PEMERINTAH ACEH DIIMBAU CARI SOLUSI BIJAK UNTUK LAMBANG ACEH

Tapaktuan, (Analisa). Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Selatan mengimbau Pemerintah Aceh meninjau ulang kebijakan menempatkan burak dalam lambang Aceh seraya mencari solusi terbaik jika memang itu tidak bisa diterima semua pihak.

“Kita mengimbau agar dicarikan solusi terbaik untuk itu jika memang kebijakan yang ditelurkan bersifat kontroversial dan berpotensi konflik,” kata Ketua MPU Tgk.H.Attarmizi Hamid, Kamis (4/4).

Ketua MPU Tgk.H.Attarmizi Hamid mengungkapkan itu ketika dimintai tanggapannya menyangkut berkembangnya keraguan di Aceh Selatan seputar nilai Islami terkait keberadaan burak dalam lambang Aceh yang menggambarkan hewan berkaki empat dengan kepala wanita tanpa jilbab serta mahkota yang oleh sementara masyarakat diakui tidak dikenal di dalam dunia Islam.

Attarmizi saat dikonfirmasi didampingi Wakil Ketua I, Tgk.H.Lukman Ramli,S.Pd, Ketua II Tgk.H.Armia Ahmad dan Sekretaris Tgk.M.Nur Hasan,S.Pd. Dalam kaitan itu, keempatnya sepakat mengingatkan Pemprov Aceh mau berlapang dada melibatkan semua pihak dalam upaya mencari solusi terbaik dimaksud. “Pemprov hendaknya mau berlapang dada untuk mengundang semua pihak di Aceh guna mencari jalan keluar bijak guna menghindari konflik horizontal,” kata Tgk.H.Armia Ahmad.

Sikapi Secara Positif

Pendapat senada dari keempat pengurus lembaga berkompeten di bidang agama menyatakan, semasih Qanun bendera dan lambang Aceh masih “ditangan” Mendagri dalam kaitan melakukan klarifikasi, ada baiknya Pemerintahi Aceh bersama DPRA menyikapi ini secara positif. “Ini peluang bagus untuk menampung aspirasi semua pihak demi kedamaian Aceh,” kata Tgk.H.Lukman Ramli.

Tgk.H.Attarmizi Hamid dalam keterangannya mengaku tidak tahu apakah dalam menggodok Qanun maupun lambang Aceh pihak Pemerintah Aceh maupun DPRA ada melibatkan MPU Provinsi Aceh. Meskipun begitu, jika dirasa kebijakan itu mengandung potensi konflik horizontal agar dicarikan solusi terbaik. Ditambahkan, semua pihak tentunya tidak menginginkan terjadi konflik horizontal dan untuk itu mohon ditinjau kembali dan dibahas ulang dengan melibatkan semua pihak, termasuk MPU.

Menurut pengamatan, berkembangnya keraguan tersebut ditandai menghangatnya pembicaraan tentang lambang Aceh di kalangan masyarakat. Bahkan, seorang ayah di Tapaktuan mengaku bingung untuk memberikan penjelasan ketika anaknya mengajukan pertanyaan sederhana dan polos. Sang anak yang duduk di kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) itu menanyakan, mengapa sosok perempuan pada kendaraan buraq tidak memakai jilbab.

Tentang ini, menurut Tgk.H.Attarmizi Hamid, tidak ada referensi tentang sosok detail buraq yang didalam Al-Quran disebut barq, sehingga tidak mungkin digambarkan dalam bentuk imajinasi manusia dan yang pasti kendaraan ini memiliki kemampuan bergerak dengan kecepatan cahaya. “Kita tidak ingin ada polemik berkepanjangan,” katanya. (ma)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *