TAK TERLEPAS DARI DUKUNGAN PEMERINTAH

Keberhasilan yang diperoleh Syamsul Sinaga di bawah bendera perusahannya CV Wana Bhati ini tidak terlepas dari dukungan instansi terkait. Dinas Pertanian baik Provinsi Sumut maupun Kabupaten Deliserdang untuk tanaman hortikultura, Dinas Perkebunan untuk komoditas perkebunan serta Dinas Kehutanan untuk komoditas kehutanan.
Untuk komoditas perkebunan yang dikembangkannya cukup bervariasi, sebut saja di antaranya karet dan kelapa sawit. Sedangkan untuk komoditas kehutanan, Syamsul juga ada mengembangkan  bibit tanaman seperti mahoni, jati dan jabon.

“Kami mendapat arahan dan bimbingan dari masing-masing instansi khususnya Dinas Pertanian baik provinsi maupun Kabupaten Deliserdang terutama dalam hal pelabelan (label biru),” jelasnya.
Permentan No 48/2012 tentang Produksi, Sertifikasi dan Pengawasan Peredaran Bibit Hortikultura misalnya. Dinas Pertanian Sumut dalam hal ini Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) lewat petugasnya di lapangan selalu menyosialisasikan Permentan tersebut. Sehingga para penangkar lebih hati-hati dalam memasarkan bibit yang diproduksinya. “Tidak boleh lagi keterangan mutu. Semua bibit yang akan dijual harus memiliki sertifikat label biru,” jelasnya lagi.

Dalam pelabelan, kata Syamsul, jumlah bibit yang akan ditangkarkan harus diketahui oleh BPSB Sumut melalui permohonan yang diusulkan penangkar. Begitu juga dalam perolehan sumber entres/pucuk harus jelas berasal dari pohon induk mana. Tidak hanya itu, dalam proses pengerjaan perbanyakan bibit, juga diawasi oleh petugas lapangan BPSB Sumut.

Setelah persyaratan tersebut terpenuhi, barulah bibit yang dihasilkan untuk kemudian dipasarkan berhak mendapat label biru. “Label biru itu dikeluarkan BPSB Sumut,” kata Syamsul.
Bagi Syamsul, perolehan label biru tersebut tidaklah susah mengingat sumber entres yang diperolehnya sebagian besar dari kebun induknya yang sudah diregistrasi pemerintah, sebagai pohon induk yang layak sebagai sumber entres.

Menurutnya, kebun entres yang dkembangkannya tahun 2008 lalu khusus untuk pengambilan pucuk dan bukan untuk menghasilkan buah. “Tanaman yang telah berumur setahun, sudah bisa diambil pucuknya. Hanya saja, jumlahnya masih sedikit. Tetapi, dengan diambilnya pucuk-pucuk tersebut, tanaman tersebut akan memiliki cabang yang banyak. Dengan begitu, akan semakin banyak pula cabang atau pucuk yang bisa kami panen untuk dijadikan sumber entres,” terang Syamsul.
Untuk saat ini, kata Syamsul, produksi entres yang dihasilkan masih untuk konsumsinya sendiri meskipun ada beberapa penangkar yang ingin membelinya. “Saya tidak keberatan tapi proses pembibitannya harus dilakukan di tempat saya. Ini juga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan demi menjaga kualitas kebun entres yang saya miliki,” ucap Syamsul mengakhiri obrolannya dengan MedanBisnis. ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *