PEDAGANG PINDAH KE BAWAH, LANTAI DUA PASAR TAPAKTUAN TERLANTAR

Tapaktuan, (Analisa). Setelah beberapa kali melayangkan protes, puluhan pedagang sayur yang mangkal di lantai dua pusat pasar Tapaktuan (Pasar Inpres) akhirnya pindah berjualan ke lods bawah. Akibatnya, lantai dua berukuran cukup luas itu kini terlantar menjadi areal kosong dan mubazir.

Menurut keterangan Jumat (5/4), aksi “eksodus” para pedagang itu sudah berlangsung sekitar satu bulan setelah Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan Dan Kekayaan Daerah (DPPKKD) bersama DPRK Aceh Selatan merestui keinginan para pedagang untuk pindah berjualan di kompleks bawah Pasar Inpres.

Para pedagang menyebutkan, mereka protes dan menyampaikan aspirasi ke DPRK karena jengkel akibat kebijakan DPPKKD terlalu longgar membiarkan sebagian pedagang sayur berjualan di lods bawah. Akibatnya timbul persaingan ditandai sepinya konsumen berbelanja ke lantai dua. “Tak perlu lagi bersusah payah naik ke atas, sebab semua kebutuhan sudah tersedia di bawah,” kata sejumlah konsumen.

Sepanjang proses persaingan ini berlangsung, sejumlah pedagang di lantai dua di antaranya ada yang menutup usaha berjualan karena sepi pembeli. Namun ada juga yang berupaya dengan berbagai cara untuk mendapat jatah lapak berjualan di lods bawah. Yang berhasil tentunya beruntung karena dapat melanjutkan usaha. “Pandai-pandai bermainlah,” kata sejumlah sumber di Pasar Inpres.

Berlantai Dua

Pasar Inpres Tapaktuan merupakan bangunan permanen berlantai dua yang didirikan pada awal kepemimpinan Bupati Drs.H.Sayed Mudhahar Ahmad,M.Si (almarhum) di awal dekade 1990-an yang dianggap sebagai pasar termegah di Aceh Selatan semasih Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam belum memisahkan diri.

Menurut Kabid Penagihan pada DPPKKD, Harmaini,SE, pada lima tahun berikutnya, saat Aceh Selatan dipimpin Bupati Drs.M.Sari Subki menggantikan Sayed Mudhahar Ahmad telah ditetapkan para pedagang sayur tidak dibenarkan berjualan di lods bawah.

Adapun usaha berjualan komoditas sayur yang dikonsentrasikan di lantai dua meliput berbagai jenis sayur, baik lokal maupun sayur dari luar daerah, termasuk tomat, kentang, cabe, bawang dan berbagai jenis lainnya. Sementara kios-kios di dalam bangunan lantai satu maupun di lods kompleks pekarangan ditetapkan sebagai tempat usaha berbagai kebutuhan pokok. Di kompleks ini juga tersedia lods ikan dan daging serta ayam.

Menurut Harmaini, sejak lima tahun terakhir banyak pedagang sayur yang melakukan pelanggaran dengan membuka lapak di kompleks bawah. Akibatnya lantai dua sepi pedagang sebagai ekses enggannya konsumen berbelanja ke lantai dua.

Harmaini menjelaskan, ini sebagai bagian dari bantahannya tentang tudingan terhadap DPPKKD yang dianggap terlalu longgar membiarkan para pedang pindah ke lantai bawah. “Semua ini terjadi akibat ulah pedagang itu sendiri. Kita sudah melayangkan teguran,” katanya ketika dihubungi Selasa (2/4) lalu.

Dijelaskan, akhirnya para pedagang yang tersisa di lantai atas meminta pindah ke bawah. Setelah dilakukan peninjauan serta dialog bersama DPPKKD dan DPRK, komitmen para pedagang untuk pindah ke areal bawah akhirnya dipenuhi.(ma)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *