GILIRAN KOMPOLNAS KUNJUNGI LP SLEMAN

Presiden harus segera membentuk tim investigasi terkait kasus ini.

JAKARTA – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Kamis (28/3) siang, mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Yogyakarta, atas kasus yang menewaskan empat tahanan. Ia datang ke sana untuk mencari informasi sebab perkara dan siapa pelaku yang harus bertanggung jawab pada kasus tersebut.

Sebelumnya, Kompolnas menemui Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Brigjen Sabar Rahardjo di Mapolda. Sehari sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga telah mengunjungi LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Anggota Kompolnas Hamidah Abdurahman ketika dihubungi SH melalui telepon genggamnya menyatakan, pihaknya datang ke LP Cebongan untuk menggali keterangan dan informasi secara jelas terkait persoalan penyerangan di LP itu.

Dari hasil penyelidikan Komnas HAM ke LP, diketahui ada satu saksi yang berteriak “hidup Kopassus” seusai melihat sang eksekutor menembak empat tahanan titipan Polda DIY di LP itu. Hamidah menuturkan, hasil penyelidikan Komnas HAM diakuinya menjadi bagian yang turut dipertanyakan dalam kunjungannya itu.

“Saya sudah konfirmasi ke Direktorat Kriminai Umum Polda DIY bahwa di antara 45 saksi yang diperiksa, tidak semua mendengar kata-kata tersebut. Saya sedang mendalami hal tersebut,” ujarnya.

Ditanya SH apakah kejadian di LP Cebongan dan menewaskan empat tahanan masuk dalam kategori supersif, Hamidah tidak secara tegas menjawab pertanyaan itu. Baginya, penyerangan itu melanggar HAM. “Kalau dilihat dari perbuatannya, ini adalah berencana. Namun dari modus yang dilakukan, ini adalah teror terhadap hak-hak warga negara,” tuturnya.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Suhardi Alius yang dihubungi SH terkait temuan Komnas HAM mengaku belum tahu.

Sebelumnya, Komnas HAM dalam penyelidikannya menuturkan pelaku penyerangan LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dilakukan oleh satu eksekutor. Usai eksekutor menembak, puluhan tahanan yang melihat kejadian itu diminta para penyerbu untuk bertepuk tangan. Lalu, seorang tahanan tiba-tiba berteriak, “Hidup Kopassus”. Teriakan itu dibalas ancaman oleh eksekutor dengan pernyataan, “jangan sembarangan bicara kamu, nanti saya tembak.”

Tim Investigasi

Terpisah, Koalisi Tokoh dan Masyarakat Sipil mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk segera membentuk tim investigasi dan pencari fakta yang bersifat independen terkait peristiwa penyerangan disertai pembunuhan di luar proses hukum di LP Cebongan pada Sabtu (23/3) lalu.

Sejumlah tokoh lain turut hadir dalam peryataan koalisi di Hotel Arya Duta Jakarta, Rabu (27/3) siang. Di antaranya Todung Mulya Lubis, Irman Putra Sidin, Neta S Pane, Bambang Widodo Umar, Haris Azhar, Al Araf, Lerry Mboik, dan Miryam Nainggolan.

Ketua Setara Institute Hendardi, salah satu tokoh koalisi, mengatakan, pentingnya pembentukan tim investigasi independen karena selama ini tidak pernah ada tindak lanjut atas kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Terlebih, penyerangan diduga kuat dilakukan oleh orang-orang terlatih yang bertindak sistematis, cepat, dan dilengkapi senjata jenis AK-47 serta granat.

Tokoh koalisi lainnya yang juga pengajar di Universitas Indonesia (UI), Thamrin Amal Tomagola, meminta investigasi tuntas melalui tim yang dibentuk presiden melalui keppres. Koalisi mengultimatum, jika negara tidak mampu menunjukkan kewibawannya maka kondisi itu merupakan peringatan SOS kepada masyarakat internasional. “Jika enam bulan tidak ada tindakan, kami akan melapor ke PBB,” tegasnya.

Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila yang dihubungi SH, Kamis pagi, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengunjungi LP Cebongan untuk meminta keterangan saksi dan menyaksikan rekonstruksi. Hasilnya, ditemukan adanya penganiayaan terhadap petugas LP, perampasan inventaris LP di antaranya dua televisi, server, dan empat telepon genggam milik petugas LP.

“Penganiayaan kepada petugas LP berupa tendangan, pukulan, diinjak, ditodong pistol, dan diseret. Sebanyak 31 penghuni LP ruang Anggrek A5 menyaksikan penembakan dan membuat mereka ketakutan setelah dimintai keterangan oleh pihak Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” jelasnya.

Salah satu anggota Komnas HAM, Mimin Dwi Hartono di sela-sela kunjungan ke LP Cebongan, Rabu siang, mengatakan, gerombolan bersenjata yang menyerbu LP Cebongan setelah membantai empat tersangka pembunuh Sertu Santoso, anggota Kopassus meminta para napi lain untuk bertepuk tangan. “Tapi saya tidak tahu artinya dan mengapa pelaku meminta itu,” ujarnya.

Terkait pelindungan saksi, Komisioner Komnas HAM Otto Nur Abdullah memastikan pihaknya akan membantu perlindungan dengan koordinasi bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Menurutnya, kasus ini berkaitan erat dengan tiga lembaga, yakni TNI-Polri dan Menhukham. Ia meminta masyarakat sipil menjaga agar kasus ini jangan sampai bergeser ke sentimen etnis. “Itu yang sangat penting, atau masalah premanisme,” urainya.

Di lokasi berbeda, Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai memastikan LPSK segera menurunkan Tim Satgas untuk Saksi LP Cebongan terkait perlindungan saksi dalam tragedi penyerangan di LP Cebongan. “Ada sekitar 31 saksi yang direkomendasikan untuk dilindungi karena mereka mengalami trauma dan ketakutan,” tuturnya.

Kantongi Ciri Pelaku

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (27/3) siang menyebutkan, pihaknya sudah mengantongi ciri-ciri para pelaku bersenjata laras panjang dan bertopeng dalam penyerangan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

“Jelas kita sudah mempunya info itu dari keterangan saksi. Cuma kita belum bisa sampaikan kepada publik karena akan digunakan lagi untuk penyelidikan. Itu bagian dari pendalaman penyelidikan,” katanya.

Dia membenarkan bahwa pelaku penyerangan di LP menggunakan bahasa daerah tertentu karena lokasi kejadiannya berlangsung di Pulau Jawa.”Ya ada tetapi itu bagian dari penyelidikan. Artinya apakah dialek, perawakan, ciri-ciri, alat-alat apa yang dipakai pasti digali disitu. Itu namanya proses olah tempat kejadian perkara (TKP),” katanya.

Aksi yang dilakukan 17 orang bertopeng sudah terencana rapi. “Dibilang terencana iya betul. Ini direncanakan dengan baik,” ucap Boy. Itu karena, kata dia, para pelaku melakukan aksi mereka hanya dalam waktu singkat, kurang lebih 15 menit.

Boy mengatakan, pihaknya belum pada kesimpulan bahwa pelaku penyerangan ke LP Cebongan itu adalah jaringan teroris. “Belum bisa. Itu kan baru kemungkinan-kemungkinan. “Nanti kami lihat dari fakta-fakta yang ada. Tentu kami belum sampai pada kapasitas bilang bahwa itu jaringan teroris atau siapa itu merupakan bagian analisis yang dibangun berdasarkan fakta yang kita peroleh,” katanya.

Saat ini pelakunya belum bisa diketahui. Namun dia memastikan akan terus berusaha melakukan penyidikan. Hal tersebut belum bisa dijelaskan secara detail kepada wartawan. “Belum, kami sangat berharap doa dari masyarakat agar mendapatkan kemudahan yang Maha Kuasa agar bisa melaksanakan proses hukum seadil-adilnya atas peristiwa ini,” katanya.

Pada Sabtu (23/3) dini hari gerombolan bersenjata menyerang LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Mereka memaksa masuk ke LP setelah mengancam dan menganiaya sejumlah sipir. Gerombolan bersenjata itu menembak mati empat tersangka kasus pembunuhan Sertu Santoso (31), anggota Kopassus grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, di “Hugo`s Cafe” , Jalan Laksda Adi Sutjipto, Maguwoharjo, 19 Maret 2013.

Mereka tewas ditembak di sel 5A Blok Anggrek itu, yakni Angel Sahetapi alias Deki (31), Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33), Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu alias Adi (29), dan Yohanes Juan Manbait (38). Keempat tahanan tersebut adalah titipan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Serangan terjadi kurang dari 14 jam sejak proses pemindahan tahanan dari Polda, Jumat (22/3) siang.

Terpisah, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta para bupati dan wali kota untuk mempersulit izin pendirian asrama-asrama yang hanya dipakai etnis tertentu di wilayah DIY. “Persulit saja izinnya jika ada permintaan membuat asrama untuk etnis,” kata Sultan.
Pernyataan tegas orang nomor satu di DIY ini dilontarkan dalam acara sarasehan “Sinergitas Penanganan Konflik Sosial” di Denggung, Sleman, Rabu (27/3) siang. Acara ini diadakan terkait dengan insiden penyerbuan LP Cebongan pada Sabtu (23/3). Dalam acara tersebut hadir Komandan Korem 072 Pamungkas Brigjen TNI Adi Widjaya, Kapolda DIY Brigjen Sabar Rahardjo, Bupati Sleman Sri Purnomo, dan para tokoh masyarakat serta utusan para pemuda luar daerah.

Ratusan mahasiswa tergabung dalam Forum Komunikasi Keluarga Besar Nusa Tenggara Timur (FKKB NTT) se-Malang Raya, Rabu malam menggelar aksi keprihatinan tewasnya empat tahanan LP Cebongan. (M Bachtiar Nur/Web Warouw/Yuyuk Sugarman/Eka Susanti/Ant)
sumber : shnews

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *