BENDERA ACEH BERKIBAR DI BERBAGAI DAERAH

Blangpidie, (Analisa). Pasca disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan dimasukkan ke dalam lembaran daerah, bendera dan lambang daerah Aceh, mulai berkibar di sebagian besar wilayah provinsi ini.

Penggunaan bendera dan lambang Aceh ini mulai berlaku 25 Maret 2013 setelah Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menandatangani Qanun Nomor 3/2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Qanun itu juga diundangkan dalam Lembaran Aceh Tahun 2013 Nomor 3 dan berlaku untuk pertama kali secara yuridis formal.

Sejauh yang berhasil dipantau, pengibaran bendera dan lambang Aceh antara lain dilakukan di Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Timur, Kota Banda Aceh, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Ketua Partai Aceh (PA) Abdya, Nazir, melalui juru bicaranya, Hamdan Budiman, sesaat setelah mengibarkan bendera di kediamannya di Desa Rambong Kecamatan Setia, kepada Analisa, Selasa (26/3) mengatakan, dengan ditetapkan dalam lembaran daerah, maka pengibaran bendera Aceh sudah dapat dilaksanakan.

Ditambahkannya, bendera dan lambang itu merupakan bentuk semangat dari masyarakat yang menginginkan Aceh tetap damai.

Hal serupa disampaikan anggota DPRK Abdya, Syamsuar, yang menyatakan, bendera dan lambang Aceh adalah semangat perdamaian rakyat Aceh serta sudah menjadi kewajiban setiap orang yang berdomisili di Aceh untuk memelihara, menjaga, menggunakan bendera dan lambang Aceh sebagai simbol keistimewaan, kekhususan dan kehormatan Aceh.

Aturan pengibarannya, bendera Aceh dikibarkan berdampingan dengan bendera Merah Putih dengan posisi tidak lebih tinggi dari Merah Putih.

Aceh Timur

Euforia pengesahan qanun lambang dan bendera Aceh oleh DPRA juga terasa di Aceh Timur. Selasa (26/3), puluhan pemuda dan masyarakat Kecamatan Peureulak, mengibarkan bendera bulan bintang yang dipusatkan di lapangan bola kaki Ampon Chik Thayeb, Peureulak Kota.

Selain itu, juga berlangsung konvoi sejumlah pemuda mengarak bendera Aceh di Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Ratusan masyarakat dengan menggunakan mobil dan sepeda motor berkonvoi sambil membawa bendera Aceh ke perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Puluhan mobil dan sepeda motor memasang bendera bulan bintang di mobil mereka.

“Konvoi pengibaran bendera bintang bulan kita pusatkan mulai dari Idi sampai perbatasan Aceh, dan diikuti tujuh sagoe yang berada di daerah IV Wilayah Peureulak,” kata Ketua KPA Daerah 4, Nurdin Aji alias Mando.

Aceh Utara dan Lhokseumawe

Bendera Aceh pada Senin (25/3) juga mulai diarak oleh masyarakat di Kota Lhokseumawe dan Lhoksukon, Aceh Utara mulai dari pukul 17.00 sampai pukul 18.00 WIB.

Pengamatan Analisa, ratusan pengendara sepeda motor dan mobil berkeliling kota Lhokseumawe dan Lhoksukon sambil memegang bendera GAM (Aceh) sambil membunyikan klatson mobil dan sepeda motor.

Tampak masyarakat sangat gembira dengan disahkan qanun tentang bendera dan lambing Aceh oleh DPRA.

Saat melintas pasar ikan Lhokseumawe sekitar pukul 17.00 WIB, rombongan konvoi ini sempat mengalihkan perhatian masyarakat yang sedang berbelanja.

Di Lhoksukon, konvoi hanya sampai di Desa Alue Buket atau sekitar dua kilometer Timur Lhoksukon. Sekitar pukul 18.00 WIB, rombongan konvoi kembali ke Lhokseumawe.

Di Kota Lhokseumawe, aksi pengibaran bendera Aceh ini berlanjut hingga kemarin. Selasa (26/3) sore, konvoi membawa bendera Aceh tetap mengendarai sepeda motor dan mobil pribadi.

Mereka melintasi Jalan Merdeka Kota Lhokseumawe sekira pukul 16.30 WIB, menuju bundaran simpang Jam, dengan melambai-lambaikan bendera ukuran kecil dan besar, kemudian menuju Jalan Samudera dan akhirnya ke arah keluar koat.

Konvoi ini juga berlangsung di jalan negara Medan-Banda Aceh yang juga sempat mengundang warga serta para pengguna jalan dengan bendera ukuran kecil dan basar dilambaikan massa yang mengangkaingi sepeda motor.

Ketua KPA Wilayah Samudera Pase, Zulkarnaini, yang dihubungi wartawan baru-baru ini memastikan pengibaran bendera bukan tindakan KPA atau PA karena secara institusi belum ada perintah dari provinsi walaupun secara hukum tidak bertentangan.

“Kami yakin itu dilakukan masyarakat karena antusias setelah mengetahui pengesahan qanun bendera bulan bintang sebagai bendera Aceh oleh DPRA karena masyarakat telah lama mendambakan bendera ini berkibar kembali seusai konflik,” tutupnya. (ags/ed/mar/kdn)
sumber: analisadaily

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *