PERUSAHAAN EKSPEDISI TERGANGGU

Solar Langka di Sumut

MedanBisnis – Medan. BBM jenis solar masih langka di pasaran bahkan sebagian besar SPBU di jalan lintas sumatera (jalinsum) terlihat masih kosong. Pihak SPBU mengaku belum mendapat suplai dari PT Pertamina,  sementara pengusaha angkutan umum dan kiriman ekspedisi di Sumut cemas dengan kondisi itu karena pengiriman barang mulai terganggu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Kiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Sumut M Eka Tarigan, mengatakan, pihaknya mengalami kerugian akibat kendaraan pengangkut kiriman barang ekspres khususnya ke kawasan Pematang Siantar, Tebingtinggi, Kisaran, Lubukpakam dan Binjai terlambat sampai ke tujuan.

“Kiriman sampai terlambat karena kelangkaan BBM solar ini. Kiriman barang yang seharusnya sampai malam, malah tiba pada siang harinya. Banyak konsumen yang komplain pada kita. Namun, setelah dijelaskan dan mengetahui pemberitaan di media massa, pelanggan dan konsumen kita dapat memahaminya,” kata Eka kepada MedanBisnis, Selasa (9/4).

Sebelumnya PT Pertamina Ragion I mencatat hingga Maret penyaluran solar subsidi di Sumatera Utara over sebesar 4% dari kuota yang telah ditetapkan 219 ribu kiloliter (kl) menjadi 227 ribu kl . Ini akibat sopir angkutan dan truk menggunakan solar subsidi, padahal Peraturan Menteri ESDM No 1/2013 sudah mengalokasikan solar nonsubsidi untuk angkutan/truk perkebunan, pertambangan dan industri. Makanya, banyak SPBU sering kehabisan solar subsidi.
Apalagipemerintah juga telah mengurangi kuota penyaluran BBM bersubsidi jenis solar ke wilayah Sumbagut hingga 8%, dimana pada tahun 2013 kuotanya tinggal 2.500.000 kiloliter (kl) dari realisasi penyaluran 2012 yang sekira 2.700.000 kl.

Eka mengatakan, masalah yang terjadi pada pihaknya adalah saat barang kiriman milik pelanggan sampai di Medan dengan penerbangan dari Jakarta. Maka pihaknya langsung melakukan distribusi barang kiriman ke daerah tujuan, di luar Kota Medan. “Kalau untuk distribusi barang itu tetap menjadi tanggungjawab kita. Dengan memakai kendaraan operasional milik perusahaan yang menggunakan BBM solar. Namun, kelangkaan terjadi di sepanjang Jalinsum. Tidak hanya di Jalinsum tapi di Kota Medan juga susah mendapatkan solar. Ini yang menjadi masalah utama kita. Alhasil, kendaraan kita harus mengantri sampai 5 hingga 10 jam untuk mendapatkan solar,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Ketua Organda Sumut Haposan Siallagan pun menilai sama. Bahkan jasa kiriman ekspedisi yang berada di bawah naungan organisasinya juga mengakui hal yang sama kesulitan mendapatkan BBM solar. Haposan menilai hal ini terjadi akibat tidak adanya keseriusan PT Pertamina dalam suplai solar ke SPBU.”Di sepanjang jalan Jalinsum sama sekali tidak ada solar. Kita kesulitan mencarinya. Bahkan angkutan kita harus antri dan parkir sampai satu hari di SPBU itu untuk mendapatkan solar. Solar sangat sulit didapatkan, tanggungjawab siapa. Ini menjadi tanggungjawab PT Pertamina selaku pemerintah,” jelasnya.

Dia menegaskan, rencananya, Organda Sumut akan melakukan kunjungan ke PT Pertamina untuk meminta penjelasan terkait masalah ini. Kunjungan itu akan dilakukan pada, hari ini  [Rabu, 10 April] atau Kamis (11/4). “Kita akan mempertanyakan keseriusan Pertamina. Jika tidak ada jawaban maka kita akan melakukan boikot dengan memparkirkan bus dan angkutan umum di Kantor Pertamina,” tegasnya.

Sementara PT Pertamina Region I memastikan stok solar untuk Sumut masih mencukupi sampai 7-9 hari ke depan, di mana kuotanya sepanjang tahun ini sebanyak 1.028.271 kl dan ditambah premium 1.644.454 kl.

Asisten Customer Relation Fuel Retail Marketing PT Pertamina Region I Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Sonny Mirtah, menegaskan, stok solar subsidi masih aman dari kuota yang ditetapkan.

Selain itu, katanya, pihaknya juga sudah melaksanakan tugas dengan menyediakan outlet BBM nonsubsidi, meski pun tidak laku. Sedangkan sosialisasi sudah dilakukan bersama BP Migas dan dinas kabupaten/kota se Sumatera Utara. Namun untuk pelaksanaannya memang diperlukan kerjasama berbagai pihak khususnya pemkab/pemko karena sebagai yang bertanggungjawab memberikan izin beroperasi dan pendataan angkutan. “Sosialisasi sudah ada, jadi jangan hanya menyalahkan Pertamina. Kita sudah siapkan outlet BBM nonsubsidi,” tuturnya. (sulaiman achmad/yuni naibaho)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *