TUKANG PARKIR CABULI BOCAH DI WARNET MASIH BERKELIARAN

[JAKARTA] Seorang tukang parkir sebuah kampus universitas swasta di Jakarta Timur berinisial TP (20), diseret ke pengadilan karena diduga mencabuli bocah perempuan berusia enam tahun berinisial AKH.

Dengan berpura-pura memangku korban, TP mencabuli korban saat bermain internet di warung internet (warnet) milik keluarga korban.

Peristiwa itu diketahui keluarga ibu korban, M (36), saat melihat anaknya merasakan sakit di bagian kelamin yang saat diperiksa terlihat memerah.

“Ada tanda kemerahan, waktu ditanya, korban bilang diucuk-ucuk (dikorek-korek),” kata M saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (27/3).

Menurut M, peristiwa itu terjadi pada 15 Juni 2012 lalu. Saat itu dirinya sedang memasak di dapur rumah yang menyatu dengan warnet, sementara ayah korban Y (35) sedang berada ke luar rumah.

Ketika korban, yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara itu sedang bermain komputer, pelaku tiba-tiba duduk di belakangnya dan langsung memangku korban.   A (17), saudara M yang saat kejadian menjaga warnet sedang fokus bermain game online dan menggunakan headset.

“Kejadiannya di warnet, lagi dijaga sama A. A lihat pelaku memangku korban, tapi dia enggak tahu ada kejadian itu, karena konsentrasi main game pakai headset. Si korban dipangku sekitar 20 menit, pertama dibekap dari belakang, lalu tangan pelaku dimasukan ke kelamin korban yang tak bisa berontak karena ditekan di bagian leher dari belakang,” kata M.

Mengetahui kejadian itu, keluarga kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Polri untuk divisum.   Hasil visum menyebutkan, terdapat robekan baru pada selaput darah arah jam 11 tidak sampai dasar dan luka lecet warna kemerahan pada bibir kemaluan yang disebabkan kekerasan tumpul.

“Berdasar pengakuan korban dan hasil visum kami melaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Timur pada 17 Juni lalu,” kata M.

Kasus ini sudah berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, namun sejak dilaporkan hingga kini, pelaku belum juga ditahan.   Menurut M, pelaku hingga kini masih beraktivitas seperti biasa, padahal TP dijerat Pasal 82 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal tiga tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.

“Kenapa ancaman hukuman di atas 10 tahun tapi tidak ditahan. Sebagai seorang ibu, saya mempertanyakan hal ini,” kata M. [F-5]
sumber: suarapembaruan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *