BANGGA SEBAGAI PETANI JERUK

Bagi Romanus Sembiring Milala, petani merupakan pekerjaan yang mulia dan membanggakan. Bagaimana tidak, uang dari hasil panen jeruk dapat dinikmati  tanpa ada beban dalam hati, karena murni seluruhnya dari hasil keringat dan kerja kerasnya bersama sang istri, Surianna Br Sinuhaji.
Keuntungan dari hasil panen jeruk setiap tahunnya sesuai keterangan ayah dari Ivo Ignatius, Drg. Bernadetta, Veronika, dan Givani itu, diperoleh dengan sangat memuaskan.  Itu dipersentasikan dari modal yang ditanam dengan perolehan hasil penjualan jeruk manis miliknya.

Dalam satu hektare lahan tanaman jeruk ukuran jarak 6×6 meter per segi diperoleh  275 batang. sementara biaya produksi setahun yang dikeluarkan, untuk biaya seorang tenaga kerja hitungan 26 hari per bulan  dikali Rp 50 ribu (upah) per hari mencapai  Rp 1,3 juta. Berarti dalam setahun upah tenaga kerja, Rp 18 juta.

Kemudian, biaya penyemprotan di mana setiap penyemprotan membutuhkan biaya Rp 600 ribu (usia jeruk 6-8 tahun) yang dilakukan setiap minggu atau Rp 600 ribu x 52 minggu maka pengeluaran mencapai Rp 31.200.000.

Sementara untuk pemupukan sendiri, Romanus mengatakan tergantung target. Satu kilogram pupuk ditargetkan menghasilkan buah 10 kg. Biaya pupuk 275 batang x harga dan jenis pupuk.
Singkatnya, biaya produksi perbatang jeruk sekitar  Rp 600 ribu setahun. Dengan begitu, Rp 600 ribu x 275  batang maka total biaya produksi yang dikeluarkannya dalam setahun berkisar Rp 165 juta. Atau sama dengan  menanam modal Rp 3 ribu per kilogram pada buah jeruk. Sedangkan target setahun, per batangnya mampu menghasilkan 200 kg.

Apabila jeruk dijual dengan harga minimal (ukuran sedang dan besar) senilai Rp 8 ribu perkilogram, maka  penghasilan bruto setahun petani jeruk mencapai Rp 440 juta atau Rp 8 ribu per kilogram x 200 kg buah per batang x 275 batang  per hektare.

Laba bersih setahun, dari penjulan jeruk Rp 440 juta dikurang  modal Rp 165 juta, maka laba yang diperoleh  berkisar Rp 275 juta atau Rp 22,91 juta per bulan. “Gaji saya sebagai petani jeruk Rp 22, 91 juta setiap bulannya. Bagaimana tidak bangga menjadi petani. Bayangkan jika jeruk saya lebih dari satu hektare atau penjualan di atas harga  Rp 8 ribu,”  ujarnya berkelakar.

Hingga saat ini lahan jeruk produktif yang diusahai Romanus Sembiring Milala, sekitar dua hektare. Namun ilmu  pengetahuan bercocok tanam jeruk ini, diakuinya  bukan diperoleh dengan sendirinya. Gemar membaca buku dan majalah pertanian, khususnya jeruk  merupakan modal awalnya, ditambah eksperimen dan observasi lapangan.

“Saya bangga mendahului zaman. Tetapi bila berani mendahului zaman, harus  siap dikatakan orang gila. Apa yang saya lakukan, khususnya pada jeruk banyak tidak masuk akal orang lain. Saya tidak peduli apa kata orang, tetapi yang pasti lihat hasilnya. Bukan tidak mau membantu  petani lain, saya siap menjadi konsultan, mari buat hitungan dan perjanjian,” ucap Roman tertawa.(ck 01)
sumber: medanbisnisdaily

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *