KENAIKAN TARIF ANGKOT, PICU PEMBELIAN KENDARAAN PRIBADI

Transportasi Massal Mendesak

MedanBisnis – Medan. Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumut Farid Wajedi menilai kenaikan tarif angkot di Medan sebesar 35% dinilai menjadi pemicu maraknya pembelian kendaraan pribadi.

Selain pemicu pembelian kendaraan pribadi, kenaikan ini pun dinilai menjadi salah satu penyebab pemborosan BBM meskipun pemerintah berkampanye hemat BBM. Jumat (5/4), Forum Lalu Lintas Kota Medan dan Organda Medan memutuskan kenaikan tarif angkot sebesar 35% yakni Rp 3.800 untuk umum dan Rp 2.500 untuk pelajar/mahasiswa per estafet (10 KM). Sebelumnya, tarif angkot sebesar Rp 2.800 (umum) dan pelajar Rp 1.800 per estafet yang ditetapkan sejak tahun 2008.

Farid Wajedi menilai dengan adanya kenaikan tarif angkot ini banyak dimensi sosial dan ekonomi yang berdampak. Dampak itu terasa bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi umum setiap harinya untuk beraktivitas.

“Kenaikan ini menjadi pemicu pemborosan BBM. Sebab, masyarakat sebagai konsumen akan berpikir lebih baik membeli sepeda motor ataupun membeli mobil ketimbang tetap menggunakan angkot. Karena tarif angkot Rp 3.800 itu hampir mendekati harga satu liter BBM jenis premium,” kata Farid kepada MedanBisnis, Minggu (7/4) di Medan.

Jika untuk kendaraan pribadi seperti sepeda motor, lanjutnya, satu liter BBM dapat digunakan bepergian, akan memicu masyarakat dalam skala besar untuk membeli sepeda motor. Alhasil, yang ada malah kepadatan volume lalulintas di jalan raya dengan konsumsi BBM cukup besar.
“Konsumsi BBM pun semakin besar setiap harinya, dengan tumbuhnya kendaraan pribadi. Ini pemborosan BBM. Tidak ada upaya pemerintah mengurangi kendaraan pribadi bahkan kampanye hemat energi pemerintah pun sia-sia. Karena kenaikan tarif angkot ini juga akan menjadi faktor berpengaruh bagi kenaikan sejumlah kebutuhan pokok dan rumah tangga,” ungkapnya.

Solusinya, tutur Farid, yakni dengan mempercepat realisasi program transportasi massal yakni TransMedan untuk tujuan transportasi yang layak dan pelayanan yang lebih baik.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan Renward Parapat menjelaskan, kenaikan tarif angkot itu bedasarkan usulan dari pengusaha maupun Organda Kota Medan beberapa waktu lalu. Meski sudah diputuskan tarif angkot naik 35%, namun pihaknya sudah membuat komitmen bersama pengusaha angkot dan Organda Medan saat pembahasan tarif untuk melakukan perubahan pelayanan dan manajemen angkot.

“Dalam pembahasan itu kita sudah minta komitmen untuk melakukan penataan angkot dan pembinaan sopir angkot. Pihak pengusaha dan Organda menyatakan siap dan berkomitmen melakukannya. Itu penekanan yang kita lakukan pada pengusaha angkot agar memberikan pelayanan yang baik dengan adanya kenaikan ini. Itu komitmen kita bersama,” ujarnya.
Mengenai desakan realisasi TransMedan, Renward menilai pihaknya akan berusaha secepatnya untuk merealisasikannya. Namun, realisasi TransMedan tidak semudah membalikan telapak tangan. Begitupun, transportasi massal tetap menjadi prioritas pihaknya.

“TransMedan tetap akan direalisasikan, karena dikelola secara profesional maka kita harapkan menjadi transportasi massal yang diunggulkan oleh pemerintah seperti TransJakarta. TransMedan berbeda dengan Damri. Namun itu butuh waktu sembari menunggu pengembangan infrastruktur pendukung seperti jalan,” tegasnya. ( sulaiman achmad)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *