TAK TAHU MALU, POLISI TERUS BELA PENGUSAHA, WARGA DIKORBANKAN

[MADINA] Perseteruan antara masyarakat dari Desa Jambur Padang Matinggi, Kecamatan Panyabungan Utara dan Kecamatan Naga Juang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dengan PT Sorik Mas Maining (SMM), yang berakhir bentrokan dengan polisi, ternyata belum berakhir.

Bahkan, masyarakat dari dua kecamatan tersebut meminta aparat yang selama ini menjadi lawan, bersikap netral.

Selain itu, aparat diminta jangan lebih membela kepentingan perusahaan tambang emas di sana. Masyarakat tidak puas jika selalu dikorbankan.

“Perlawanan masyarakat tidak akan pernah surut meski aparat selalu melakukan penangkapan terhadap masyarakat. Masyarakat akan terus berjuang,” ujar seorang tokoh di Naga Juang, Mangaraja Muda Lubis kepada SP saat dihubungi dari Medan, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (23/3).

Menurutnya, benturan antara aparat dengan masyarakat sudah tidak kali terjadi selama 3 bulan ini.

Masyarakat memberikan perlawanan karena bentuk pengamanan yang dilakukan aparat terkesan lebih membela kepentingan PT SMM tersebut. Kondisi ini membuat masyarakat semakin marah.

“Ini merupakan bentuk perlawanan dari masyarakat yang tidak puas dengan pemerintah. Pemerintah yang diduga bekerjasama dengan perusahaan tambang, sama sekali tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah tanah. Wajar jika masyarakat memberikan perlawanan,” katanya.

Dia mengatakan, jika tanah warga di Bukit Sambung yang mempunyai luas sekitar 30 hektar pemerintah, dipastikan benturan itu tidak terjadi. Sebaliknya, pemerintah melalui aparat justru melakukan penangkapan setiap mempersoalkan lahan itu.

Sebaliknya, penambangan oleh perusahaan yang diduga belum dilengkapi izin itu, tidak pernah ditangkap.

Ketua Jaringan Advokasi Tambang Rakyat Mandailing Natal, Miswar Daulay menjelaskan, bentrokan antara warga dengan aparat, Jumat (22/3) kemarin, dipicu oleh penangkapan puluhan warga oleh polisi saat memasuki lokasi Taman Nasional Batang Gadis, sekitar 520 kilometer dari kota Medan.

“Penangkapan oleh aparat itu spontan membuat ribuan masyarakat merasa keberatan. Masyarakat kemudian melakukan pemblokiran jalan lintas menuju Madina dan Medan. Kondisi ini membuat aparat turun untuk membubarkan aksi tersebut. Bentrokan pun tidak terelakkan,” katanya.

Tidak ada korban jiwa dalam bentrokan tersebut. Berdasarkan laporan dari masyarakat, pertikaian itu mengakibatkan kerusakan kendaraan aparat dan masyarakat sekitar. Sebab, saat kejadian bentrokan, masyarakat memberikan perlawanan dengan melempari batu ke aparat.

Sebelumnya, Kapolres Mandailing Natal AKBP Ahmad Fauzi Dalimunthe menyatakan, tidak ada penangkapan terhadap puluhan warga itu.

Polisi hanya mengamankan warga untuk mengantisipasi pertikaian antara karyawan perusahaan dengan masyarakat sekitar. [155]
sumber: suarapembaruan

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *