VIRUS ‘MYZUS PERSICA’ SERANG TANAMAN PEPAYA DI DELISERDANG

MedanBisnis –Medan. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara (UPT BPTPH Sumut) menemukan virus ‘Myzus persica’ menyerang tanaman pepaya milik petani seluas 31 hektare di Kecamatan Namu Rambe, Kabupaten Deliserdang.
Jika tidak segera ditangani, serangan virus akan semakin meluas dan tidak menutup kemungkinan mengakibatkan kerugian yang besar bagi petani. “Karena itu, petani diharapkan untuk memusnahkan tanaman yang sudah telanjur terserang dalam taraf serangan berat,” kata Kepala BPTPH Sumut, Bahrudin Siregar, kepada MedanBisnis, Jumat (5/4) di Medan.

Dikatakannya, virus tersebut ditemukan pada saat pihaknya dilakukan survei di lahan pertanaman pepaya di lokasi tersebut pada akhir Maret lalu. Dan, dari survei tersebut, diketahui virus menyerang di antaranya di Desa Namu Mbelin seluas 17 hektare,  dan 10 hektare diantaranya kategori serangan ringan, 4 hektare skala sedang dan 3 hektare skala berat.

Kemudian di Desa Kuta Tengah, luas tanaman yang terserang 5 hektare dengan serangan skala ringan 3 hektare, sedang 0,5 hektare dan berat 1,5 hektare. Sementara di  Desa Batu Mbelin, luas serangan mencapai 9 hektare yang terdiri dari serangan skala ringan 2 hektare, sedang 4 hektare dan berat 3 hektare.

Dikatakan Bahrudin, serangan virus ‘Myzus persica’ ini berupa guratan pada daun yang menyebabkan permukaan daun menjadi lebih kasar dan sisi bawah daun bergaris tipis tidak teratur. Sementara pada tulang daun berwarna hijau tua dan membatasi jaringan daun berwarna hijau muda kekuningan.

Serangan tersebut dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan daun dan batang serta buah. Hal tersebut bisa dilihat dari daun-daun kecil pada tajuk tanaman dan menghasilkan buah menjadi lebih kecil. “Serangan virus ini, kalau dibiarkan bisa semakin parah, bisa mengurangi ongkos produksi petani,” ujarnya.

Dengan adanya serangan tersebut, kata dia, pihaknya telah memberikan rekomendasi kepada petani untuk menggunakan sungkup/kelambu pada persemaian guna mencegah penularan pada bibit. Selain itu, untuk tanaman yang sudah terlanjur terserang, harus dimusnahkan. “Penggunaan agens hayati Beauveria bassiana atau Metarrhizium anisopliae sangat baik untuk mengendalikan serangga vektor (penular) sejak di persemaian sampai di pertanaman dengan interval 7 – 10 hari bisa dilakukan,” katanya.

Untuk mencegahnya, petani sejak awal harus menggunakan pupuk kompos dalam menjaga kesuburan tanahnya. “Dan yang penting, jangan ada tanaman sela seperti tomat, terung dan cabai, karena itu bisa jadi tempat berkembangnya virus,” katanya.

Bahrudin menuturkan, dengan adanya permasalahan tersebut, pihaknya saat ini mengusulkan  untuk menjadikan lokasi Sekolah Lapang Pengendalian Hama Tanaman seluas 2 hektare. “Sebagai percontohan, bagaimana mengendalikan hama dan penyakit dengan baik sehingga petani bisa melihat sendiri dan mereka juga bisa belajar,” katanya. (dewantoro)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *