TANGKAL LALAT BUAH DENGAN RUMPUT

Romanus Sembiring

Secara nasional, nilai impor jeruk negeri ini mencapai Rp 4 triliun pada tahun lalu. Angka yang cukup fantastis. Tapi apa mau dikata, impor terpaksa dilakukan karena produksi dalam negeri masih sangat kurang. Padahal, dilihat dari besarnya uang yang dikeluarkan para importir sebenarnya hal ini menjadi peluang yang menjanjikan bagi petani jeruk lokal termasuk petani di Sumatera Utara (Sumut) untuk melakukan budidaya.

Romanus Sembirin

Apalagi, Sumut sebagai penghasil jeruk tertinggi dan terluas areal produksinya di Indonesia, sangat memungkinkan untuk merebut kekosongan pasar tersebut.  Hanya saja, yang perlu diperhatian petani adalah meningkatkan kualitas  buah jeruk yang dihasilkan.

Sehingga pasar yang selama ini didominasi jeruk impor bisa bersaing dan mengusir jeruk-jeruk impor tersebut dari dalam negeri. Dan, untuk meningkatkan kualitas buah jeruk, tentunya dibutuhkan teknik bercocok tanam dan perawatan yang andal. Terutama dalam menghalau serangan hama dan penyakit terutama yang namanya lalat buah.

Hama yang satu ini bagai momok yang menakutkan bagi petani jeruk. Betapa tidak, buah yang telah diserang akan busuk dan rontok sehingga petani mengalami gagal panen. Ironisnya, serangan lalat buah ini telah pula mewabah di beberapa kawasan  sentra penghasil jeruk di Kabupaten Karo.

Serangan hama lalat buah yang belum teratasi secara maksimal, menyurutkan   semangat petani, seiring berkurangnya modal disebabkan gagal panen yang  terjadi beberapa kali. Biaya perawatan jeruk yang dapat dikatakan tidak sedikit membuat petani putus asa dan mengambil inisiatif beralih mencoba peruntungan ke komoditas lain, tanpa  berniat lagi melakukan peremajaan tanaman jeruk.

Tetapi sesungguhnya, niat dan kemauan merupakan modal utama dalam memaksimalkan perawatan tanaman jeruk. Seperti yang diutarakan petani jeruk,  Romanus  Sembiring Milala,  warga Jalan Mesjid  No 213 Berastagi, Karo ini, kepada MedanBisnis akhir pekan lalu, di ladangnya Desa Seribujandi.

Menurutnya, jeruk  tidak berbeda dengan makhluk hidup lainnya, yang membutuhkan perhatian, perawatan, makanan, dan gizi. Perbedaan manusia dengan hewan, dan  tumbuhan  terletak pada komunikasi. Pada hewan dan tumbuhan dibutuhkan observasi untuk mengetahui  kemauan serta kebutuhannya.

“Perawatan terhadap tanaman, khususnya jeruk tidak jauh berbeda dengan komoditas lainnya. Dosis penyemprotan,  pemupukan dan perlakuan lainnya  dilakukan sesuai kebutuhan tanaman, bukan  kemauan petaninya,” kata pria kelahiran Berastagi, 10 Oktober 1954 ini.

Semisal, penyemakan ladang jeruk belum banyak di pikiran petani. Menurut bapak 4 anak ini, harus disertai pemupukan yang seimbang. Rumput yang menjulang, berfungsi sebagai tempat berkembang biak  dan sumber makanan hama, karena daunnya lebih lunak.

Dengan demikian, secara otomatis musuh jeruk menjadi berkurang  dan kelembaban tanah tetap terjaga di musim kemarau. “Observasi jenis rumput yang tumbuh.  Lihat kondisi batang, daun, pucuk, bunga serta buah jeruk. Dari pengamatan dapat diprediksi kadar dan zat pupuk yang  dibutuhkan  jeruk dan rumput. Sehingga keduanya memiliki makanan yang cukup. Jangan khawatir menabur pupuk pada rerumputan, karena nantinya akan menjadi makanan unsur hara tanaman jeruk itu sendiri,” beber suami Dra Surianna Br Sinuhaji ini menjawab.

Pensiunan PNS Dinas Kesehatan Deliserdang ini mengatakan, dari uji coba yang dilakukannya pada tanaman jeruk, tumbuhnya rumput akan menekan pertumbuhan hama. Keuntungan lainnya usai dibabat,  daun rumput yang  membusuk akan membentuk mikro organisme yang membantu penguraian unsur hara dalam tanah.

Hasil  penguraian mikro organisme berdampak pada penggemburan tanah. Tanah yang gembur memudahkan akar tanaman  menyerap makanan. Alumni Asisten Apoteker (SAA) ini, mengatakan, melakukan pembabatan rumput per 4 bulan di musim kemarau dan per 3 bulan ketika curah hujan tinggi. “Jika bersih, tanah akan keras apalagi  musim kemarau. Saat  itu kadar air akan berkurang, dan menyulitkan tanaman menyerap makanan,” ucap Romanus.(ck  01)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *