DIGEMPUR DAGING MALAYSIA, PETERNAK SAPI DI NUNUKAN ‘ANGKAT TANGAN’

TRIBUNNEWS.COM – Para peternak sapi di Pulau Nunukan tidak berani menyediakan daging segar di pasaran. Mereka mengaku kalah bersaing dengan daging beku kemasan asal India yang didatangkan dari Tawau, Malaysia.

Gondrong, seorang peternak sekaligus distributor sapi di Nunukan mengatakan, harga daging sapi lokal jauh lebih tinggi dibandingkan dari luar. Daging allana dari Tawau misalnya, dijual seharga Rp 50 ribu per kilogram. Sementara menurut agen daging beku di Nunukan, daging asal New Zealand atau Australia dijual Rp 70 ribu per kilogram.

Gondrong mengatakan, dengan menjual daging seharga Rp 75.000 per kilogram, satu ekor sapi potong baru bisa habis 10 hari kemudian. “Pernah kami disuruh buka di Pasar Pagi. Kami menjual satu ekor kadang habis 10 hari, jadi kurang segar jadinya. Orang di sini lebih suka daging dari sebelah, daging dari Tawau,” ujarnya.

Gondong mengatakan, jelas saja daging yang didatangkan dari Tawau lebih murah harganya. Sebab makanan yang digunakan untuk ternak di sana berbeda dengan pakan yang ia gunakan.

“Di sana makanannya tidak baik. Beda aromanya. Lagi pula ini daging segar. Kalau daging Tawau itu terkadang dalam freezer sampai lima bulan baru dijual lagi,” ujarnya.

Gondrong mengatakan, idealnya untuk bisa mendapatkan untung, ia harus menjual daging sapi segar seharga Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kilogram. Di bawah itu tentu merugi.

Ia berharap Pemkab Nunukan bertindak tegas memproteksi masuknya daging-daging beku kemasan dari luar Nunukan. “Kenapa Pemda tidak turun sendiri dari Dinas Peternakan itu? Karena itu kan rumah potong hewan sudah dibangun. Kenapa tidak difungsikan yang di Mansapa? Buat apa direhab terus, diperbaiki terus, kalau tidak ditempati untuk memotong?” ujarnya.

Jika saja Pemkab Nunukan tegas memproteksi daging-daging sapi dari luar daerah, Gondrong memastikan sanggup menyuplai daging segar untuk kebutuhan warga di daerah ini.

“Kalau daging dari luar distop saya siap. Biar berapa ekor saya mampu. 10 ekor perhari juga saya bisa. Yang penting harga dagingnya bisa seperti di Samarinda dan di Sangatta. Harga daging Rp 100 ribu kok habis juga? Di Sangatta bisa 15 ekor perhari, di Samarinda kurang lebih 50 ekor-60 ekor perhari,” ujarnya.

Pemerintah Kota Tarakan juga sangat berani memproteksi para peternaknya sehingga di sana warga bisa mendapatkan daging sapi segar.

“Bagaimana kita contoh Tarakan, di sana mati 9 sampai 10 sapi perhari, karena di sana pemda benar-benar bekerja menahan daging yang dari sebelah (Malaysia),” ujarnya.

Ia baru menyediakan daging sapi segar di Nunukan pada saat hari-hari besar tertentu. Misalnya saja, selama Ramadhan ia memotong hingga 15 ekor sapi. Selebihnya sapi-sapi yang diternak dan didatangkannya dari Sulawesi Selatan hanya bisa dijual ke Tarakan. Setiap pekan, Gondrong mengirimkan 10 sampai 25 ekor sapi hidup ke Tarakan.

Sapi itu dijual dengan harga bervariatif. “Lihat badannya baru kita taksir. Rp 13 juta sampai Rp 17 juta, ada juga Rp 20 juta, tergantung dagingnya. Umpamanya daging naik satu pikul kadang dijual Rp 7,5 juta atau Rp8 juta. Kalau dua pikul dijual sampai angka Rp 15 juta,” ujarnya.

Saat ini Gondrong masih memiliki stok 30 ekor sapi. “Cuma ini untuk saya kirim ke Tarakan. Ternyata masyarakat di sini dia lebih suka sapi allana dari sebelah. Jadi saya jual hidup saja ke Tarakan,” ujarnya.
sumber: tribunnews

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *