PT RAILINK NGAKU RUGI MILIARAN RUPIAH JADWAL OPERASIONAL

Dampak Pengunduran Jadwal Operasional Bandara KNIA

Kuala Namu Internasional Airport  (KNIA) yang sejak awal diperkirakan rampung dan siap beroperasi April ternyata mengalami pengunduran hingga September.

Akibatnya penyedia sarana transportasi kereta api bandara oleh PT Railink diperkirakan mengalami kerugian material hingga Rp48 miliar.

Hal ini disampaikan Plt Direktur Utama PT Railink, Husein Nurroni ketika dihubungi Sumut Pos, Kamis (28/3). Dia mengatakan kerugian tersebut dihitung dari pemasukan PT Railink yang seharusnya bisa didapatkan dari harga tiket Rp80.000 per kepala untuk sekali jalan yang didapatkan dari 4000 penumpang per hari. “Bila jadwal operasional kereta diundur lima bulan maka bisa dihitung sendiri kerugian yang kami alami,” ucapnya.

Padahal, sebagai proyek kereta pertama yang dikerjakan, dia mengatakan PT Railink telah bekerja sesuai target. Bahkan, untuk memastikan ketersediaan kereta api yang semula dijadwalkan April, pihaknya telah meminjam kereta dari PT Kereta Api Indonesia Wilayah Jawa pada Februari.

Sementara itu, Railink telah memesan empat paket kereta api dari Woojin Industrial System yang merupakan produsen dan distributor kereta listrik terbesar di Korsel dengan investasi Rp160 miliar. Satu paket terdiri dari 1 lokomotif dan empat gerbong sehingga total 16 gerbong yang dijadwalkan tiba seluruhnya pada November.

“Kami sudah meminjam empat kereta baru dari Jawa untuk mengantisipasi jadwal kedatangan kereta yang dipesan dari Korea Selatan, dengan tertundanya pengoperasian kami akan merugi dari hitung-hitungan tiket yang akan diterima, karena harus ada uang sewa yang dibayarkan,” tuturnya tanpa menyebut nilai peminjaman kereta tersebut.

Sebelumnya, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hanggoro Budi Wiryawan mengatakan kereta api di Bandara Kuala Namu telah tersedia kereta rel diesel sebanyak dua set atau 10 gerbong karena satu set terdiri dari lima gerbong.

Hanggoro mengatakan kereta api tersebut tidak dapat dialih fungsikan karena sudah beberapa kali digunakan untuk uji coba. “Kalau dikembalikan ke Tegal sambil menunggu bandara dioperasikan ya tidak mungkin, biaya mahal. Kalau dioperasikan ke lintasan lain, nanti malah rusak. Jadi kereta bersiap saja di lokasi karena rel nya sudah sampai ke bandara,” jelasnya.

Husein sebetulnya mengaku kecewa dengan tertundanya pengoperasian bandara tersebut. Selain secara material, juga karena ini merupakan proyek kereta api bandara pertama yang dijalankan oleh Railink.

Namun dia berharap dengan pengunduran jadwal operasional ini, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dapat menyempurnakan segala kekurangan yang ada termasuk sterilisasi jalan, pemasangan palang pintu kereta, dan mengantisipasi kemacetan di 10 titik dari Bandara ke Medan.
Saat ini, Pemerintah Kota Medan tengah membangun fasilitas parkir di lapangan Merdeka untuk 500 kendaraan yang ditargetkan empat hingga lima bulan ke depan selesai terbangun.

Selain itu, mengingat jumlah penumpang bandara yang diperkirakan terus bertambah dari tahun ke tahun, dia juga berharap pemerintah termasuk PT Kereta Api Indonesia dapat segera memulai proses konstruksi double track kereta pada tahun ini.(mag-9)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *