ETNIS TIONGHOA GELAR RITUAL CHENG BENG

Di Yayasan Go Sia Kong So

CHENG BENG-Ratusan etnis Tionghoa memadati krematorium untukmelaksanakan sembahyang Cheng Beng sebagai upacara penghormatan bagi para leluhur di Yayasan Sosial Go Sia Kong So,Jalan Pinang Baris No168 Medan,Jumat (29/3).
Medan-Andalas Masyarakat etnis Tionghoaa dari berbagai daerah memadati  Yayasan Sosial Go Sia Kong So, Jalan Pinang Baris No168 Medan  untuk melaksanakan Cheng Beng atau ziarah kubur, Jumat (29/3). Cheng Beng merupakan ritual atau ziarah untuk menghormati leluhurnya yang telah meninggal. Kegiatan ini berlangsung mulai 10 hari sebelum dan sesudah   tanggal  4 April.

Pantauan wartawan  andalas, kepadatan terlihat sejak pukul 07.00 WIB. Para peziarah bersama keluarga datang beramai-ramai dengan menggunakan kendaraan pribadi. Menurut Lie-Lie, seorang peziarah,  ritual Cheng Beng selalu dilakukan masyarakat etnis  Tionghoa secara turun temurun setiap tahunnya. Hal ini untuk mendoakan, arwah orang tua, keluarga dan leluhur yang lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

“Biasanya ritual yang  kami lakukan adalah memberikan sesaji,membakar uang kertas yang biasanya dipergunakan untuk sembahyang,”ucap wanita pengusaha salon kecantikan ini Sesaji ini kata Lie-Lie biasanya diletakkan di altar didepan altar atau makam leluhur masih-masing keluarga.

Selanjutnya, dilanjutkan dengan berdoa untuk leluhur. “Kita membakar hio dan berdoa meminta leluhur kita selalu dalam lindungan Tuhan dan memberikan kebahagiaan bagi mereka di alam sana,” tuturnya.

Untuk di bagian akhir, kata Lie-Lie,dia  membakar semacam kotak  yang dibentuk dari kertas.Di dalam kota terdapat baju kemeja,sepatu, uang yang semuanya terbuat dari kerta.

Ia mengaku ziarah tahunan semacam ini menghabiskan cukup banyak dana. “Dana ini untuk membeli perlengkapan ziarah seperti kertas sembahyang, sesajian dan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu Acuan, seorang pengusaha bengkel warga Jalan Sekip Medan  mengatakan, sudah menjadi  tradisi bagi keluarganya memasuki bulan  Cheng Beng  memberikan penghormatan pada leluhur agar  menghindari kemurkaan dan kesialan dalam hidup ini.

’’Sudah tradisi bagi keluarga kami setiap tahun Cheng Beng untuk memberikan penghormatan pada leluhur agar terhindar dari  kemurkaan dan kesialan dalam hidup ini, ” ujarnya.

Sementara itu, Ng Kim Huat, seorang pengurus krematorium Go sia Kong So menuturkan, pengunjung  tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya karena perayaan Cheng Beng kali ini bertepatan hari libur nasional.

“Saat libur kesempatan etnis Tionghoa  melakukan ritual Cheng Beng dengan keluarga.hal ini bias dilakukan bersama-sama. Meski suasana  ramai,namun kegiatan di sini tetap lancar dan khusuk karena petugas di krematorium selalu siap membantu bilamana ada yang membutuhkan sesuatu terutama pelayanan,”ungkap Ng Kim Huat.

Sembahyang leluhur ini, lanjut dia, tidak berbeda dengan sembahyang umumnya yang dilakukan etnis Tionghoa. Tetap menggunakan berbagai persembahan seperti buah-buahan, makanan, kue, kertas sembahyang, dupa hingga persembahan baju kertas.

Kegiatan Cheng Beng di tempat tersebut sampai menjelang siang peziarah terus berdatangan, baik dari dalam kota maupun luar kota.(Siong)
sumber : harianandalas

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *