BERANTAS AKAR PERJUDIAN

KETUA SETARA Institute Hendardi sangat setuju perbuatan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan. Apalagi aksi anarkisme yang dilakukan sekelompok masyarakat hingga menewaskan Kapolsek Dolokpardamean Kompol (anumerta) Andar Yonas Siahaan.

Karena itu menurutnya, atas kejadian dimaksud perlu penyelidikan menyeluruh. “Sebab peristiwa kemarin merupakan fenomena luar biasa yang sangat buruk. Dimana akar persoalannya kemungkinan karena selama ini banyak perbuatan anarkisme didiamkan begitu saja oleh pemerintah tanpa penyelesaian menyeluruh,” katanya kepada koran ini di Jakarta, Sabtu (30/3).

Menurut Hendardi, penanganan menyeluruh tidak cukup hanya melingkupi penangkapan dan penjatuhan sanksi pidana kepada seluruh tersangka yang terlibat. Namun juga perlu mengkaji sebab akibat mengapa aksi anarkisme sampai terjadi. Dan mengkaji ulang pola penegakan disiplin terhadap oknum-oknum aparat yang selama ini terbukti melanggar hukum, berbuat di luar batas kewenangan yang diberikan oleh negara.

“Ini sangat dibutuhkan, sebab bisa saja aksi anarkisme muncul dikarenakan akumulasi prilaku sebagian oknum aparat yang semenamena dalam menjalankan taggungjawab. Sehingga penghormatan masyarakat terhadap institusi penegak hukum menurun. Tentu kondisi tersebut turut memberi kontribusi,” ujarnya.

Sebagai contoh Hendardi memapar penanganan dan kebijakan terkait perjudian di tanah air. Di satu sisi, masyarakat melihat untuk kategori perjudian besar, tidak mendapat tindakan yang tegas. Bahkan sebaliknya dibekingi sejumlah oknum aparat. Sementara di sisi lain, judi kelas kampung atau semisal untuk judi toto gelap (togel), yang ditangkap hanya pengedarpengedar kecil.

“Jadi ini bisa saja bagian kekesalan yang memuncak.

Dimana judi kecil-kecil giat diberantas, tapi yang besar-besar dilindungi. Perbuatan semacam ini bukan rahasia lagi,” katanya.

Terpisah, Pengamat Kepolisian Prof Dr Bambang Widodo Umar MSi, dalam kasus ini pihak kepolisian memang melakukan kesalahan fatal yang berakibat buruk itu.

Menurut lulusan Akabri Kepolisian 1971 itu, peristiwa tragis ini lantaran polisi tidak mempelajari situasi secara matang sebelum penggrebekan dilakukan. Guru besar Universitas IndonesiadanmenjadidosendiPendidikanTinggiIlmu Kepolisian (PTIK) itu menduga, AKP Andar bersama ketiga anak buahnya langsung bergerak ke lokasi begitu mendapat informasi adanya judi togel.

“Mestinya, begitu mendapat informasi awal, dilakukan check and recheck bagaimana situasi di lokasi. Tidak boleh gegabah dan emosional, begitu mendapat informasi awal langsung bergerak,” ujar Bambang Widodo Umar kepada koran ini di Jakarta, kemarin (30/3).

Priakelahiran1947mengatakan, mempelajari situasi sebelum melakukan penggrebekan itu penting, baik untuk kasus-kasus besar maupun kasus kecil semacam judi togel.

Misal, sudah tercium di lokasi banyak warga yang terindikasi akan melakukan perlawanan, polisi harus datang ke lokasi dengan kekuatan yang besar. “Kalau di lokasi sudah ada massa, maka penggrebekan harus mengerahkan kekuatan tiga kali lipat. Itu prosedur,” ujar Bambang.

Opsi kedua, jika situasi di lokasi belum memungkinkan dilakukan penggrebekan, maka rencana penggrebekan harus ditunda saja. “Kalau berdasar analisis tidak kondusif, maka batalkan saja, tunggu lain waktu,” ujar Bambang.

Bambang menyarankan Kapolri Jenderal Timur Pradopo melakukan evaluasi menyeluruh kepada jajarannya. Baik menyangkut aspek mental maupun profesionalisme dalam menjalankan tugas. “Pengawasan kepada seluruh jajarannya harus diperketat,” sarannya.

Memang, lanjut dia, ada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang berperan sebagai pengawas eksternal. Namun, kata dia, Kompolnas perannya juga sulit diharapkan bisa mengawasi kepolisian secara obyektif.

“Kompolnas sekarang melekat ke kepolisian. Jadi sudah subyektif, tidak bisa obyektif,” pungkasnya. (sam/gir)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *