PENDERITA HEMOPHILIA BENTUK WADAH IKHLIM

MEDAN-Penderita kelainan pada darah yang diturunkan orangtua kepada anaknya (khusus laki-laki) atau disebut Hemophilia kini berkumpul dalam satu wadah bernama Ikatan Keluarga Hemophilia Medan (IKHLIM). Saat ini ada 72 orang yang tergabung dalam IKHLIM. Dengan jumlah ini, pemerintah diharapkan dapat memperhatikan penderita Hemophilia lebih baik lagi.

Ketua IKHLMI Siti Rahmah Simanjuntak mengatakan, perkumpulan IKHLMI terbentuk atas ide dan masukkan anggota dewan Brilian Muktar yang sudah lama berdiskusi dengan dirinya. Kemudian IKHLIM disahkan melalui akte notaris dan didaftarkan ke Kesbang Linmas untuk mempermudah IKHLIM ke depan dalam mendapatkan pelayanan dan akses kesehatan nantinya.

Untuk itu, pihaknya berterima kasih kepada Brilian yang telah memberikan banyak bantuan dan masukkan kepada IKHLMI. “Pada kegiatan reses yang dilakukan anggota DPRD Sumut Berlian Muktar, kami mengharapkan mudah-mudahan apa yang kita bicarakan dalam pertemuan ini dapat dibawa pada sidang di DPRD Sumut,” ujarnya.

Beberapa permohonan yang nantinya dapat diperjuangkan oleh Berlian Muktar di DPRD Sumut adalah mengadakan kartu tanda pengenal bagi penderita Hemophilia, sehingga bila terjadi kecelakaan, penderita Hemophilia mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. “Selanjutnya adalah penyediaan ruangan khusus bagi penderita Hemophilia di setiap rumah sakit karena penderita Hemophilia sewaktu sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit sangat rentan terkena virus-virus lain,” ucapnya.

Sementara itu, Brilian Muktar mengatakan, akan membantu dan memperjuangkan hak-hak penderita hemophilia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal.”Kita sudah sampaikan ini ke Kadis Kesehatan Sumut dan nanti saya juga akan buat surat tembusan ke seluruh Kadis Kesehatan Kabupaten/Kota di Sumut, bahkan dua bulan kedepan saya akan sampaikan ini langsung ke Kementerian Kesehatan Republik Indonesia” tegasnya.

Lanjutnya, upaya terdekat yang akan dilakukannya adalah meminta pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Sumut untuk menerbitkan kartu kesehatan seumur hidup khusus bagi penderita hemophilia agar lebih mudah dalam mengakses layanan kesehatan yang tersedia. “Kita akan mendorong agar pelayanan kesehatan bagi penderita hemophilia harus ada diseluruh rumah sakit daerah, kerena selama ini pelayanan hemophilia hanya berada di rumah sakit tipe A dan tipe B  saja, jadi nantinya bagi saudara-saudara yang ada di daerah tidak harus lagi datang khusus ke medan untuk berobat,” katanya.
Menanggapi hal ini, dr Suhartono yang bertindak sebagai narasumber pada sesi dialog kesehatan untuk hemophilia memaparkan, hemophilia merupakan penyakit genetik yang diturunkan melalui orang tua. “Kebanyakan yang terkena hemofilia adalah anak laki-laki”, ungkapnya.

Anak dengan hemofilia sangat rentan terhadap pendarahan, karena anak dengan hemofilia tidak mempunyai faktor 8 dan faktor 9 dalam pembekuan darahnya. Sehingga, setiap terjadi luka dan lain sebagainya, lukanya akan susah mengering karena darah akan keluar terus. “Kita berharap kepada para penderita hemofilia dapat mengaku dan mengatakan kalau mereka mengalami hemofilia, sehingga dokter dan para tenaga mendis lebih mudah dalam melakukan tindakan jika terjadinya pendarahan terhadap diri mereka,” harapnya.  Sedangkan dr Sugiani SpA mengatakan, hemophilia merupakan penyakit kelainan pada darah yang diturunkanorangtua kepada anaknya (khusus laki-laki). “Jadi bagi mereka yang terkena hemophilia diharapkan menghindari insiden yang dapat mengembuat luka. Bila terjadi perdarahan di bagian otak bisa terjadi cacat, atau kakinya bengkok,” ujarnya. (mag-13)
sumber: hariansumutpos

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *