ANGGOTA DPRD PAKPAK DIKECAM

Aniaya Wanita Selingkuhan

SIDIKALANG-PM : Ketua DPRD Pakpak Bharat, Ir. Agustinus Manik mengaku sangat menyayangkan dan mengecam tindakan anggotanya, MHD. Said Darwis Boang­manalu (43) yang tega menganiaya selingkuhannya. Menurut Agustinus, sebagai wakil rakyat seharusnya Darwis berpikir jernih dan tak mudah terpancing emosi. “Saya sangat menyayangkan tindakan itu. Saya akan panggil dia untuk mempertanyakan kejadian tersebut setelah pulang dari Jakarta,” ujar Agustinus yang mengaku masih berada di Jakarta via telepon selular, kemarin (19/4).

Ditambahkannya, selama ini dalam setiap rapat ia selalu menasehati para anggota dewan agar menghindari perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.  “Soal prilaku dan tindakan itu hak masing-masing. Namun saya selalu menekankan kepada mereka (anggota DPRD—red) agar tetap menunjukkan sikap yang baik di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya. Karena sudah membuat ‘malu’, Agustinus Manik berjanji akan memanggil Darwis. Terpisah, Koordinator Komite untuk Pemilih Indonesia (TePi), Jeiry Sumampow mengaku tak kaget mendengar kasus anggota DPRD Pakpak Bharat, Darwis Boangmanalu yang memukul teman wanitannya. Begitu pun, ia tak heran jika ada anggota DPRD Sampang, Mudura, M Hasan Achmad, yang hobi nikah siri, dalam waktu singkat langsung dicerai. Juga kasus Ketua DPRD Bogor yang ditangkap KPK terkait kasus dugaan korupsi tanah kuburan.

Menurtnya, banyaknya anggota DPRD yang berulah tidak terlepas dari proses rekrutmen bakal calon legislatif di internal partai. Sejumlah partai memang menerapkan psikotes, namun hanya formalitas belaka. Sejumlah partai yang lain, justru tidak menerapkan mekanisme psikotes. Jika psikotes benar-benar dijadikan acuan partai untuk memilih caleg, kasus-kasus tersebut tidak akan terjadi.  “Karena lewat psikotes, orang dengan karakter temperamental, yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, yang punya kecenderungan berperilaku korupsi, sebenarnya bisa terdeteksi. Tapi sayangnya, psikotes hanya formalitas,” ujar Jeiry Sumampow kepada koran ini di Jakarta, kemarin (19/4).

Partai, lanjut pria asal Manado itu, tidak menjadikan hasil psikotes sebagai acuan. Beberapa hal yang menentukan lolos tidaknya masuk daftar caleg, menurutnya, justru tak terkait dengan sikap mental. Antara lain, track record militansi di partai, seberapa besar setoran uang ke partai, dan kualitas serta popularitas. “Sehingga orang-orang dengan temperamental keras, emosional, tapi punya uang banyak, ya tetap lolos jadi caleg,” cetus Jeiry. Karenanya, saran Jeiry, mumpung masih ada waktu hingga 22 April, nama-nama yang punya potensi memperburuk citra partai, sebaiknya dicoret saja dari daftar caleg sementara (DCS). Sementara, yang sudah jelas-jelas bertindak ngawur seperti oknum anggota DPRD Pakpak Bharat itu, jika namanya masuk DCS, sebaiknya partai langsung mencoretnya saja.

Sekedar mengingatkan, Darwis terpaksa ber-urusan dengan polisi. Ia dilaporkan wanita Santi (28), wanita selingkuhannya yang bekerja sebagai waitress kafe di Hotel Lolona Jl. Sidiangkat Sidikalang ke Polres Dairi, Kamis (18/4) dengan nomor pengaduan LP/82/IV/2013/SU/DR5/SPK Rabu 17 April 2013.  Dalam pengaduannya, korban mengaku tak tahan lagi, karena telah berulang kali dianiaya oleh wakil rakyat itu. Santi sendiri mengaku telah menjalin hubungan spesial dengan pria asal Jl. Banurea No 23 Salak, Kec. Salak, Kab. Pakpak Bharat itu sejak 2,6 tahun lalu. “Malam itu saya mau menagih utangnya, tapi dia malah membentak dan menghinaku,” lirih Santi.

Tak terima harga dirinya direndahkan, Santi pun berontak. hingga terlibat adu fisik dengan Darwis. Saat itulah, Darwis yang emosi langsung menghajarnya kedua tangannya menderita luka memar. “Aku sudah berhubungan dengan dia selama dua setengah tahun ini. Selama ini ia  sering meminjam uang kepadaku,” tambah Santi lagi. Bahkan sejak dekat, Santi bukan kali itu saja dipukuli, tapi sudah sering. Namun ia tak pernah melapor ke pihak berwajib karena takut. “Sudah lima kali aku dianiaya, tapi takut melaporkannya ke polisi,” jelasnya. Diterangkannya pemukulan itu kerap terjadi saat keduanya kencan di Hotel Lolona Jl. Sidiangkat Sidikalang dan Hotel Beristera Jl. Medan Panji Sibura-bura. “Keduanya aku tak ingat lagi,” jelasnya.

Sementara itu, politikus dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) tersebut saat dikonfirmasi membantah telah melakukan pemukulan terhadap Santi, sembari menjelaskan bahwa pada saat kejadian memang ada adu mulut, tapi tidak sampai mengarah ke kontak fisik, hanya adu mulut semata. “Saya tidak ada melakukan pemukulan terhadap dia (Santi-red) saat itu saya ditemani istri dan dia yang datang marah-marah sama saya,”kilahnya. Seputar pengaduan yang telah dilaporkan Santi ke Polres Dairi,  Said Darwis Boangmanalu mengatakan dirinya memang ada dihubungi  pihak kepolisian. “Ya, saya sudah ada dihubungi pihak kepolisian dan saya akan menghadirinya karna saya memang tidak ada melakukan penganiayaan terhadap siapapun jadi kenapa saya harus takut orang saya tidak salah, saya punya saksi,” kilahnya.

>> Wartawan Resmi Melapor

Tak terima dianiaya saat menjalankan tugas jurnalistiknya, Joseph B Manurung, War­ta­wan POSMETRO DAIRI (groupnya POSMETRO MEDAN) akhirnya melaporkan Sya­wal Ujung (50) yang ­ngaku keluarga dekat oknum ang­gota DPRD Pakpak Bharat, MHD. Said Darwis Boang­manalu ke  Polres Dairi, Jumat (19/4) pukul 15.00 WIB. Pemukulan ini terjadi saat Joseph meliput pengaduan Santi ke Polres Dairi yang melaporkan Darwis terkait dugaan peng­hinaan dan pemukulan padanya,  Kamis (18/4).

Saat itu, tiba-tiba Syawal yang mengendarai Toyota Avanza warna merah hati Nopol B 1174 UOK, datang ke Polres Dairi. Begitu turun dari mobil, Syawal langsung menemui Joseph dan Robinson Simbolon, wartawan salah satu koran terbitan Medan. “Jangan kalian naikkan dan campuri urusan ini,” bentak Syawal. Mendengar hal itu, Joseph hanya cuek dan meninggalkan Syawal. Kesal permintaannya tak ditanggapi, Syawal langsung membogem leher Joseph. Tak hanya itu, pun­dak belakangnya juga dipukul pelaku. Dengan rintih kesakitan, Joseph tak membalas dan hanya menanyakan kenapa Syawal memu­kulnya.”Ja­ngan coba-coba mencam­puri ini dan jangan kau buat beritanya,” ancam Syawal. Tak senang dengan aksi premanisme itu, Joseph pun melaporkan kejadian dialaminya ke Pol­res Dairi dengan bukti LP No: STPL/71/IV/2013/SU/DR/SPK polres Dairi. (smg/deo)
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *