau dia sedang dalam tahap pendidikan, kemungkinan gampang menjadi lupa, mudah tersinggung, sedih, dan marah. Bahkan kalau tidak ditangani dengan baik, korban akan mengalami depresi, terjadinya gangguan tidur (insomnia), takut tidur dan seperti mengalami teror malam.

“Memang korban harus ditangani dengan baik, karena korban bisa mengalami depresi, apalagi kalau terbangun tengah malam pasti pikirannya penuh dengan ketakutan,” ujarnya.

Untuk mengembalikan seperti kondisi awal, lanjutnya, korban harus diterapi maksimal selama 6 bulan. “Selain psikolog, untuk mengembalikan kondisi awalnya, korban juga harus mendapat dukungan  dari lingkungan, keluarga, guru, dan teman-temannya, hingga membuat dia lebih percaya diri,” katanya.

Sehingga, lanjut Irna, keluarga harus berperan untuk memberi perhatian khusus kepada korban. “Kesimpulannya, dia akan mengalami depresi jika tidak ditangani dengan baik dan mudah emosional. Jadi keluarga harus memberi perhatian khusus,” ujarnya. (wel/bay/mag-13/smg)
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *