MASSA TUNTUT TANGGUNG JAWABAN PLTA SIPAN SIHAPORAS

Air Bah Kerap Landa Pemukiman Warga

Tapanuli Tengah, (Analisa).Massa tergabung Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) Cabang Sibolga/Tapteng bersama Forum Komunikasi Pemuda Sibuluan (FKPS) dan puluhan warga di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Sibuluan melakukan unjuk rasa, Selasa (16/4) di kantor PT PLN Kitring sektor Pandan di Tapteng. Massa menuntut tanggung jawab manajemen PLTA Sipan Sihaporas.

Warga menuding pengoperasian PLTA Sipan Sihaporas sebagai penyebab meningkatnya debit air Sungai Sibuluan tersebut. Akibatnya sejumlah fasilitas dan pemukiman penduduk menjadi rusak.

Aksi massa membawa spanduk dan selebaran menuntut PLTA itu bertanggung jawab terhadap korban banjir bah di sepanjang DAS Sibuluan.

Mereka juga mempertanyakan dana CSR (Coorporate Social Responbility) PLTA Sipan Sihaporas. Warga mengaku, tidak pernah mendapatkan dana CSR sebagai tangung jawab moril perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Delapan tahun lebih sejak berdirinya PLTA Sipan Sihaporas, namun masyarakat sekitar belum merasakan program CSR atau perhatian apapun. Yang ada malah, memberikan bencana bagi kami yang bermukim di Sibuluan. Tiap musim penghujan, kami disusahkan dengan meningkatnya debit air lepasan dari DAM Site PLTA Sipan ini. Bahkan, areal pekuburan, rumah masyarakat dan lahan pertanian turut tergerus air. Padahal, sebelum PLTA berdiri, banjir seperti ini tidak pernah terjadi,” seru orator aksi, Rajab Nasution.

Massa juga mendesak manajemen PLTA Sipan Sihaporas bertanggung jawab penuh atas kerusakan ekosistem DAS Sibuluan tadi. “Jangan karena demi menyelamatkan aset PLTA atas kekhawatiran rusaknya DAM Site akibat banyaknya kayu glondongan dari hulu, sehingga mengorbankan masyarakat yang berada di hilir sungai. Jika demikian, sebaiknya operasi PLTA ditutup saja, sebab tidak memiliki SOP (standard operating procedure) baik dampak lingkungan maupun masyarakat sekitar,” ketus Ketua HIMMAH, Zuhran Indra Panjaitan bersama warga lainnya.

Lebih sejam berorasi, akhirnya massa diizinkan berdelegasi dengan manajemen PLTA Sipan Sihaporas. Di pertemuan itu, utusan massa bersikukuh peristiwa banjir bah yang kerap terjadi belakangan ini di Sungai Sibuluan disebabkan operasional PLTA Sipan Sihaporas, berujung terjadinya erosi di sepanjang hilir sungai.

Mewakili warga, Nursyarifah br Tompul dan Siti br Panggabean menceritakan, buntut terjangan air bah di Sungai Sibuluan, merusak dua rumah warga, jembatan penghubung dusun di Desa Sipan Sihaporas ambruk, dan 20 an pekuburan warga mengalami kerusakan dan terpaksa dipindahkan (termasuk makam salah satu tuan syekh yang memiliki nilai sejarah bagi warga setempat). Selain itu, telah terjadi erosi di sepanjang bantaran sungai.

“Identifikasi kami menyimpulkan, air bah meluluhlantakkan bantaran sungai dan sebagian fasilitas umum masyarakat, lahan, pekuburan serta rumah warga, disebabkan aktivitas PLTA Sipan Sihaporas di hulu sungai,” tegas Ketua PC HIMMAH Sibolga/Tapteng lagi.

Beri Perhatian

Delegasi sempat alot, akibat pihak PLTA Sipan Sihaporas tak kunjung memberikan jawaban pasti atas tuntutan massa. Namun setelah didesak, Manajer PLTA Sipan Sihaporas diwakili Asmen Operasional dan Pemeliharaan, Sudin Nadadap akhirnya berjanji memberikan perhatian terhadap kondisi warga, terutama korban terjangan air bah Sungai Sibuluan itu.

“Tetapi, kita lebih dulu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana dan Dinas Sosial Tapteng,” sebut Sudin. PLTA Sipan Sihaporas juga menjanjikan kepada massa, pada awal Mei mendatang dilakukan survei dan kajian terhadap lokasi melibatkan P3L PLTA Sipan Sihaporas, Bapedalda bersama mahasiswa dan warga.

Kemudian melakukan koordinasi dengan Pemkab Tapteng tentang kemungkinan usulan program CSR masuk program pembangunan perbaikan beberapa fasiltas yang rusak.

Di kesempatan lain, Sudin Nadapdap kepada Analisa mengatakan, sejatinya pengoperasian PLTA Sipan Sihaporas sudah sesuai prosedur dan kajian serta tak terlepas dari monitoring rutin pihaknya.

“Operasi kita di sana selalu terkontrol, misalnya saat kita melakukan pengoperasian untuk menghasilkan daya 17 MW, tidak terjadi penambahan debit air yang dilakukan secara tiba-tiba. Estimasi air sangat aman dan terkontrol hingga ke hilir sungai,” jelasnya.

Sudin menjelaskan lagi, saat pengoperasian dilakukan, juga tetap memakai warning system (sistem peringatan), meski diakuinya masih perlu penambahan warning system ke daerah hilir.

Ditanya peritiwa ini terjadi akibat maraknya perusakan ekosistem di hulu sungai. Sudin tidak dapat menjelaskan secara rinci.” Itu tadi, yang jelas banyak kayu glondongan yang masuk dari hulu menumpuk di DAM Site, makanya kita juga katakan banjir ini disebabkan faktor alam,” tukasnya. (yan)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *