SOPIR TRUK TERPAKSA BAWA BONTOT TAMBAHAN

Solar Langka di Jalinsum

MedanBisnis – Medan. Kelangkaan BBM jenis solar subsidi yang sudah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir ini, ternyata menyisahkan cerita pilu. Mungkin, hal ini tidak dirasakan oleh kalangan pemilik angkutan yang hanya duduk manis di kantor  tanpa ikut memperjuangkan tambahan kuota solar,  seperti yang dilakukan Organda Sumut.
Hermawan, sopir mobil truk pengangkut bahan makanan dari Medan menuju Pekanbaru menceritakan kisahnya saat mengantre puluhan meter di SPBU kawasan Jalan Tanjung Morawa-Lubuk Pakam Deliserdang.

Pria 38 tahun, ayah tiga anak ini menuturkan dirinya harus meminta bekal makanan tambahan dari sang istri Lusianawati. Sang istri yang hanya ibu rumah tangga itu pun harus menambahkan jatah makanan bagi suaminya yang akan berangkat.

Hermawan yang ditemui MedanBisnis di Jalan Titi Pahlawan Medan Marelan ini mengungkapkan bekal makanan yang dibawa sebagian besar adalah bungkusan lauk sambal. Soalnya, jika lauk lain yang “dibontoti” padanya maka tidak akan bertahan lama atau cepat basi.

“Sebelum berangkat, istri saya harus belanja dan masak lauk dengan sambal. Seperti ikan dencis disambal, atau sambal ikan teri. Nasi juga dibawa dalam bekal. Tapi hanya bisa untuk satu hari saja. Kalau kekurangan nasi, saya beli di rumah makan pinggir jalan,” ungkapnya.

Sambal yang dibawa pun, menurutnya, harus untuk jatah makan dua orang. Sebab, dirinya didampingi rekan sopir pengganti selama perjalanan untuk pengantaran barang ke Pekanbaru. “Kalau makan sendiri, tak sedap,” ujarnya menambahkan.

Bekal itu pun, katanya, harus dibawa dari rumah dengan kemasan pelastik. Saat dirinya selesai makan, maka plastik pembungkus bisa langsung dibuang tanpa harus dibawa pulang lagi. Jatah makannya itupun harus diperbanyak karena sebelum jalan jauh, harus antre isi solar di Tanjung Morawa.

Antrean tersebut, menurutnya, bahkan bisa mencapai satu harian. Belum lagi, pada saat menunggu giliran mengisi minyak, solar yang ditunggu sudah habis. Alhasil, pihaknya harus menunggu sampai berhari-hari. “Kalau lagi apes bisa menunggu sampai dua atau tiga hari. Kalau kita pulang ke Medan, kita tidak dapat uang jalan. Itu sama saja dengan membatalkan pengiriman. Tapi kalau sudah di jalan, meski harus antre, tetap terima uang makan dan uang jalan. Kalau pulang, uangnya harus dipulangkan juga pada pemilik angkutan,” jelasnya.

Bahkan, kata Hermawan, bungkusan makanan lauk tambahan yang dibuat sang istri tercinta, tidak cukup selama dua hari. Jika harus antre di satu SPBU mencapai dua hari, maka belum sampai tujuan di Pekanbaru, lauk sudah habis selama menunggu giliran mengisi solar.

Dia mengemukakan bisa saja berlaku hemat. Namun,jika lauk dan nasi bekal makanan habis, maka dirinya hanya memesan mie instan di satu warung makan pinggir jalan agar menghemat uang. Apalagi, dirinya tergolong perokok berat. “Rokok pun, harus ganti merek. Makan, mulai dibiasakan menghemat dengan makan mie instan saja. Itu harus dilakukan,karena anak saya nomor satu sedang ikuti UN (ujian Negara). Sebelum ikuti UN, kita harus lunaskan uang sekolah dan segala tunggakan di sekolah. Uang itu mengutang, saat saya pulang nanti baru dibayarkan.

Belum lagi biaya sekolah anak saya nomor dua dan tiga di SMP dan Sekolah Dasar,” tutupnya sembari berharap pemilik angkutan dapat menambah ongkos atau uang makan bagi sopir seperti dirinya.(sulaiman achmad)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *