UJICOBA PRAKTEK MENGAJAR CTL SUKSES DITERAPKAN 166 PESERTA USAID PRIORITAS

Tebing Tinggi, (Analisa). Ujicoba praktek mengajar menggunakan model kontekstual atau Contextual Teacher Learning (CTL) akhirnya berhasil dilakoni 166 peserta pelatihan Training of Trainers (ToT) dari USAID PRIORITAS.Ternyata CTL bukan hal sulit untuk dilakukan, jika guru mau belajar.

Pantauan Analisa, Kamis (4/4) ketika seluruh peserta sedang praktek mengajar di SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 4 dan SMPN 5 di Tebing Tinggi, para peserta ternyata punya keterampilan  teknis yang bagus dalam mengimplementasikan teori CTL ke dalam praktek. Hasilnya, anak-anak senang belajar dan proses belajar mengajar (PBM) di kelasterasa hidup.

Kesimpulan ini makin mengemuka saat seluruh peserta kumpul dan berefleksi, usai praktek mengajar. Dalam refleksi itu, dominan para peserta mengatakan pembelajaran kooperatif model kontekstual sangat menyenangkan dan itu bias dilakukan. Mereka menuturkan sukacita yang mereka rasakan saat mengajar.

Jhon Charson Sinaga, guru SMP asal Tapanuli Utara, seorang dari peserta berterus terang. Katanya, menggunakan media belajar yang tepat, sebagai bagian CTL, membantu guru lebih mudah mengajarkan matematika yang selama ini dianggap momok. Tapi dengan media belajar yang tepat dan diajarkan lewat CTL, pelajaran matematika menjadi disenangi anak didik.

Peserta lain, Hermanto menambahi, mengajar dengan alat peraga (media belajar) sangat memudahkan siswa merekonstruksi pengetahuannya dengan baik. Akan tetapi, diakuinya, tanpa keterampilan mengajar dengan model CTL, media sebagus apapun akan gagal.

CTL, kata Juru Bicara USAID PRIORITAS Erix Hutasoit, menuntut bagaimana guru mampu mendaratkan pembelajaran yang dibawakannya ke dalam praktek-praktek kehidupan sehari-hari. Sederhanyanya, bagaimana topik-topik matematika diajarkan kepada siswa dengancontoh-contah nyata yang bias dimengerti siswa.

Pengakuan paling seru dilontarkan Dosen Unimed Izwita Dewi. Iswita yang notabene adalah dosen termasuk yang sering mendidik mahasiswa pascasarjana di Unimed, yang juga turut jadi peserta pelatihan ini mengaku penerapan CTL sungguh luar biasa. “Jujur saja,” ujarnya, “saya tak pernah mengajar anak SMP. Inilah yang perdana. Tapi saya lihat anak-anak itu asyik belajar. Ada yang aktif, ada yang tidak. Asyiknya, lewat CTL, anak bisa menggeneralisasikan kesimpulan sendiri tanpa melihat rumus,”

Mendengar pengakuannya itu, peserta lain cepat-cepat mengaminkan. Izwita percaya, kalau para guru mengajar menggunakan cara demikian (CTL-Red), anak-anak pasti pintar. Ia optimis. Fibri

Rahmawati juga menuturkan hal serupa dengan yang dikatakan Izwita Dewi. Poin berbeda yang disampaiakn dosen Matematika IAINSU ini dititikberatkan pada, pentingnya guru menguasai materi pembelajaran. Guru tak cukup hanya tahu metode mengajar. Sebab, kalau tak menguasai materi, katanya, guru akan kewalahan mengajarkan materi apapun kepada siswa meski si guru itu paham banyak metode mengajar.

Karena itu, sambungnya, tantangan pelatihan ini: para peserta pelatihan diharapkan mampu terus mengembangkan diri dan menularkan ilmunya ke guru-guru lain di daerah masing-masing. Bagi dia termasuk peserta lain yang dari LPTK yang mencetak mencetak calon-calon guru, bagaimana mengembangkan CTL dan menerapkannya dalam proses belajar di kuliah dan di microteaching bagi mahasiswa sebelum PPL (Praktek Pengalaman Lapangan).

Penuturan para peserta pelatihan yang menilai siswa-siswa di SMPN 1 Tebing Tinggi, pintar-pintar, Kepsek sekolah ini, Adrul menyahuti, semua yang baik-baik dikatakan para fasilitator tentang siswa-siswanya justru menjadi cambuk bagi sekolahnya. Kendati demikian, kepsek menanggapi, seluruh elemen sekolahnya akan berusaha sebaik mungkin untuk meningkatkan mutu pembelajaran demi kemajuan anak didiknya. Tak lupa, kepsek juga berterimakasih pada USAID PRIORITAS. (dgh)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *