BAKAR REPLIKA RUMAH AKHIRI RITUAL CHENG BENG

Yayasan Budi Luhur Salurkan 13 Ton Beras

Medan, (Analisa).Keluarga Besar Yayasan Budi Luhur dan warga masyarakat Tionghoa Kedai Durian, Selasa (9/4) menggelar ritual sembahyang penutup atau puncak kegiatan Cheng Beng (sembahyang kubur) di Kompleks Pekuburan Tionghoa Yayasan Budi Luhur, Kedai Durian.

Ritual penutup Cheng Beng yang dipimpin seorang Saikong tersebut, selain ditandai pembakaran hio sepanjang 2 meter dan hio kecil di seputaran areal tempat ritual berlangsung, juga ditandai dengan sesajen berupa makanan, minuman serta buah-buahan.

Penutup Cheng Beng tersebut juga diwarnai dengan pembakaran replika rumah, uang, baju, sepatu, selop, dan bentuk-bentuk replika lainnya yang terbuat dari kertas.

Menurut Ketua Yayasan Budi Luhur, Harun yang akrab disapa Alun, kepercayaan warga Tionghoa, pada bulan kedua dan tujuh penanggalan Imlek, pintu akherat dibuka. Mereka yang sudah meninggal, arwahnya akan turun ke bumi dan mengunjungi keluarganya. Nah, saat itulah keluarga harus mengadakan sembahyang kubur, supaya ketemu arwah leluhur.

“Jadi, ritual penutup Cheng Beng yang dilaksanakan setelah 15 hari Cheng Beng tersebut, juga bermakna untuk melepas kembali arwah-arwah para leluhur kembali ke tempat peristirahatannya. Sehingga, pelepasan yang ditandai dengan sesajen berupa makanan dan minuman serta buah-buahan tersebut, dapat memberikan ketenangan para leluhur yang kembali ke tempatnya,” ujar Alun.

Begitu juga, kata Alun, bagi keluarga yang menyelenggarakan ritual penutup Cheng Beng, akan diberikan kemudahan seperti dalam berusaha, bekerja, dalam berumahtangga, dan lain sebagainya diberikan kemudahan dan limpahan rezeki oleh Sang Pencipta.

Bantuan beras

Tidak sampai di situ, Keluarga Besar Yayasan Budi Luhur juga memberikan bantuan beras kepada masyarakat kurang mampu di kawasan Yayasan Budi Luhur. Beras tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Yayasan Budi Luhur, Alun di lokasi ritual pembakaran replika rumah. “Bantuan beras sebanyak kurang lebih 13 ton tersebut berasal dari mitra Yayasan Budi Luhur yang setiap tahun menyalurkan bantuannya kepada Yayasan Budi Luhur, untuk diteruskan kepada masyarakat kurang mampu,” tegas Alun.

Dalam kesempatan itu, Piyan salah seorang warga di seputar Yayasan Budi Luhur menolak keinginan Ketua Yayasan Budi Luhur Harun (Alun) yang sempat berkeinginan mengundurkan diri dari jabatannya. “Alun merupakan sosok pemimpin yang loyal dan mudah bersahabat kepada siapapun. Dia juga dikenal baik peduli kepada sesama. Jadi, kami tidak setuju kalau Alun mundur,” tegas Piyan yang diamini sejumlah rekan-rekannya yang lain, seperti Burhan, Udin sejumlah ibu rumah tangga lainnya.

Usai ritual, Ketua Yayasan Budi Luhur juga memberikan bantuan berupa uang saku kepada kurang lebih 100 orang anak-anak di sekitar Yayasan Budi Luhur yang setiap tahunnya juga ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan Cheng Beng. Selanjutnya, Keluarga Besar Yayasan Budi Luhur dan masyarakat Tionghoa serta mitra-mitra yayasan lainnya, menikmati jamuan makan siang bersama. (msm)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *