OTAK PELAKU MENYERAH DI PERLADANGAN TEBU

Pembunuhan Kapolsek Dolokpardamean

MEDAN- Setelah tiga hari bersembunyi di ladang tebu, Kosdin Saragih alias Pak Yenni (46), otak pelaku penyerangan Kapolsek Dolokpardamean Kompol (anumerta) Andar Yonas Siahaan diciduk petugas Polres Simalungun didampingi pihak keluarga Kosdin, Jumat (29/3) kemarin. Lokasi persembunyian disebutkan sekitar lima kilometer dari lokasi penyerangan massa yang mengakibatkan Andar tewas.
Berdasarkan pengakuan Kosdin di depan petugas, saat ia dilepas polisi atas ancaman warga sekitar, dia dan istrinya Tamaria boru Aruan langsung pergi meninggalkan lokasi.

Keduanya dibawa oleh Boing Silalahi pulang ke rumah mengendarai sepeda motor.

Setiba di rumah, Kosdin langsung pergi melarikan diri ke daerah perladangan tebu. Sang istri memutuskan bertahan di rumah hingga dijemput petugas. Boing Silalahi yang membonceng mereka juga ikut dibawa dan dijadikan tersangka.

“Setelah saya tinggalkan lokasi, saya tidak tahu apa yang terjadi,” kata Kosdin. Ditanya, sudah berapa lama menulis togel, Kosdin mengaku masih lima bulan menulis dengan omset Rp150 ribu per hari. Akan tetapi Kosdin tidak menjawab kepada siapa disetorkan uang tersebut.

Dia beralasan keuntungan dari togel itu hanya sekadar untuk minum-minum bukan lantaran desakan ekonomi.

Pada saat melarikan diri di perladangan tebu, Kosdin mengaku tidak mengetahui situasi yang terjadi di luar. Setelah itu dia pergi ke rumah seorang kerabatnya dan menelepon putrinya yang tinggal di Medan.

Karena sudah diberitakan dimana-mana, sang putri menyarankan agar Kosdin menyerahkan diri. Saat itu Kodin juga baru tahu bila istrinya juga ikut ditahan. Walaupun sudah disarankan demikian, awalnya Kosdin belum memutuskan menyerahkan diri dan mengatakan pikir-pikir dulu.

Namun, Kosdin akhirnya berubah pikiran dan menghubungi keluarganya supaya dijemput saja. Setelah disepakati, pihak keluarga pun membawa petugas untuk menjemput dari tempat persembunyian. Pihak keluarga Kosdin juga menyiapkan dua kuasa hukum untuk mendampinginya selama proses pemeriksaan di Mapolres Simalungun.

Ditanya kenapa mau menyerahkan diri, Kosdin menjawab bahwa batinnya sudah tidak tahan lagi selama pelarian sehingga berani menyerahkan diri.

Sementara itu, Kapolres Simalungun AKBP Andi S Taufik Sik menjelaskan kronologis penyerangan warga dari hasilpemeriksaan dari beberapa saksi termasuk Kosdin.

Dikisahkan kembali, pada saat penangkapan di rumahnya pada Rabu malam (27/3), Kosdin dan keluarganya tidak terima. Akan tetapi petugas masih bisa menahannya dan memasukkannya ke dalam mobil. Akan tetapi selama di jalan, Kosdin berteriak-teriak minta dilepaskan. Beberapa puluh warga ikut mengikuti petugas dari belakang menggunakan sepeda motor.

“Awalnya petugas kita dihambat, namun berhasillolos.

Kedua kali warga kembali menghambat dengan menaruh roda pedati di tengah jalan sehingga mobil terperosok ke parit,” ujar Kapolres Simalungun.

Ketika itu warga sempat menyerbu petugas memaksa Kosdin dilepaskan. Demi keselamatan akhirnya petugas menyerahkan Kosdin.

Akan tetapi setelah dilepaskan warga malah menyerang petugas hingga menewaskan Andar Siahaan.

Ancaman10Tahun Disebutkan sejauh ini, sudah 19 orang resmi ditetapkan sebagai tersangka, 17 orang sudah dibawa ke Poldasu. Salah satu dari 17 tersangka tersebut yakni Tamaria br Aruan istri dari Kosdin Sumbayak.

Sementara dua lagi masih di Mapolres Simalungun yakni Walsen Malau tersangka pencuri uang Kapolsek AKP Andar Nababan dan turut juga menghasut serta Kosdin Saragih, penulis togel,turut juga menghasut dan menghalang halangi tugas kepolisian.

Pasal yang disangkakan kepada para tersangka ini adalah Pasal 340 Subs, Pasal 338 dan Pasal 351 ayat (3) Subs Pasal 358 dan Pasal 170 ayat (2) ke – 3e Subs Pasal 406 Subs Pasal 160 Jo Pasal 55, Pasal 56 Subs Pasal 358 dari KUHPidana. Dengan acaman hukuman minimal 10 tahun penjara.

Menurut Kapolres, Kosdin Saragih bukanya hanya saja dijerat atas kasus perjudian, namun juga pasal tetang menghasut dan menghalang halangi tugas kepolisian menyebabkan petugas Kepolisian meninggal dunia.

“Ini masih sementara, dan kita masih tetap melakukan pemeriksaan lanjutan untuk dilakukan pengembangan. Dan tidak tertutup kemungkinan akan ada lagi tersangka lainnya,” ujar Kapolres Simalungun.

Walsen Malau dan Kosdin Sumbayak juga dikatakan akan dibawa ke Poldasu dalam waktu dekat.

Sementara 4 orang lainnya wajib lapor yakni Tuahman Purba, Mangaratua Purba, Usman Saragih, Irwan Saragih dan dipulangkan ke rumah masing-masing karena belum ditemukan bukti-bukti yang kuat atas tindak pidana kasus pembunuhan tersebut.

Kapolres menjelaskan apa alasannya disangkakan pembunuhan berencana, setelah Kosdin ditangkap ada sekitar 5 kilometer dari jarak ke TKP pembunuhan tersebut. “Ada waktu sekitar 30 menit sebelum terjadi pengeroyokan.

Pada saat itulah, para warga berkumpul dan melakukan perencanaan sehingga terjadi pencegatan hingga dua kali dan kemudian melakukan pembunuhan secara bersamasama,” terang Kapolres Simalungun.

Kosdin dengan menggunakan jaket hitam tersebut tampak didampingi dua orang pengacaranya yakni Jonli Sinaga SH dan rekannya selamadalampemeriksaan. Darirautwajahnya, Kosdin tampak kelahan namun tidak ada melihat menangis.

Saat ditanya bagaiaman dengan ke empat anak Kosdin, Jonli Sinaga SH salah seorang pengacaranya mengatakan bahwa ke empatnya masihberadadikampung.“Anakpalingbesarnya kan di Medan dan sudah pulang. Akan tetapi soal bagaiamana tentang sekolah ke empat anaknya saya belum tahu. Mungkin keluarnya yang jaga,” kata Jonli.

Kapolres Simalungun AKBP Andi Syariful yang dikonfirmasi Sumut Pos via telepon, Sabtu (30/3) petang mengungkapkan posisi terakhir Kusdi diketahui sesudah Kasat Tahti Polres Simalungun yang berkerabat dengan tersangka melakukan pendekatan intensif dengan keluarga tersangka. Sikap keluarga yang kooperatif memudahkan polisi menciduk tersangka dari lokasi persembunyiannya.

Dari kediaman keluarga korban terlihat masih diselimuti suasana duka. Sanak keluarga masih tertidur di satu ruangan beralaskan tikar. Saat akan ditemui wartawan, istri korban P boru Situmorang masih tertidur di ruang tamu. “Lagi tidur itu bang. Kelelahan mungkin, ya sudah berapa hari ini kan harus menjalankan acara adat,” ujar Daniel, putra bungsu mendiang.

Daniel berharap kepolisian segera menangkap para pelaku yang mengakibatkan kematian sang ayah. Dia juga meminta tindakan yang dilakukan oleh ayahnya dilanjutkan oleh para rekan kerjanya di Polsek Dolokpardamean.

“Ya kami tadi sudah cerita-cerita bang. Kami harapa apa yang dilakukan bapak untuk memberantas judi tetap diteruskan,” katanya.

Dikatakan pula, keluarga besar sudah berziarah di makam perwira yang mendapat kenaikan pangkat kehormatan satu tingkat itu. “Karena kami orang batak ya, kami tadi ziarah. Masih sedih juga,” ujarnya. (mag-10/smg)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *