POHON KARET MAHONI TUMBUH SUBUR DI MADINA

MADINA (Berita):Total produksi getah karet dari kebun rakyat yang ada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sangat berpeluang untuk pendirian pabrik atau remeling didaerah tersebut,hal itu dikatakan Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan Madina, Mara Ondak melalui Kasi Usaha Tani Ahmad Yasir Lubis SP kepada Berita di ruang kerjanya kemarin.

Dijelaskan, dari 23 kecamatan di Madina, semua memproduksi karet dengan total areal mencapai 72.159,28 Ha. Hasil pertahun mencapai 61.865,33 ton untuk tahun 2012.
Sedangkan perincian untuk tanaman karet masih produktif sekitar 46.122,19 Ha, kurang produktif seluas 21.451,74 Ha dan tanaman kareta yang belum berproduksi 4.585,35 Ha.
“Mandailing Natal memang sangat potensial untuk pengembangan pabrik/remeling bagi getah karet. Karena hingga saat ini belum ada berdiri di daerah kita ini. Apalagi jika kita lihat hasil produksi karet masyarakat, dan remeling ini tentunya akan mengakat harga penjualan tingkat petani,” ujarnya.

Sekitar lokasi komplek perkantoran Paya Loting tanaman pohon Mahoni dan Sengon yang sudah ditanam sekitar usia 5 tahun lebih tumbuh subur dengan besar dan banyak yang ditanam pihak Dinas Kehutanan Madina sepanjang pinggir jalan dari kiri-kanan semua lokasi kantor Bupati komplek perkantoran Paya Loting bahkan dipinggir jalan lintas Timur ditanami pohon Mahoni dan Sengon merupakan pohon yang cukup mahal harganya perkubik diperjual belikan dan biasanya pohon Mahoni dan Sengon jika sudah berusia 6 tahun bisa mencapai 2 kubik dan jika Mahoni dipasaran harga biasa diperjual-belikan perkubik sekitar Rp 20 juta .
Untuk data di 33 kabupaten/ kota di Sumatera Utara, Madina memang termasuk paling besar areal kebun rakyat. Berbeda dengan kabupaten lainnya pada umumnya itu perkebunan besar.

“Hingga saat ini yang mengelola tanaman karet semuanya adalah masyarakat belum ada satu perusahaanpun yang mengelolanya. Sehingga hasil deresan berbentuk Lump Mangkok atau kantalan berbeda dengan hasil perkebunan,” ujarnya.
Namun sayangnya, kata Yasir, harga atau margin hasil getah karet masyarakat tersebut cukup rendah ditingkat pengumpul atau toke. Sebab banyaknya mata rantai hingga sampai ke pabrik. “Nah inilah makanya kenapa perbedaan harga bisa mencapai Rp 10.000 per kg dari daerah lain yang ada pabriknya,” jelasnya.
Berpengaruh
Kondisi penghasilan masyarakat Madina yang pada umunya dari getah karet terlihat jelas disetiap pasar – pasar tradisional yang ada di daerah ini. Karena jika harga getah karet turun otomatis keadaan pasar akan sepi.
“Kita akui keterkaitan pasar dengan harga karet sangat mempengaruhi, hal ini bisa kita buktikan jika harga karet anjlok para pedagangpun di pasar – pasar akan merasakan dampaknya,” ungkapnya.
Karena itu katanya, program mereka ke depannya akan berupaya bersama dengan masyarakat meremajakan ribuan hektar tanaman karet yang sudah tua dan kurang produktif lagi. Sehingga dengan demikian ekonomi masyarakat terangkat.(Isk/Mfr)
sumber: beritasore

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *