HARUS LABEL BIRU

Sumber pohon induk yang dikoleksi Syamsul Sinaga diperolehnya dari berbagai daerah di tanah air, seperti Pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera termasuk di Sumatera Utara (Sumut) sendiri dalam bentuk bibit. Tentu saja, pengambilan bibit tersebut atas izin dari Kementerian Pertanian (Kementan). Dan, bibit yang diambil juga bibit yang sudah dilepas Kementan sebagai komoditas unggulan daerah tersebut.
Banyaknya permintaan kebutuhan bibit berbagai jenis tanaman baik hortikultura, perkebunan dan kehutanan terutama dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) harus menggunakan label biru menjadi alasan tersendiri bagi Syamsul dalam mengembangkan pohon induk tersebut.

Sebagai penangkar, ia tidak mau mengecewakan para pelanggannya dengan menjual bibit yang tak bersertifikat. Kalau selama ini, bibit yang dipasarkan terutama Aceh masih bisa menggunakan label keterangan mutu, namun sejak tahun 2013 katerangan mutu sudah tidak berlaku lagi.
“Seluruh bibit yang diperbanyak/ditangkarkan para penangkar untuk dijual harus berlabel biru. Ini sesuai dengan Permentan No 48/2012 tentang Produksi, Sertifikasi dan Pengawasan Peredaran Bibit Hortikultura,” jelas Syamsul.

Begitupun, kata Syamsul, tidak semua bibit tanaman bisa mendapatkan label biru. Untuk jenis hortikultura  misalnya, manggis, sawo dan sirsak belum bisa memperoleh label biru. Sebab, Sumut belum memiliki pohon induk yang teregistrasi. Karena itu, pemerintah diminta agar tidak membuat proyek pengadaan bibit manggis, sawo dan sirsak sekarang ini.

Dan, untuk melengkapi keberadaan kebun induk tersebut, Syamsul sudah membuat permohonan ke Kementan agar diberi izin untuk pengambilan bibit pohon induk manggis dan sirsak. “Ada beberapa jenis tanaman yang sudah kami usulkan ke Kementan, dan sekarang ini sedang dalam proses penyiapan bibit untuk dikirim ke Wana Bhakti (perusahaan Syamsul-red). Kami, berharap pasokan bibit untuk dijadikan pohon induk itu nantinya bisa mendukung pengembangan penangkaran bibit tanaman kami sesuai Permentan No 48/2012 tersebut,” jelasnya.

Sejauh ini, bibit berbagai jenis tanaman yang diproduksi Syamsul dipasok untuk memenuhi kebutuhan bibit tanaman ke Aceh. Bahkan, 80% bibit yang diproduksinya dikirim ke Aceh. “Kebutuhan bibit Aceh sejauh ini sangat tinggi terutama pasca tsunami. Bibit yang dikirim bermacam-macam, durian, karet dan sebagainya,” sebutnya.

Terlepas dari tingginya permintaan Aceh, dengan adanya gaung penghijauan yang diprogramkan pemerintah pusat menurut Syamsul membuat permintaan bibit tanaman semakin tinggi. Dan, itu jelas menambah semangat para penangkar untuk memperbanyak bibit tanamannya.

“Sekarang ini banyak lahan pertanian yang sudah beralih fungsi ke berbagai sektor. Ada untuk pemukiman dan tidak sedikit lahan tanaman pangan beralih menjadi areal perkebunan terutama kelapa sawit. Karena itu, untuk tetap menjaga kedaulatan pangan, tiap rumah tangga harus bisa memanfaatkan lahan pekarangannya dengan menanam komoditas pertanian. Paling tidak untuk kebutuhannya sendiri bisa terpenuhi dari  tanaman pekarangan tersebut,” jelas Syamsul terkait tingginya permintaan bibit tanaman sekarang ini. ( junita sianturi)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *