APINDO: ANGKUTAN INDUSTRI SUDAH PAKAI BBM NON-SUBSIDI

MedanBisnis – Medan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut meyakini semua angkutan/truk industri, perkebunan dan pertambangan sudah menggunakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dengan membeli dari Pertamina berdasarkan harga industri yang rata-rata tersedia di dalam pabrik.

Namun, dengan jarak tempuh yang panjang, angkutan tersebut harus mengisi kembali BBM dengan membeli di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). “Sebelum truk keluar, semuanya sudah diisi di dalam lokasi pabrik. Tapi karena banyak SPBU di luar sana tidak menyediakan pompa solar non subsidi, saat truk akan mengisi kembali minyaknya terpaksa harus antri mendapatkan solar subsidi,” ujar Sekretaris Apindo Sumut, Laksamana Adyaksa kepada wartawan, Jumat (5/4) di Medan.

Dijelaskannya, dengan ketersediaan pompa solar non subsidi di SPBU, maka angkutan yang keluar dari pabrik ke Pelabuhan terpaksa mengisi solar subsidi. “Kalau pompa solar nonsubsidi tidak ada, mereka mau isi di mana lagi. Pertamina hanya menyediakan berapa titik saja pompa solar nonsubsidi sementara dimana truk memerlukan minyak tidak bisa ditentukan tempatnya,” kata Laks.

Kalau perlu, lanjutnya, Pertamina membuat semua wilayah khususnya jalan lintas truk pertambangan, industri dan perkebunan menyediakan pompa solar nonsubsidi khusus mobil truk/angkutan tersebut. “Anehnya, kelangkaan solar nonsubsidi juga terjadi di tengah kota. Padahal kita tahu truk dilarang melintas di dalam kota. Jadi solarnya kemana? Berarti Pertamina membatasi ketersediaan solar subsidi juga untuk masyarakat umum yang di dalam kota juga,” ungkapnya.

Terhadap penerapan stikerisasi pembatasan BBM subsidi, menurut Laks, bukan solusi terbaik dan dikhawatirkan terjadi pnyelewengan karena tidak ada yang bisa menjamin sistemnya berjalan lancar. “Takutnya ini akan dimanfaatkan dan ada permainan dari oknum-oknum sehingga merugikan semua pihak,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean truk pengangkut tidak lagi hanya terjadi pada sentra perkebunan atau industri di daerah tetapi juga di Medan. Puluhan truk tampak mengantre membeli solar pada SPBU di Jalan Titi Papan Medan Labuhan. Ada puluhan truk peti kemas berbaris hingga mencapai lebih kurang 300 meter.

Sopir yang umumnya tidak mengetahui aturan larangan membeli solar bersubsidi ini pun mengantri karena takut kehabisan stok solar yang semakin menipis. Pasalnya pada beberapa ruas jalan mereka melihat ada SPBU kehabisan stok.

Asisten Customer Relation Fuel Retail Marketing PT Pertamina Region I Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Sonny Mirtah, mengatakan, dari Permen ESDM no 1 tahun 2013 jelas diatur pembatasan pemakaian BBM subsidi untuk angkutan/truk tambang, kehutanan, perkebunan dan industri. Tapi, pelaksanaannya belum maksimal sehingga terjadi antrian panjang di SPBU.
“Antrian panjang di SPBU untuk mendapatkan solar subsidi ini karena supir angkutan tidak mau membeli solar non subsidi. Sebenarnya, supir tersebut sudah diberi uang untuk membeli solar non subsidi,” katanya.

Pihaknya sudah melaksanakan tugas dengan menyediakan outlet BBM non subsidi, meski pun tidak laku. Sedangkan sosialisasi sudah dilakukan bersama BP Migas dan dinas kabupaten/kota se Sumut. Namun, untuk pelaksanaannya diperlukan kerja sama berbagai pihak khususnya Pemkab/Pemko, sebagai yang bertanggungjawab memberikan izin beroperasi dan pendataan angkutan-angkutan yang dimaksud dalam Permen tersebut. (yuni naibaho)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *