TERSERET BANJIR, DOKTER CANTIK & ANAKNYA TEWAS

BERASTAGI-PM : Terseret arus deras air gorong-gorong (parit) simpang Pekong Peceren, Desa Sempa Jaya Berastagi, seorang dokter dan anaknya tewas mengenaskan, Rabu (3/4) sekira pukul 13.20 WIB.

Jenazah dr Elisabeth boru Siringo Ringo (33), dokter Puskesmas Sahit Nihuta, Kec. Pangururan, Kab. Samosir dan putranya, Loi Samuel Tarigan (4) ditemukan di lokasi berbeda dengan jarak sekira 3 km. Info yang dihimpun POSMETRO MEDAN, peristiwa tragis ini menimpa warga Perumnas Setiabudi Makmur I, Blok E No 15 Setiabudi Medan ini saat melintas hendak pulang ke tempat dinasnya. Saat ditemui kru koran ini, Christian Silalahi (26) warga Jl. Pintu Air, Kel. Medan Johor mengaku tragedi itu terjadi begitu cepat, hingga ia dan warga sekitar tak sempat menolong kedua koban. Dijelaskan Christian, siang itu ia yang jadi sopir mobil rental berniat mengantar dr Elisabeth ke Pengururan. Tapi saat melintas di lokasi, mesin Toyota Kijang Krista BK 1887 DR yang ia kemudikan mengalami mati mesin karena terjebak genangan air setinggi 60 cm. Ya, siang itu Kota Berastagi sekitarnya memang diguyur hujan yang sangat deras. Ini pula yang membuat sekitar lokasi banjir.

Masih kata Christian, semula tak ada tanda-tanda akan ada kejadian. Namun, seiring naiknya air ke dalam mobil, dr Elisabeth yang kawatir tiba-tiba berniat keluar. “Saat itu aku sudah larang dia agar tak turun, tapi nggak tau kenapa dia tetap turun juga. Padahal, hujan masih sangat deras. Mungkin dia panik karena air mulai masuk ke mobil kami yang mogok,” ujar Christian. Dengan menggendong putranya, dr Elisabeth yang semula duduk di bangku dua sebelah kiri itu enggan mengindahkan larangan sopir. Dalam hitungan detik ia berhasil keluar meninggalkan mobil, sopir dan dua penumpang lain bernama Lasmida boru Saragih (50), warga Jl. Garu VIII, Simpang Limun Medan dan Amarumontang Sitanggang (73), warga Desa Sahit Nihuta , Pangururan dan sopir. Kuat dugaan, saat itu korban berniat menyelamatkan diri karena takut mobil mereka terseret air.

Tapi bak pribahasa, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Usaha dokter berwajah cantik ini malah berbuah naas. Belum lagi sempat melangkah ke pinggir, ia dan putranya langsung terseret arus deras air yang datang dari hulu lokasi dan menyusur menuju gorong-gorong berdiameter 1×1 meter. Spontan, jeritan sopir dan kedua penumpang yang menunggu di mobil sontak menghebohkan warga. Di tengah rasa sesalnya gagal menahan kepergian korban, sopir sempat ikut keluar dari mobil dan berusaha menyelamatkan, tapi kenyataan berbicara lain, korban dan anaknya keburu jauh terseret masuk ke gorong- gorong.

Warga yang mengetahui pun datang membantu dengan melakukan penyisiran mengikuti jalur pembuangan air yang terkenal maut itu. Alur pekong dan tambahan dijadikan titik pencarian. Tanpa menghiraukan hujan deras, warga sekitar tetap berupaya mencari kedua korban. Setelah satu jam melakukan penyisiran, akhirnya dr Elisabeth ditemukan di Tapin Peceren, sekira 1 km dari lokasinya hanyut. Adalah A. Tarigan alias Jona (28), warga Peceren yang pertama menemukan tubuh dr Elisabeth. “Aku belum tau ada orang hanyut di atas. Makanya awalnya kukira batang pisang itu, tapi setelah kudekati, bukan main aku terkejutnya, ternyata benda itu adalah tubuh seorang wanita,” katanya.

Berharap korban masih hidup, Jona lantas mengangkat tubuh korban dari parit besar ke tepian ladang. Tak lama berselang, usaha Jona mendapat bantuan dari warga yang memang sedari tadi bergerak menuju ke arah lokasi. Dari sana, jasad kaku dr Elisabeth ditandu menggunakan batang bambu menuju Jambur Peceren yang telah dipadati warga. Pada saat suasana riuh di jambur pasca kedatangan jenazah dokter itu, kabar lain tiba menyangkut penemuan sang anak. Dari info yang diterima, Loi Samuel Tarigan ditemukan nyangkut di pohon aluran air Tapin Cinur, Simpang Ujung Aji, Desa Rumah Berastagi, atau sekitar 3 km dari lokasi jasad ibunya.

Oleh warga, jasad bocah itu pun dievakuasi ke atas menuju Jambur Peceren. Namun, jasadnya tak sempat bertemu dengan sang ibu yang lebih dulu dibawa petugas ke RSUD Kabanjahe. Baru beberapa menit berikutnya, giliran  mayat Loi dibawa ke rumah sakit yang sama menggunakan ambulance. Kapolsekta Berastagi, Kompol P Sufiytano yang memimpin langsung pencarian didampingi Camat Berastagi, Petrus Ginting, S.Sos Kepala Desa Sempa Jaya, Bantu Purba dan Kepala Desa Rumah Berastagi Moro Purba saat memberi keterangan pers di Kantor Kepala Desa Sempa Jaya mengatakan, kasus ini sedang dalam tahap penyidikan pihaknya.

Namun yang pasti tambah Sufiytano, upaya evakuasi telah berlangsung dengan baik lewat kerjasama matang antara pihak pemerintah, aparat kepolisian dan masyarakat di sepanjang paliren (jalur) pembuangan air. Atas tragedi itu, Camat Berastagi meminta pihak instansi terkait lebih memelihara dan memerhatikan kondisi gorong-gorong dan jalan, agar kejadian serupa tak terulang lagi. Sementara itu, hingga berita ini dilansir, sopir minibus rentalan yang membawa korban berikut kenderaannya masih berada di Mapolsekta Berastagi untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Kita sudah programkan perbaikan gorong-gorong itu agar dilaksanakan oleh pihak Balai Jalan Negara, mudahan-mudahan dalam dua bulan ini itu sudah selesai,” janji Petrus.(smg/deo)
sumber: posmetro

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *